Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

BPS Ungkap dalam 10 Tahun Terakhir, 153 Ribu Petani di DIY Tinggalkan Sektor Ini

Fahmi Fahriza • Senin, 23 Juni 2025 | 14:05 WIB
Kepala BPS DIY Herum Fajarwati
Kepala BPS DIY Herum Fajarwati

BANTUL - Krisis regenerasi petani dan menyusutnya lahan pertanian menjadi tantangan nyata yang dihadapi DIY dalam beberapa tahun terakhir. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY Herum Fajarwati menyampaikan, jumlah petani dan luas lahan sawah di DIY memang mengalami penurunan dalam satu dekade terakhir.

Dari data Sensus Pertanian yang dilakukan tiap 10 tahun sekali menunjukkan penurunan cukup tajam. Dari 2013 ke 2023, jumlah usaha pertanian perorangan di DIY turun dari 584.689 menjadi 431.113 unit. Penurunan itu mencapai 26,26 persen, atau sekitar 153 ribu petani yang meninggalkan sektor ini.

"Banyak yang beralih ke sektor informal. Faktor lain yang mendorong penurunan itu alih fungsi lahan dan menurunnya minat generasi muda untuk terjun ke dunia pertanian," katanya kepada Radar Jogja Minggu (22/6).

Sementara untuk urusan lahan, data resmi dari Kementerian ATR/BPN yang dikutip BPS DIY juga menunjukkan tren serupa. Pada 2019, luas baku lahan sawah di DIY tercatat sebesar 76.273 hektare. 

Namun berdasarkan SK terbaru yang diterima akhir 2024 lalu, angkanya menyusut menjadi 67.027 hektare. Artinya, selama lima tahun DIY kehilangan sekitar 9.000 hektare lahan sawah atau sekitar 11,8 persen dari total sebelumnya.

"Luas baku sawah itu ditetapkan ATR/BPN dan BPS bertugas mengukur produktivitasnya. Secara umum trennya menurun. Tapi BPS tidak mencatat penurunan tahunan secara rinci," tambah Herum.

Dari lima kabupaten/kota di DIY, Kabupaten Gunungkidul masih menjadi wilayah dengan luasan lahan pertanian terbesar. Herum mengungkapkan hampir 60 persen sektor pertanian DIY berada di wilayah ini. 

Meski begitu, tantangan tetap besar. Padi masih mendominasi jenis tanaman di DIY, namun efisiensinya terus dibayangi isu keterbatasan lahan, peralihan profesi, dan teknologi yang belum merata.

Herum menyebut generasi muda belum secara masif masuk ke industri pertanian. "Alat dan teknologi modern yang mahal jadi alasan. Meski kini bermunculan petani milenial yang membawa inovasi," katanya.

Di tengah tantangan itu, Herum mengingatkan pertanian tetap perlu disokong dan terus dioptimalkan untuk menjadi sektor strategis. 

"Pangan ini menyangkut banyak hal, mulai inflasi hingga ketahanan daerah. Walau DIY tidak di-setting sebagai daerah agraris, kita tetap butuh sistem distribusi pangan yang kuat," tandasnya. (iza/laz)

 

 

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#regenerasi #Pertanian #Kementerian ATR/BPN #BPS DIY #Badan Pusat Statistik (BPS) #krisis #lahan pertanian #alih fungsi lahan #lahan sawah #DIY #Sektor #Petani