MUNGKID - Produk abon lele belum begitu banyak di pasaran. Padahal, produk tersebut dapat berpotensi menjadi usaha.
Peluang itulah yang ditangkap oleh pasangan suami-istri asal Dusun Permitan, Bondowoso, Mertoyudan. Yakin, Abdul Afif dan Jachinta Chandra Sari.
Mereka tertarik untuk mengembangkan usaha itu karena keberadaan tambak yang dirasa memiliki potensi pemberdayaan lele. Meski baru berjalan setengah tahun, produknya sudah dikenal di beberapa daerah. Nama produknya Lele Rere Borobudur.
Ayi, sapaan akrabnya, menuturkan, usaha ini bermula ketika dirinya menetap di Magelang setelah berpindah-pindah kota. Saat itu, dia juga membuka usaha sesuai dengan potensi di kota tersebut. Seperti pemasaran lele hingga membuka toko batik.
Di Magelang, dia bersama keluarga kecilnya sudah tinggal selama tiga tahun. "Suami saya buka lahan di mata air Ndas Gending. Di sana ternyata banyak tambak-tambak lele, nila, bawal, maupun gurami, yang potensial untuk diolah. Akhirnya, suami saya melihat ada peluang usaha baru," terangnya saat ditemui Radar Jogja Kamis (3/8).
Lantaran keluarganya suka bereksperimen untuk membuat suatu makanan, akhirnya tercetuslah ide untuk membuat abon lele. Menariknya, lele yang digunakan hanya berukuran jumbo. Beratnya kira-kira lebih dari dua kilogram.
Usaha rumahan ini baru dirintis selama setengah tahun. Namun, berproduksi setiap minggu.
Semula memang ditawarkan ke tetangga dan lingkungan terdekat. "Masih apa adanya. Kami juga masif melakukan promosi di media sosial," bebernya.
Produk abon lele ini dinilai masih jarang ditemui. Hal itu membuat Ayi semakin bersemangat dalam membuatnya.
Ayi terus berinovasi agar produknya semakin dikenal luas di masyarakat. "Awal mula (buat) untuk kebutuhan rumah (makan). Tapi, lama-lama berpikir tidak dikembangkan saja," sambungnya.
Adapun proses pembuatannya, diawali dengan membersihkan lele. Kemudian, dimarinasi memakai peruk nipis, garam, dan jahe agar lebih fresh.
Barulah dikukus sekitar 30-45 menit sembari menyiapkan bumbu. Setelah lunak, daging lele dikerok dan disuwir menggunakan garpu.
Ayi menyebut, langkah selanjutnya adalah menumis bumbu dan harus benar-benar sempurna serta matang. Karena hal itu dapat berpengaruh terhadap cita rasa. Lalu, suwiran lele itu ditumis bersama bumbu.
Dia menyebut, dalam pembuatan abon, yang paling lama adalah proses penggorengan. Dulunya, proses itu membutuhkan waktu 2-3 jam. Namun, sekarang waktunya bisa dipangkas meskipun harus menyiapkan dua penggorengan.
"Biasanya (wajan muat) sepuluh kilogram. Tapi, setelah ditumis sisa empat kilogtaman," ujarnya.
Produksinya, kata dia, dilakukan setiap minggu, menyesuaikan waktu dan pesanan. Bahkan, dia menjadi merupakan pelaku UMKM yang beruntung mendapat pesanan pada gelaran Tour de Borobudur (TdB) yang bakal dihadiri Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Event tersebut, tidak hanya mengusung sport tourism. Tapi, juga memberdayakan para pelaku UMKM di sekitarnya.
Dia menilai, TdB menjadi stepping stone dan membuatnya lebih bersemangat dalam memproduksi abon lele. Apalagi dia mendapat pesanan produk sebanyak 200 pack untuk merchandise event tersebut.
Ia juga membuka stan bersama para pelaku UMKM lainnya. "Di sinilah proses pembelajaran terjadi," terangnya.
Ayi menyebut, dalam sekali produksi, bisa mendapat 25 hingga 50 pack berukuran 100 gram. Dengan harga Rp 25 ribu. Di ruang terbuka, abon lele ini bisa bertahan hingga satu minggu lamanya. Sementara jika diletakkan di dalam freezer, akan bertahan hingga satu bulan. Lantaran abon lele ini dibuat tanpa bahan pengawet.
Usaha keluarga ini, lanjut dia, juga melibatkan masyarakat setempat. Untuk tingkat penjualan, tergantung pesanan. Rasanya juga tergantung permintaan, manis maupun pedas.
Bahkan, ia beberapa kali pernah mengirim produknya ke luar kota seperti Jakarta, Bandung, Pekalongan, hingga Surabaya. Saat ini, dia terus berproses agar mendapat PIRT dan logo halal. (aya)
Editor : Amin Surachmad