Takmir Masjid An Nurumi, Slamet Budiono Jarot tak menyebut secara pasti pada tahun berapa Umi Nursalim beribadah umroh. Pastinya pada saat itu Umi berangkat bersama sang ibu.
"Umi Nursalim dulunya umroh berdua dengan mendiang ibunya. Pulangnya lewat Eropa Timur yaitu di Moskwa. Di Moskwa dia (Umi Nursalim) bilang kalau nanti dapat rezeki, diridhoi oleh Allah ingin mendirikan masjid seperti ini. Alhamdulillah ibu Umi mendapatkan rezeki membangun masjid seperti ini," jelas Slamet, Kamis (30/3).
Tampak dari luar Masjid An Nurumi memiliki 9 menara kubah yang berwarna-warni. Seluruhnya merupakan simbol Walisongo yang turut menyebarluaskan agama Islam.
Satu menara kubah yang terletak di tengah berdiri setinggi 26,5 meter. Sementara 8 menara kubah lainnya setinggi 20 meter. Tak hanya itu terdapat 4 pintu dengan ukuran dan semuanya menuju ke dalam masjid.
"Menurut beliau ini ada empat kiblat satu pancer, jadi muka, belakang, kanan, kiri itu sama, atasnya Allah yang ada di atas. Jadi pintu sebelah timur, selatan, barat, utara, itu sama bangunannya," katanya.
Slamet menyebut saat itu Umi Nursalim mempercayakan proses pembangunan pada arsitek asal Temanggung. Pengerjaan memakan waktu hingga dua tahun. Hingga akhirnya diresmikan oleh Gubernur DIJ Hamengkubuwono X pada 2007.
Masjid ini mampu menampung hingga 200 jamaah. Namun, saat Ramadan seperti saat ini pengunjung yang datang bisa lebih dari 200 jamaah.
"Kegiatan-kegiatan masjid ini tidak memandang ormas. Ini masjid umum. Kalau bulan Ramadan ada pengajian menjelang buka puasa, pengajian setelah tarawih. Subuhan juga ada kultum. Di sebelah utara ada pengajian ibu-ibu," ujarnya. (isa/dwi) Editor : Editor News