Setidaknya, ada 359 telaga yang masih kerap dimanfaatkan warga. Pemanfaataannya mulai dari wisata, perikanan, maupun pertanian.
Namun, saat kemarau panjang, telaga tidak dapat lagi dimanfaatkan.
Aktivitas di sekitarnya pun terhenti lantaran kering. Hampir 95 persen sumber air telaga berasal dari tadah hujan.
Hal itu diungkapkan oleh Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Pemukiman (DPURPKP) Sigit Swastono saat ditemui di kantornya, Jumat (18/10).
"Secara jumlah kami tidak bisa hitung berapa yang kering, namun pantauan kami di lokasi sekitar 95 persen dalam kondisi kering," ujar Sigit kepada awak media.
Mekanisme pemanfaatan air telaga, kata Sigit, masih dengan cara tradisional oleh warga sekitar.
Baik untuk dijadikan sebagai tempat pemancingan maupun irigasi pertanian.
Secara umum, rata-rata luasan telaga di Gunungkidul berkisar 10 x 30 meter persegi.
Telaga tadah hujan sendiri dapat mengering jika tidak terjadi hujan selama tiga bulan penuh.
Pihaknya tak menapik, bencana kekeringan juga berdampak pada ekosistem telaga.
Tak sedikit warga menabur benih ikan air tawar degan tujuan akan pemancingan.
"Kalau tampungan air berkapasitas besar, tapi kalau musim kemarau pasti kering, biasanya dapat terisi penuh setelah hujan terjadi secara berturut-turut selama sebulan," ucapnya.
Menjaga keberadaan telaga sendiri, DPURPKP Gunungkidul berupaya melakukan sejumlah program rehabilitasi baik pendangkalan hingg membuat tanggul.
Sebab, kata Sigit, telaga di Gunungkidul menjadi sumber penghidupan warga.
"Kalau sudah dalam kondisi kering, biasanya telaga beralihfungsi seperti dijadikan lapangan olahraga maupun kegiatan lainnya oleh masyarakat," tuturnya.
Kendati demikian, pihaknya menyebut ada beberapa telaga yang tidak mengalami kekeringan seperti Telaga Jonge, Mumang, Winong, Thowet, Ngamberan, dan Mboromo. Mayoritas air dari telaga tersebut berasal dari mata air.
Radar Jogja juga mendatangi telaga-telaga yang dalam kondisi kering seperti Telaga Budegan dan Piyaman 1 di Kalurahan Piyaman, Kapanewon Wonosari, Gunungkidul.
Menurut warga sekitar Sarifudin (54), telaga telah mengering sudah selama enam bulan lamanya. Telaga Piyaman 1 kerap kali dimanfaatkan warga untuk pemancingan. Karang Taruna setempat rutin menabur benih ikan air tawar.
"Biasanya untuk pemancingan, kami bikin pamflet membuka usaha pemancingan," ujar Sarifudin.
Diakuinya, telaga tidak memilik mata air, sehingga sumber air berasal dari tadah hujan.
Dia mengatakan, selama dalam kondisi kering tak ada lagi aktivitas warga di sekitar telaga.
Editor : Bahana.