Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Korsel Terkenal dengan Gingseng, Indonesia Punya Jahe Merah

Editor News • Kamis, 11 Agustus 2022 | 00:08 WIB
PANEN : Jika Korea Selatan terkenal dengan gingseng, kini jahe merah akan dipromosikan sebagai ikon herbal Indonesia. Hal itu mulai diwujudkan PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) dengan Negeri Jahe Merah yang dirancang oleh Business Unit Bintang Toedjoe Inovasi Na
PANEN : Jika Korea Selatan terkenal dengan gingseng, kini jahe merah akan dipromosikan sebagai ikon herbal Indonesia. Hal itu mulai diwujudkan PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) dengan Negeri Jahe Merah yang dirancang oleh Business Unit Bintang Toedjoe Inovasi Na
RADAR JOGJA - Jika Korea Selatan terkenal dengan gingseng, kini jahe merah akan dipromosikan sebagai ikon herbal Indonesia. Hal itu mulai diwujudkan PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) dengan Negeri Jahe Merah yang dirancang oleh Business Unit Bintang Toedjoe Inovasi Natural (BINA).

BINA merupakan divisi B2B dari Bintang Toedjoe yang fokus pada bahan baku natural. Fokusnya untuk mendukung keberlangsungan dan ketersediaan jahe merah terbaik. Hal itu bermula dari sulitnya Bintang Toedjoe mendapatkan jahe untuk produk Bejo herbal. Awalnya yang digunakan jahe emprit dan jahe merah. Hingga akhirnya fokus ke jahe merah melihat khasiatnya.

"Karena jahe merah mengandung antioksidan, baik untuk kesehatan. Kami ingin mengenalkan jahe merah jadi produk herbal khas Indonesia, seperti Korea Selatan dengan gingseng," jelas Head of BU BINA Sari Pramadiyanti di salah satu ladang jahe merah di Boyolali Jawa Tengah, Selasa (9/8).

Sari menambahkan, ekosistem jahe merah ini memiliki tujuh pilar proses. Mulai dari pembibitan jahe merah, penanaman jahe merah, pasca panen, ekstraksi atau distilasi, farmakologi, komersialisasi dan pemberdayaan masyarakat.

Dalam proses penanaman jahe merah, BINA bekerja sama dengan komunitas petani jahe merah, termasuk salah satunya di Boyolali.

"BINA melakukan pendataan, edukasi, monitoring dan melakukan kontrol usia panen untuk mendapatkan rimpang jahe merah yang sesuai standar dan terdata," katanya.

Proses ektraksi jahe merah bekerjasama dengan mitra ekstraktor atau destilator. Tentunya yang berpengalaman dan terkualifikasi untuk menghasilkan ekstrak dan essential oil jahe merah yang terstandar.

Ekstrak atau essential oil jahe merah yang dihasilkan harus dikontrol sehingga menghasilkan zat aktif gingerol dan zingiberene sesuai spesifikasi. Setelahnya akan diolah oleh perusahaan menjadi produk Redgine.

Riset dan kajian Farmakologi, menjadikan bahan baku jahe merah Redgine memiliki landasan ilmiah yang kuat. Baik dari sisi uji efikasi, uji safety, uji toksisitas.dan uji sebagai immunomodulator. Bahan baku jahe merah Redgine yang dihasilkan dipasarkan ke industri farmasi, jamu, makanan, kosmetik, suplemen, dan nutraceutical.

"Jenis sediaan yang berupa simplisia powder, extract powder, extract liquid dan oil, disesuaikan dengan kebutuhan industri," ujarnya.

Kepala Komunikasi Eksternal PT. Kalbe Farma Tbk Hari Nugroho mengatakan Kalbe selalu mempertimbangkan keberlanjutan dalam menjalankan operasional perusahaan. Terutama dampak positif terhadap lingkungan, masyarakat dan semua pemangku kepentingan yang terkait.

"Hal ini demi mencapai tujuan inisiatif keberlanjutan Kalbe, yaitu Bersama Sehatkan Bangsa,” katanya.

Salah satu petani mitra Bintang Toedjoe Eko Susilo mengaku baru menjadi mitra binaan pada 2020 lalu. Sebelumnya dia menannam jahe merah di lahan 3.000 meter. Setelah bergabung menjadi mitra Bintang Toedjoe, dia bisa tanam lebih banyak. Dengan harga yang lebih pasti dan kualitas jahe yang lebih bagus.

"Biasanya 1 kilogram benih jahe merah dapat panen 3 kg jahe merah. Tapi setelah bergabung sebagai mitra Bintang Toedjoe, benih 1 kg bisa panen 5-8 kilogram,” ujarnya. (*/Dwi) Editor : Editor News
#Negeri Jahe Merah #Businnes Unit Bintang Toedjoe Inovasi Natural #PT. Kalbe Farma