Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Cerita FX Harminanto, Kenangan Gol Pakai Tangan hingga Cinta yang Tak Pernah Mati untuk PSIM Jogja

Fahmi Fahriza • Jumat, 15 Agustus 2025 | 03:08 WIB

FX Harminanto saat masih berseragam PSIM Jogja medio 2007-2012.
FX Harminanto saat masih berseragam PSIM Jogja medio 2007-2012.
JOGJA - Fransiscus Xaverius Harminanto atau akrab disapa  Harminanto merupakan salah satu mantan pemain yang pernah menjadi bagian penting dalam sejarah PSIM Jogja.

Perjalanannya bersama Laskar Mataram dimulai pada musim 2007, setahun setelah gempa besar yang melanda Jogja 27 Mei 2006. Saat itu dia baru berusia 17 tahun.

Bagi remaja SMA kala itu, bisa bermain di kasta tertinggi sepak bola nasional adalah mimpi yang menjadi nyata. 

"Dream come true, impian banyak anak muda saat itu, antara di PSIM atau PSS. Luar biasa bangga," ujar Harminanto saat berbincang dengan Radar Jogja, Rabu (13/8/2025).

Sebelum dikontrak PSIM, ia baru saja pulang dari ajang Asian School 2006 bersama Timnas Pelajar Indonesia.

Tak lama kemudian, ia bergabung dengan PSIM U-18 yang diproyeksikan untuk Piala Soeratin dan Pra-PON DIY.

Akhirnya pada musim 2007, kontrak profesional langsung datang. Saat itu, sistem kontrak PSIM berlaku per tahun tanpa ikatan jangka panjang. Harminanto bertahan selama lima musim hingga 2012. 

Tahun pertama menjadi momen spesial karena ia menjadi salah satu pemain termuda di liga profesional. Bersaing usia dengan Ramdani Lestaluhu yang kala itu dikontrak Persija Jakarta.

"Ramdani itu usianya mungkin selisih beberapa bulan dengan aku. Dia teman satu kamarku saat di Timnas Asian School," ujarnya.

Ia mengenang menjalani peran sebagai siswa SMA kelas 3 sekaligus pemain profesional bukan perkara mudah.

Diungkapkan, saat itu PSIM memiliki pola latihan dua kali sehari, pagi dan sore. Namun ia mendapat keringanan absen latihan pagi demi fokus sekolah. 

Sebagai gantinya, Harminanto rutin berlatih sendiri pukul 05.00 pagi setiap harinya. Berdasarkan program dari staf pelatih, kebiasaan itu dijalaninya hampir setahun penuh hingga ia lulus SMA.

Baca Juga: Fakta Baru, Pengemudi Honda Jazz yang Ngeblong Lampu Merah dan Tabrak Pemotor Pasutri di Perempatan Bugisan Jogja Ternyata Masih Pelajar

Setelah lulus SMA, ia melanjutkan kuliah di Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) jurusan Ilmu Komunikasi. Padatnya jadwal sepak bola membuat banyak mata kuliahnya tertunda, hingga ia baru lulus setelah tujuh tahun. 

"Prioritasku dulu main bolanya. Jadi banyak mata kuliah yang harus mengulang. Lulus tujuh tahun karena ngulang, tidak ada keringanan atau kuliah online dulu," bebernya.

Selama berkarir profesional, tepatnya di tahun 2009, ia pernah mengalami cedera engkel cukup parah. Meski pulih dan sempat bermain lagi, kondisi mental dan fisiknya tak sepenuhnya kembali. 

"Mentality tidak sembuh sempurna. Jadi harus kompromi sama banyak hal. Akhirnya fokus selesaikan kuliah," ujarnya.

Situasi sepak bola nasional yang penuh gejolak pada 2013–2014, termasuk dualisme liga, membuatnya mengambil keputusan besar. Gantung sepatu pada 2014 dan beralih profesi menjadi jurnalis. 

Meski tak lagi di lapangan, Harminanto tetap dekat dengan PSIM lewat pekerjaannya di dunia media. Ia sudah lebih dari satu dekade meliput berita PSIM. 

"Seru bisa mengawal PSIM dari perspektif yang lain. Perannya beda. Jadi bisa mengamati lebih luas," tuturnya.

Kembalinya PSIM ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia pada 2025, setelah 18 tahun penantian, menjadi salah satu momentum besar yang ia syukuri. 

"Tentu senang, tim ini harus ditata dengan baik. Tidak ada yang ditinggalkan atau disakiti hatinya. Semoga panjang umur di kompetisi teratas," harapnya.

Dari sekian banyak laga yang sudah ia jalani dengan PSIM, ada satu momen yang tak pernah hilang dari ingatannya. Pada kompetisi 2008 melawan Persekabpas Pasuruan di Stadion Mandala Krida, Jogja.

Saat itu Harminanto berhasil mencetak gol tunggal kemenangan bagi PSIM. Menariknya, gol itu sejatinya ia cetak menggunakan tangannya.

"Sebenarnya itu sundulan kepala, tapi karena reflek jadi kena tangan. Golnya tetap disahkan dan PSIM menang," kenangnya sambil tersenyum. (iza/laz)

 

Editor : Herpri Kartun
#UAJY Jogja #Stadion Mandala Krida #PSS #ramdani lestaluhu #Dream Come True #Yogyakarta #Stadion Mandala Krida Jogja #PSIM U18 #persija jakarta #ilmu komunikasi #Laskar Mataram #harminanto #Asian School 2006 #Universitas Atma Jaya Yogyakarta #SMA kelas 3 #persekabpas pasuruan #timnas pelajar indonesia #Jogjakarta #Jogja #PSIM Jogja