Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Teguh Prawoto sejak 1979 Tekuni sebagai Meranggi Keris

Editor News • Selasa, 21 Agustus 2018 | 16:58 WIB
TELATEN: Teguh Prawoto, 62, melakukan kegiatannya sehari-hari sebagai Meranggi Keris di Banyusumurup, Girirejo, Imogiri, Bantul. (MEITIKA CANDRA LANTIVA/RADAR JOGJA)
TELATEN: Teguh Prawoto, 62, melakukan kegiatannya sehari-hari sebagai Meranggi Keris di Banyusumurup, Girirejo, Imogiri, Bantul. (MEITIKA CANDRA LANTIVA/RADAR JOGJA)
Dipercaya Abdi Dalem Keraton “Menangani” Koleksi Pusaka
Teguh Prawoto satu dari sedikit meranggi. Kultur Jawa yang sangat kental di DIJ membawa profesi perangkai warangka keris hingga sekarang masih tetap bertahan.

MEITIKA CANDRA LANTIVA, Bantul

Bagi Teguh, sapaan akrab Teguh Prawoto, keris bukan hal baru. Sejak usia remaja, bapak enam anak ini sudah akrab dengan salah satu pusaka Nusantara.
”Sudah 39 tahun bersinggungan dengan keris,” jelas Teguh saat ditemui di rumahnya, Senin (20/8).

Keahlian Teguh sebagai meranggi tidak muncul tiba-tiba. Teguh remaja lebih dulu bersinggungan dengan kayu. Persisnya tukang kayu. Seiring waktu berjalan, keahliannya bertambah. Dia juga paham betul dengan beragam jenis dan bentuk keris. Beragam keahlian ini kemudian mengantarnya sebagai salah satu meranggi mashur di Dusun Banyusumurup, Girirejo, Imogiri.
”Sejak itu semakin yakin menekuni profesi ini,” tuturnya.

Di Dusun Banyusumurup saat ini hanya ada beberapa meranggi yang masih tersisa. Kendati sebagai keahlian langka, bukan berarti nasib bisnis pembuatan sarung keris ini tanpa rintangan. Sebab, peminat keris hanya kalangan tertentu. Alias segmented. Apalagi, kolektor keris belakangan ini juga menurun.
Di tengah kegalauannya, pria kelahiran 1956 ini sempat berpikir keras. Mencari berbagai solusi jitu atas nasib bisnis yang digelutinya. Saking seriusnya, Teguh sempat memiliki rumusan: siapa saja peminat keris dan wilayah mana saja yang membutuhkannya.

”Nah, itu yang akhirnya menjadi patokan (bisnis, Red) saya,” tuturnya.
Seolah mempraktikkan teorinya, Teguh kemudian pergi ke Kompleks Makam Raja-Raja Imogiri. Di sana, Teguh ingin bertemu dengan para abdi dalem. Mengingat, ada sekitar seribu abdi dalem di kompleks makam yang terletak di Pajimatan, Wukirsari, itu. Bak gayung bersambut, tidak sedikit abdi dalem yang memiliki beragam koleksi keris memanfaatkan jasa Teguh.

”Banyak yang ingin mengganti warangka dan mahkota keris. Bahkan mereka ada yang ingin mengganti warangka besi menjadi kayu,” kenangnya.
Teguh juga menyasar keraton Ngayogyokarto agar tetap bertahan. Juga mendatangi para perias pengantin.”Satu kecamatan ada sepuluh perias. Sementara di Bantul ada 17 kecamatan,” lanjutnya.

Berkat ketelatenannya, Teguh mampu menembus pasar luar DIJ. Tidak sedikit peminat produknya dari berbagai daerah seperti Jepara, Surakarta, dan Surabaya. Rata-rata asal kota peminat warangka keris memiliki kultur Jawa yang kental.

Saat ini, Teguh mendapat kepercayaan sebagai meranggi warangka keris abdi dalem keraton. Semuanya dia kerjakan sendiri.
”Pernah dikerjakan orang lain. Namun malah banyak dikomplain.,” tambahnya. (zam/mg1) Editor : Editor News
#perangkai warangka #keris #meranggi keris