Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sebelas Sekolah Jadi Pilot Project Program Adiwiyata, DLH Kabupaten Magelang Pacu Aksi Jenaka

N
Penulis: Naila Nihayah❯
Para siswa, guru, hingga ASN berpartisipasi dalam gerakan mengumpulkan sampah organik.
Para siswa, guru, hingga ASN berpartisipasi dalam gerakan mengumpulkan sampah organik.

Advertisement

 

 

 

Advertisement

MUNGKID - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Magelang memilih sebelas sekolah untuk menjadi pilot project program Adiwiyata 2026. Sekolah-sekolah tersebut tersebar di berbagai jenjang pendidikan. Mulai dari SD hingga SMK, termasuk sekolah umum maupun berbasis keagamaan.

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup, DLH Kabupaten Magelang Uswatun Wulandari menyebut, dari total 1.223 sekolah, baru 153 sekolah atau sekitar 12,46 persen yang berstatus Adiwiyata.

Rendahnya capaian ini mendorong DLH untuk mempercepat program melalui inisiatif Aksi Akselerasi Jaringan Kerja Adiwiyata atau Aksi Jenaka pada 2026. Program ini tidak sekadar memperluas jumlah sekolah Adiwiyata, tetapi juga menata ulang pendekatan dengan melibatkan lebih banyak pihak di luar sekolah.

Uswatun menilai, selama ini implementasi Adiwiyata masih belum optimal, baik dari sisi pemahaman maupun praktik di lapangan. Sehingga akselerasi perlu dilakukan melalui pembangunan jejaring multipihak agar program tidak berjalan parsial. "Tujuannya mewujudkan pelaksanaan program yang lebih optimal melalui penguatan jaringan kerja lintas sektor," ujarnya, Kamis (28/5).

Sebagai langkah awal, DLH menetapkan 11 sekolah sebagai pilot project program Adiwiyata 2026. Ke-11 sekolah tersebut antara lain SMKN 1 Salam, SLB Ma’arif Muntilan, SMP Muhammadiyah Inovatif Mertoyudan, dan SMP Pangudi Luhur Srumbung.

Kemudian, MTsN 1 Borobudur, SDN Girikulon Secang, SDN Karanganyar Borobudur, dan SD Kanisius Sukorejo 2 Mertoyudan. Selain itu, ada pula SD Muhammadiyah 1 Muntilan, MIN 5 Magelang di Borobudur, serta SMPN 2 Borobudur.

Penunjukan sekolah percontohan ini, kata dia, menjadi pintu masuk untuk menguji efektivitas model kolaborasi yang ditawarkan dalam Aksi Jenaka. Dia berharap, pendekatan tersebut dapat direplikasi ke sekolah lain dalam waktu relatif cepat.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar JogjaIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

BGN Uji Coba MBG Prasmanan pada Dua Sekolah di DIY, Kepuasan Capai Skor 5/5

BGN Uji Coba MBG Prasmanan pada Dua Sekolah di DIY, Kepuasan Capai Skor 5/5

Badan Gizi Nasional (BGN) menguji coba layanan Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan metode prasmanan di dua sekolah di DIY. Pada hari pertama pelaksanaan, tingkat kepuasan siswa dan guru di kedua sekolah mencapai skor 5...

Bantaran Sungai Diproyeksikan Jadi Wisata Alternatif di Kota  Jogja, ini yang Dilakukan Pemkot Jogja

Bantaran Sungai Diproyeksikan Jadi Wisata Alternatif di Kota Jogja, ini yang Dilakukan Pemkot Jogja

Pemkot Jogja mulai mengembangkan kawasan bantaran sungai sebagai destinasi wisata alternatif berbasis budaya dan pemberdayaan masyarakat. Program yang diawali dengan normalisasi dan bersih-bersih sungai itu kini memasuki

Hadirkan Restorative Justice di Tingkat Kalurahan, Pemkab Kulon Progo Segera Bentuk Pilot Project Kampung Redam

Hadirkan Restorative Justice di Tingkat Kalurahan, Pemkab Kulon Progo Segera Bentuk Pilot Project Kampung Redam

Pemkab Kulon Progo berencana membentuk Kampung Rekonsiliasi dan Perdamaian (Redam). Pembentukan kampung ini dirancang untuk menangani potensi konflik dan permasalahan sosial dengan restorative justice di tingkat kalurah

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer