JOGJA - Candi Donotirto memiliki arti penting bagi masyarakat di sekitar Pringgokusuman, Gedongtengen, Kota Jogja. Candi yang berada di Kemetiran Kidul ini menjadi sumber air.
Candi Donotirto untuk sementara ditutup untuk pembangunan saluran air hujan. Penutupan mulai Rabu (4/10) hingga Senin (9/10).
Meski dinamai candi, tapi sejatinya Candi Donotirto merupakan tempat pemandian umum. Sekelilingnya dibangun semacam pembatas yang bentuknya menyerupai candi.
Sekretaris LPMK Pringgokusuman Irwan Yunianto menuturkan sejarah Candi Donotirto. Menurutnya, Candi Donotirto dibangun pada masa Hamengku Buwono VII.
Saat itu, selain digunakan untuk keperluan sanitasi masyarakat, Candi Donotirto juga digunakan sebagai tempat berlindung para pekerja paksa dari penjajah.
Bentuk candi pun masih terbilang sederhana. Bangunan yang tampak seperti candi itu ada pada saat kerajaan Mataram Islam.
Aliran air di Candi Donotirto juga dimanfaatkan sebagai pelengkap upacara adat Jenang Surang.
“Cerita sejarahnya diawali dari pengambilan air di Candi Donotirto atau Tirto Wening. Diarak mengelilingi Kelurahan Pringgokusuman dan berakhir di Dalem Notoyudan. Itu harapannya simbol kemakmuran dari warga Gedongtengen seperti itu,” kata Irwan, yang juga Anggota Kampung Rintisan Budaya Pringgokusuman ini.
Candi Donotirto terpisah menjadi dua lokasi, untuk laki-laki dan perempuan. Masing-masing di dalamnya ada 7 grojokan. Di bagian perempuan, dari 7 grojokan itu hanya 4 grojokan yang masih mengalir.
Sementara di bagian laki-laki, aliran air di seluruh gerojokan sudah sangat kecil. Bahkan beberapa diantaranya sengaja disumbat agar tak ada warga yang menggunakan air di situ.
Pengelola Candi Donotirto Yoes Koesdarto menuturkan semakin lama aliran air akan semakin mengecil. Bahkan, tak mengalir sama sekali.
Dia mengaku telah menerima surat pemberitahuan penghentian air yang mengalir dari Kali Winongo itu.
Surat pemberitahuan dia terima dari penyedia jasa pelaksana konstruksi CV Bintang Pratama. Di dalam surat itu, tertulis alasan penutupan aliran air lantaran adanya pelaksanaan pekerjaan pembangunan saluran air hujan (SAH). Tepatnya, di depan Kantor Kemantren Gedongtengen.
“Penutupan akan dilakukan sampai dengan hari Senin tanggal 9 Oktober 2023,” ujar Yoes saat ditemui di Candi Donotirto, Rabu (4/10).
Saat beropersional secara normal, dalam satu hari setidaknya ada puluhan hingga seratusan warga yang memanfaatkan aliran air di Candi Donotirto.
Kebanyakan dari mereka melakukan aktivitas mandi dan mencuci. Jam-jam padat dimulai pukul 05.00 hingga 09.00 WIB, lalu pukul 15.00 hingga 19.00 WIB. Warga sekitar, para pedagang di Pasar Senen, dan tukang becak yang kebanyakan mengakses air di Candi Donotirto.
“Kalau wisatawan biasanya hanya tertarik karena bangunannya saja. Lalu ingin tahu tentang sejarahnya seperti apa,” imbuhnya. (isa)
Editor : Amin Surachmad