RADAR JOGJA – Gurun Sahara, yang dikenal sebagai salah satu tempat paling tandus dan panas di dunia, jarang sekali mendapatkan curah hujan.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, banjir mengejutkan terjadi di beberapa wilayah Sahara, menarik perhatian global.
Fenomena alam yang sangat langka ini menunjukkan dampak nyata dari perubahan iklim yang kini turut memengaruhi daerah-daerah dengan kondisi iklim ekstrem.
Peristiwa banjir di Gurun Sahara tidak hanya luar biasa karena sifatnya yang jarang, tetapi juga karena besarnya intensitas hujan yang turun dalam waktu singkat.
Gurun yang selama ini kering dan gersang tiba-tiba dihujani curah hujan tinggi, yang biasanya hanya terjadi sekali dalam beberapa dekade.
Hujan lebat ini menyebabkan tanah kering Sahara tidak mampu menyerap air dengan cepat, memicu banjir bandang yang melanda permukaan gurun dan menyapu bersih apa pun yang dilewatinya.
Kejadian ini memperkuat bukti bahwa pemanasan global dan perubahan iklim membawa dampak besar di seluruh dunia, termasuk di wilayah gurun yang biasanya kering dan panas.
Pola cuaca ekstrem seperti hujan lebat yang kini lebih sering terjadi di Gurun Sahara adalah cerminan dari perubahan besar dalam atmosfer.
Pergeseran pola angin dan kenaikan suhu global berperan dalam menciptakan kondisi cuaca yang sulit diprediksi.
Banjir di Gurun Sahara tidak hanya menyoroti dampak langsung perubahan iklim, tetapi juga memunculkan kekhawatiran tentang bagaimana perubahan ini akan mempengaruhi ekosistem lokal, pola migrasi hewan, dan kehidupan masyarakat yang telah beradaptasi dengan kondisi gurun selama ribuan tahun.
Fenomena seperti ini, jika terus berlanjut, dapat mengubah cara hidup tradisional yang selama ini bergantung pada kondisi kering.
Salah satu daerah yang paling terdampak adalah wilayah Tata, yang mengalami hujan deras dalam waktu singkat.
Di desa Tagounite, sekitar 450 kilometer selatan ibu kota Maroko, Rabat, curah hujan mencapai lebih dari 100 milimeter hanya dalam 24 jam, angka yang jauh melebihi rata-rata tahunan daerah tersebut, yang biasanya kurang dari 250 milimeter per tahun.
Pemerintah Maroko mencatat bahwa hujan yang terjadi pada bulan September tahun ini jauh melampaui rata-rata tahunan di beberapa wilayah.
Houssine Youabeb, Direktur Jenderal Meteorologi Maroko, menyatakan, “Sudah 30 hingga 50 tahun sejak kami terakhir kali menerima hujan sebanyak ini dalam waktu singkat.”
Pernyataan ini menyoroti betapa langkanya fenomena hujan seperti ini dalam beberapa dekade terakhir, sekaligus menjadi indikator kuat perubahan iklim yang lebih luas di kawasan Sahara.
Dengan semakin seringnya peristiwa cuaca ekstrem di wilayah gurun, para ilmuwan menyoroti pentingnya penelitian lebih lanjut terkait dampak perubahan iklim di kawasan ini.
Sahara yang lebih basah dari biasanya dapat mengubah tidak hanya lanskapnya, tetapi juga keseimbangan alam dan kehidupan di sana.
Banjir di Sahara adalah peringatan bahwa perubahan iklim tidak hanya berdampak pada daerah-daerah pesisir atau tropis, tetapi juga pada ekosistem ekstrem seperti gurun. (Yohana Britney Lifetoranisa Gowasa)
Editor : Winda Atika Ira Puspita