Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Industri Air Kemasan Makin Besar tapi Isu Lingkungan dan Regulasi Jadi Tantangan Serius: Ini Komitmen Amdatara demi Kemajuan

Winda Atika Ira Puspita • Senin, 12 Januari 2026 | 18:22 WIB

Ketua Umum Terpilih Amdatara Karyanto Wibowo.
Ketua Umum Terpilih Amdatara Karyanto Wibowo.


RADAR JOGJA - Industri air minum dalam kemasan (AMDK) di Indonesia terus tumbuh pesat dengan nilai pasar mencapai puluhan triliun rupiah per tahun.

Namun di balik ekspansi tersebut, persoalan lingkungan, regulasi, hingga persepsi publik soal pengelolaan sumber daya air menjadi tantangan.

Isu itu mengemuka seiring terbentuknya Perkumpulan Usaha Air Dalam Kemasan Nusantara (Amdatara), asosiasi baru yang menaungi pelaku industri AMDK dan resmi berdiri pada Desember 2026.

Amdatara dibentuk sebagai wadah kolaborasi untuk merespons dinamika industri air kemasan yang semakin kompleks.

Ketua Umum Terpilih Amdatara Karyanto Wibowo mengatakan, asosiasi ini berdiri sebagai respons terhadap kebutuhan akan wadah resmi untuk menyatukan pelaku industri agar bersama-sama mengatasi tantangan dan membangun masa depan yang lebih sehat bagi masyarakat Indonesia.

“Sebagai ketua umum, saya yakin Amdatara akan menjadi katalisator bagi kemajuan industri AMDK, dengan fokus pada kolaborasi, integritas, dan keberlanjutan,” ujarnya.

Dia menegaskan, sebagai rumah bagi industri AMDK yang berkualitas, berdaya saing, dan berkelanjutan, Amdatara siap membangun kolaborasi solid, memastikan kepatuhan regulasi, dan mendorong inovasi untuk menjaga kualitas produk, serta kontribusi positif terhadap lingkungan dan masyarakat.

"Ke depan, asosiasi ini akan berperan sebagai platform kolaborasi antaranggota, advokasi kebijakan dengan pemerintah, edukasi publik tentang hidrasi sehat, sumber daya air pengelolaan sampah kemasan, standardisasi kualitas melalui SNI dan sertifikasi, serta penguatan investasi," katanya.

Menurutnya, asosiasi ini juga berkomitmen mendukung transformasi industri menuju era 4.0, penerapan teknologi ramah lingkungan, dan sinergi lintas sektor untuk pertumbuhan ekonomi nasional.

Terlebih asosiasi ini didukung puluhan perwakilan anggota dari seluruh Indonesia, termasuk perwakilan dari Sumatra Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Sulawesi Utara serta beberapa daerah lain di Indonesia.

Pembentukan Amdatara ini disambut positif Kementerian Perindustrian (Kemenperin). Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar di Direktorat Jenderal Industri Agro, Kemenperin, Merrijantij Punguan Pintaria, berharap kehadiran Amdatara ini memiliki peran strategis dalam mensinergikan pelaku industri AMDK dengan kebijakan pemerintah.

“Saya berharap melalui kolaborasi yang konsisten, kita dapat mendorong transformasi menuju industri yang berkelanjutan, berdaya saing, dan memberi manfaat bagi masyarakat,” jelasnya.

Dia menyampaikan efek ganda keberadaan industri AMDK sangat luas dan berdampak positif terhadap tumbuhnya sektor perekonomian lainnya seperti jasa transportasi, penjualan retail, dan industri pendukung lainnya.

"Karenanya, kami memberikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada para pelaku usaha industri AMDK yang telah ikut berperan serta mengembangkan sektor industri minuman,” ucapnya.

Baca Juga: Piki Purba, Guru yang Ajarkan Menyetrika di Sekolah, Alasannya Bikin Kagum

Industri AMDK di Indonesia saat ini mengalami ekspansi signifikan, dengan nilai pasar mencapai puluhan triliun rupiah per tahun dan pertumbuhan tahunan rata-rata 5-8 persen.

Dimulai pada 1973, hanya ada satu pabrik AMDK dengan kapasitas 6 juta liter per tahun.

Kondisi ini terus berkembang hingga saat ini terdapat 707 pabrik dengan lebih dari 2.000 merek, dan total kapasitas produksi hingga 47 miliar liter per tahun.

Baca Juga: Sidang Korupsi Mantan Bupati Sleman Sri Purnomo, Saksi Ungkap Keterlibatan Harda Kiswaya Dalam Pembahasan Pedoman Penerima Dana Hibah

Sektor ini menyerap hingga 46.000 tenaga kerja langsung dan berkontribusi pada ekspor makanan dan minuman, dengan tingkat utilisasi di atas 70 persen selama lima tahun terakhir.

Didorong oleh pertambahan penduduk, urbanisasi, perubahan gaya hidup, dan kesadaran kesehatan masyarakat, AMDK menjadi solusi utama untuk hidrasi aman dan higienis, terutama di segmen air mineral, air mineral alami, dan air demineral sesuai regulasi BPOM.

Meski demikian, industri AMDK menghadapi tantangan ke depan yang semakin kompleks, termasuk implementasi SNI wajib, persepsi publik terkait pengelolaan sumber daya air, regulasi migrasi BPA pada kemasan, ketidaksinkronan regulasi pusat-daerah, pengelolaan sampah kemasan, penerapan extended producer responsibility (EPR) yang inklusif, pajak air serta kompetisi ketat di pasar.

Industri AMDK juga menuntut adaptasi terhadap tren seperti penerapan ekonomi sirkular, digitalisasi, dan sertifikasi halal. 

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#amdk #industri air minum #air mineral #AMDATARA #Wibowo