RADAR JOGJA - Atraksi wisata dan seni yang dikemas dalam kegiatan workshop jemparingan inklusif dan pelatihan keris berlangsung di kawasan heritage Grha Keris Panembahan, Yogyakarta. Acara tersebut bertujuan dalam rangka meningkatkan daya tarik pariwisata budaya. Workshop melibatkan komunitas difabel Bawayang sebagai peserta.
“Kami juga didukung Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Panembahan dan sejumlah kelompok dengan basis seni dan budaya,” ujar Ketua Panitia Sabam Parsaoran Hutagalung di sela acara kemarin (20/7).
Dalam atraksi itu juga ditampilkan Bregada Langenastra, Paseduluran Jemparingan Langensastra, tari Winih Ngabekti dan tari Sintren. Atraksi wisata dan seni itu mendapatkan sambutan positif.
Terbukti, banyak anak muda yang terlibat selama acara. Dia juga mengapresiasi fasilitasi yang diberikan Dinas Pariwisata DIY dan dukungan dana keistimewaan. “Kami sangat terbantu dengan dukungan tersebut,” katanya.
Tentang keterlibatan komunitas difabel karena selama ini mereka terkesan seolah-olah terpinggirkan. Dalam acara itu dikenalkan jemparingan dan keris kepada mereka. Komunitas Bawayang diajak melihat beragam koleksi keris di Grha Keris. Selain itu, mereka juga diajak praktik langsung jemparingan.
Founder Komunitas Bawayang Broto Wijayanto mengaku senang dilibatkan dalam atraksi wisata dan seni tersebut. Anggotanya sangat antusias ingin tahu dan belajar banyak. “Agenda ini bagus sekali karena kami dilibatkan secara aktif," katanya.
Anggota Bawayang yang berpartipasi berjumlah 10 orang. Mereka ada yang tuna rungu, tuna daksa, dan yang bertindak sebagai penerjermah.
Lurah Panembahan, Kraton, Yogyakarta, RM. Murti Buntoro menilai kolaborasi melalui agenda budaya dan seni harus dikuatkan. Menurut dia, budaya tak boleh dilupakan di tengah berbagai dinamika di era modern ini. (iza/kus)
Editor : Satria Pradika