Kepala Desa Kalibening Nurbiyanto menjelaskan, komoditas pepaya cukup menjanjikan. Selain itu, ongkos budidayanya murah.
"Ini peningkatan ekonomi di tengah Covid-19. Saya sudah menanam, cocok di sini. Secara teknis, budidaya tidak sulit. Biaya juga tidak terlalu mahal. Bibit, pupuk, sampai distribusi dibantu," jelasnya saat ditemui Kamis (4/6).
Pemdes Kalibening menyiapkan tim khusus untuk melakukan pendampingan selama proses menanam bibit sampai panen. Selain itu, pemdes membantu sejumlah kebutuhan mulai pupuk sampai biaya penanaman.
Pemdes menganggarkan dana sampai Rp 50 juta untuk mendukung program ini. "Kita siapkan tim pendamping penanaman selama tujuh bulan. Bahkan, ada MoU (memorandum of understanding/nota kesepakatan) penyedia bibit dan pembeli hasil budi daya," tegasnya.
Tahun ini merupakan pertama kalinya komoditas pepaya jenis California dibudidayakan di Desa Kalibening. Setidaknya, empat ribu bibit pepaya disalurkan kepada petani. Setiap petani menanam sekitar seratus hingga dua ratus bibit.
Masa panen pepaya jenis California antara enam sampai tujuh bulan. Harga setiap kilogramnya antara Rp 2.500 hingga Rp 4 ribu.
Ahmad Solahudin, 50, salah seorang petani, mengaku menanam 156 bibit pepaya California. "Biasanya menanam cabai. Kalau pepaya, ini biayanya lebih ringan. Semoga nanti bisa menghasilkan," ungkapnya. (asa/amd)
Editor : Editor Content