GUNUNGKIDUL - Jauh sebelum irigasi modern dikenal luas, warga Padukuhan Ngrandu, Kalurahan Katongan, Nglipar, telah menggantungkan hidup pada sumber mata air kecil yang mengalir tanpa henti. Sumber air di lahan milik Mbah Parno (85) itu menjadi nadi kehidupan warga. Mulai kebutuhan domestik hingga pertanian yang kini berkembang maju.
Mbah Parno yang lahir pada 1940, masih mengingat dengan jelas bagaimana sumber air itu menjadi tumpuan ratusan kepala keluarga pada masa itu. "Sejak saya lahir, sumber mata air ini sudah dimanfaatkan warga untuk makan, minum, mencuci. Tapi dulu belum dipakai untuk pertanian, karena kebutuhan rumah tangga lebih mendesak," tuturnya saat ditemui di dekat lokasi sumber pada Kamis, (27/11/2025).
Mbah Parno mengaku pada masa itu pertanian masih mengandalkan sistem tadah hujan. Warga hanya bisa menanam padi sekali dalam setahun karena tak ada pasokan air lain yang bisa diandalkan. Transformasi pola pertanian mulai terjadi pada era 1970-an, seiring program pembangunan sumur galian di tiap rumah pada masa Presiden Soeharto.
Semenjak itu, menurutnya, warga sudah tidak lagi sepenuhnya bergantung pada satu sumber air untuk kebutuhan domestik. Kondisi ini memberi ruang bagi pemanfaatan air untuk pertanian.
"Begitu domestik sudah terpenuhi dari sumur-sumur baru, warga sepakat memanfaatkan sumber ini untuk sawah. Tahun pertama saja sudah bisa panen tiga kali. Airnya rata, sampai ujung timur dan utara pun kena semua,” ujar Mbah Parno.
Keunikan sumber ini bukan hanya pada aliran permukaan, tetapi juga rembesan tanah yang tetap muncul saat kemarau panjang. Petani hanya perlu menggali lubang kecil untuk memunculkan genangan air sebagai sumber irigasi. Adaptasi ini telah dilakukan turun-temurun.
Sumber mata air itu berada di atas lahan pribadi milik Mbah Parno. Namun, sejak dulu ia tidak pernah menerima imbalan atau memungut biaya dari petani pengguna air. Keyakinan agamanya menjadi dasar prinsip itu.
“Dalam ajaran Islam, sedekah terbaik itu sedekah air. Jadi 30-an petani yang pakai air ini ya gratis. Saya senang bisa bantu,” ucapnya.
Bagi Mbah Parno, air bukan hanya soal kebutuhan pertanian, tetapi juga jembatan sosial. Ia bahkan telah mewariskan pesan kepada anak-cucunya agar sumber itu tidak pernah diperjualbelikan.
"Ini titipan. Saya sudah pesankan, sumber ini harus tetap gratis selama-lamanya. Ini yang menyatukan warga, saling bantu karena sumbernya satu,” katanya.
Untuk menjaga keberlanjutan, warga secara bergilir melakukan pembersihan area sumber. Pada awal 2000-an, dibuatlah cor melingkar sebagai pelindung permukaan tanpa menutup jalur air, guna menjaga area rembesan tetap bekerja optimal.
Salah seorang petani yang memanfaatkan air dari lahan Mbah Parno, Suminah mengakui betapa vitalnya sumber itu. "Petani di sini nggak akan bisa panen tiga kali setahun kalau tanpa sumber air itu. Di gratiskan pula, kami sangat bersyukur. Nilainya besar sekali kalau dinilai, tapi alhamdulillah diberikan cuma-cuma. Jadi kami bisa tenang bertani," tambahnya. (bas/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita