JOGJA - Masyarakat banyak yang tidak tahu ada gardu listrik peninggalan Belanda di sekitar Kawasan Kotabaru Jogja. Dikenal dengan nama Babon ANIEM, sebuah bangunan persegi dengan taman yang mengelilingi. Tepatnya, di simpang Jalan F.M. Noto Kotabaru Jogja.
Babon ANIEM di Kotabaru hanya salah satu yang tersisa. Dua sisa lainnya ada Babon ANIEM di depan Taman Parkir Abu Bakar Ali dan Babon ANIEM di Pasar Kota Gede.
ANIEM merupakan singkatan dari Algemene Nederlandsch Indische Electrisch Maatscapij. Sebuah perusahaan penyedia listrik swasta yang berkantor pusat di Amsterdam, Belanda.
Perusahaan ANIEM berada di bawah naungan NV Handelsvennootschap, yang sebelumnya bernama Maintz & Co. Berdiri pada 1897 dan merupakan perusahaan paling sukses dan paling besar di Hindia Belanda.
Mulai tahun 1909, pembangunan jaringan listrik dibangun di Jawa, termasuk Kasultanan Jogja. Pada Februari 1914, ANIEM mendapat hak untuk mengusahakan jaringan listrik untuk Kota Jogja.
Kotabaru sebagai salah satu kawasan perumahan elit Eropa pada saat itu. Sehingga mendapatkan prioritas jaringan listrik. Di Kotabaru, infrastruktur listrik Babon ANIEM selesai dibangun sekitar tahun 1918. Sementara daya listriknya berasal dari pembangkit listrik yang ada di Tuntang, Semarang.
Pembangunan instalasi yang pertama ialah gedung pabrik ANIEM di Wirobrajan. Kemudian, dibangun Babon ANIEM di beberapa wilayah. Diantaranya sekitar benteng Baluwarti Keraton, Danurejan Malioboro, Pengok, Pingit, Kotabaru, dan Kotagede.
Tahun 1919, wilayah yang teraliri listrik mulai meluas. Meliputi Njeron Beteng, Malioboro, dan Kotabaru. Kemudian 1922 seluruh wilayah kota Jogja telah teraliri listrik.
Pada 1939, hampir seluruh wilayah Kota Jogja teraliri listrik. Bukan hanya di pemukiman warga namun juga di jalan-jalan besar. Dengan biaya yang ditanggung oleh Keraton Jogja.
Bentuk bangunan Babon ANIEM dominan empat persegi panjang, dengan dinding batu bata. Letaknya selalu di tempat yang strategis dan merupakan jalan utama. Babon ANIEM menjadi penanda hadirnya listrik di Kota Jogja sejak jaman Belanda. (lan)
Editor : Amin Surachmad