GUNAWAN, Gunungkidul –
SEPEDA motor dengan aksesoris kronjot warna merah muda terparkir di samping kantor Pemkab Gunungkidul. Terlihat seorang pria berperawakan tinggi, mengenakan kaus hitam, celana jeans, dan tas pinggang cokelat.
Keranjang khas pedesaan terisi buntelan tempe. Tidak seperti tempe pada umumnya, makanan yang mengandung protein tinggi itu di antaranya dibungkus dengan daun pisang, bukan daun jati. Radar Jogja kemudian memperkenalkan diri dan berbincang-bincang dengan lelaki tersebut.
Namanya Boni Agung Kristanto. Warga Balong, Hargomulyo, Gedangsari, Gunungkidul. Sambil melayani pembeli, dia mengaku keliling kota jualan tempe pakai roda dua sejak 2004.
Target pasarnya para pekerja kantoran. Mulai dari polres, kodim, sampai Pemkab Gunungkidul. Lambat laun rezeki terus menghampiri. Tempe dengan brand Kang Boni mulai memiliki pelanggan tetap."Sejarah membuat tempe dimulai sejak 2004," kata Boni.
Menurutnya, ada beberapa faktor yang diyakini mendongkrak penjualan. Dari bahan misalnya, menggunakan ragi alami buatan sendiri. Sebagian besar tempe menggunakan bungkus daun pisang, bukan daun jati.
"Pengalaman saya, daun jati menimbulkan warna merah pada tempe. Kalau pakai daun pisang putih bersih. Tapi juga ada pelanggan minta dibungkus dengan plastik, sesuai selera," ujarnya.
Sedikit Boni berbagi cerita tentang ragi buatannya. Sebenarnya, resep itu hanya meneruskan ilmu dan pengalaman generasi terdahulu. Nah, dalam perkembangan ternyata tetap cocok di lidah.
"Pak SBY dan pak Jokowi suka," ungkapnya.
Bagaimana bisa menembus Istana, kata Boni ceritanya panjang. Berawal saat Bupati Gunungkidul Badingah (pada periode 2010-2020) berkunjung ke rumahnya. Setiap ada acara resmi, bupati order tempe Kang Boni.
"Kata ibu (Badingah, Red) untuk dijadikan oleh-oleh khas Gunungkidul ketika ada pejabat pusat datang," ucapnya.
Gayung bersambut, tempe Kang Boni sampai ke lidah SBY yang kala itu berkunjung ke Jogjakarta. Bahkan, almarhum Ani Yudhoyono semasa hidupnya disebut sering order. "Bapak Jokowi juga (mencicipi, Red) saat berada di Jogjakarta," bebernya.
Karena permintaan meningkat, produksi tempe melibatkan tetangga. Per hari rata-rata menghabiskan 50 kilogram sampai dengan 60 kilogram. Strategi pemasaran, keliling kota dan memanfaatkan media sosial.
"Jadi, kalau ibu-ibu rumah tangga datang merebus kedelai setelah memasak di rumah. Siangnya bapak-bapak datang menggiling, dan limbahnya digunakan untuk pakan ternak," ucapnya.
Tempe kecil dijual Rp 500 per bungkus. Sarana media online dinilai cukup efektif, karena pembeli datang dari luar kota. Mulai dari Ibukota Jakarta, Surabaya, hingga paling jauh Kota Medan.
Obrolan Radar Jogja bersama Kang Boni kadang terjeda karena sibuk melayani pembeli. Dia meminta maaf karena tidak maksimal memberikan keterangan kepada koran ini. Nampak dari kejauhan sepeda motor matic datang.
Dia seorang ibu rumah tangga warga Wonosari, bernama Ulfah. Mengaku baru saja menjemput anak pulang sekolah dan menyempatkan beli tempe Kang Boni. Ulfah tidak tau banyak soal siapa penjual tempe tersebut. "Katanya enak, dan ini saya coba beli," kata Ulfah.
Setaunya, kebanyakan tempe jaman dulu (jadul) dibungkus daun jati. Tapi ini beda, karena pembungkusnya menggunakan daun pisang. Dikemas sangat rapi dan terlihat bersih ketika bungkusan dibuka.
"Sepertinya enak. Terima kasih mas," ucapnya kemudian berlalu.
Kang Boni juga demikian. Beranjak mengemasi kronjot dan ingin melanjutkan kirim orderan ke beberapa tempat. Sebelum berlalu, dia tak lupa mengucapkan terima kasih. Serta berharap jika masuk koran, ceritanya dapat menginspirasi banyak orang. (eno)
Editor : Satria Pradika