JOGJA - Tim Studi dan Proyek Independen Multikulturalisme Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) berkolaborasi dengan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) dan Bentara Budaya menyelenggarakan kegiatan pameran foto dengan tema “Cerita dari Solo”. Pameran ini berlangsung dari tanggal 13 sampai 17 Juli mendatang di Bentara Budaya Yogyakarta.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) proyek studi independen yang berbasis riset visual dan kerja kreatif para mahasiswa FISIP di Surakarta. Dan hasil riset itu ditampilkan dalam pameran berupa potret perubahan sosial di Surakarta dalam bentuk foto dan film pendek.
Wakil Tim Studi Independent Gabriel Haris Putra Pratama mengatakan di sini, pameran foto tersebut mengajak kita untuk melihat potret geliat dinamika sosial, budaya, kekuasaan, dan hidup sehari-hari masyarakat. Diharapkan dengan potret itu, masyarakat dapat melihat perubahan yang terlupakan, tetapi menjadi sesuatu yang penting untuk direfleksikan.
"Intinya masyarakat diajak untuk menelusuri jejak-jejak perubahan dan meniti keberlanjutan sebuah kota," ujarnya, kemarin (13/7) malam di Bentara Budaya Yogyakarta
GM Bentara Budaya & Communication
Management, Corporate Communication, Kompas Gramedia Ilham Khoiri menyebut, pameran ini sangat menarik. Sebab, mengamati foto-foto dalam
pameran ini, terutama karena mampu
mengangkat wujud keberagaman budaya (multikulturalisme) yang berdenyut nyata
dalam kehdiupan masyarakat.
Secara kasat mata, diajak melihat bermacam ekspresi sehari-hari, mulai dari kuliner, kegiatan di pasar, arsitektur rumah, keraton, rumah ibadah, seni pertunjukan, naskah kuna (manuskrip), mural (lukisan dinding) sampai baju. Di balik semua itu, ada sejarah panjang proses akulturasi (pembauran budaya) dari kelompok masyarakat Jawa, keturunan Arab, Tionghoa, India, dan Barat (Amerika-Eropa).
"Meski foto-foto itu diambil di Solo, sesungguhnya semangat akulturasi yang tertangkap dari pameran itu juga merupakan gambaran umum bangsa Indonesia," katanya.
Pameran ini mengajak kita untuk lebih
mengenali keanekaragaman budaya yang dapat berjalan beriringan, bahkan saling
membaur, dan saling menghargai. Sehingga pameran itu membuat kehidupan kita semakin kaya.
"Semangat ini selalu penting untuk kita
panggungkan," tegasnya.
Editor Senior KPG Candra Gautama juga menjelaskan sebanyak 101 foto yang tersaji dalam pameran ini adalah refleksi 15 mahasiswa FISIP Universitas Atma Jaya (UAJY) atas "perubahan sosial" yang terjadi di kota Solo. Selama satu bulan penuh mereka tinggal di Solo, setelah bolak-balik Jogya-Solo untuk melakukan pra-riset.
Kelima belas mahasiswa yang tergabung dalam "Tim Studi Independen Multikulturalisme" itu diajak keluar dari menara gading kampus untuk belajar melihat realitas, sekaligus berkarya dengan standar profesional. Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa dituntut menghasilkan karya berupa buku foto, film dokumenter, dan pameran foto-video. Dan apa yang mereka hasilkan kemudian disajikan kepada publik sebagai pertangunggungjawaban akademis.
"Proyek ini berawal dari inisiatif 'Tiga Pilar Tuk Indonesia' yang digagas Penerbit KPG, kemudian disambut oleh FISIP UAJY. Inisiatif ini coba menghubungkan kampus, media, dan swasta dalam kerja-kerja kebaikan bagi Indonesia lewat jalur kebudayaan," ungkap Candra
Budayawan Romo Sindhunata juga mengatakan pameran ini adalah karya kreatif yang sungguh sangat luar biasa. Selanjutnya, Romo Sindhu turut merasa bergembira terutama kepada UAJY bahwa mereka mau memperhatikan kepada budaya.
Menurut Romo Sindhunata, budaya ini adalah dasar dari semuanya. Dan terlebih untuk anak-anak muda, ia hampir tidak bisa membayangkan. Sebab para anak muda ini masih dekat dengan kebudayaan.
"Sungguh keteransingan yang sangat luar biasa yang saya alami. Kita dibuat terasing terhadap budaya oleh teknologi, oleh kemajuan bahkan dengan agama," jelasnya.
Menurut Romo Sindhunata, sekarang dengan masuknya teknologi yang begitu cangih. Di sana Sindhunata tidak bisa membayangkan lagi bagaimana nasib budaya.
"Karena hal itu saya mengucap bangga ke teman-teman mudah ini bahwa mereka mau mengangkat tema budaya ini ke fotografinya," ucapnya. (ayu)
Editor : Amin Surachmad