BUAH KREATIVITAS: Berbekal kain sisa menjahit atau perca, Muhdi mengubahnya menjadi lukisan menarik. Karya-karya ini pun dibanderol hingga ratusan ribu rupiah.
Bak Lukisan Mozaik, Libatkan Tenaga Petani Lokal
Muhdi, warga Dusun Bumen Jepalan, Karangrejo, Borobudur, Kabupaten Magelang, mampu menyulap sisa kain menjadi lukisan mozaik. Pria 60 tahun ini mengubah kain bekas sisa-sisa pakaian menjadi barang bernilai tinggi. Karyanya pun diakui para wisatawan yang berkunjung ke Candi Borobudur.
ADI DAYA PERDANA, Mungkid
Kreativitas Muhdi mampu mengubah barang yang tidak berharga menjadi karya seni. Berbekal dengan kain sisa menjahit atau yang dikenal dengan perca, bisa diubah menjadi lukisan menarik. Karya-karya ini pun dibanderol hingga ratusan ribu rupiah.
Ide karya seni itu berawal dari Muhdi merasa miris setiap kali melihat perca berceceran di sejumlah tempat penjahit pakaian di sekitar Candi Borobudur. Sejak Oktober tahun lalu, ia kemudian membuat lukisan dengan menempel perca batik yang telah dilipat atau diwiru dengan jarum atau paku.
Limbah sisa produksi konveksi pakaian ini biasanya dibuang atau dijadikan kain lap. Namun, di tangan Muhdi, sisa kain menjadi lukisan mozaik. Tentu karya seni ini mampu bernilai lebih dari sekadar kain lap.
Jiwa seninya membuat karya ini didapat bukan begitu saja. Kemahiran Muhdi mewiru kain saat membuat dekorasi tempat pernikahan sejak 1982 pun, seolah mengalir begitu saja. Pengalamanya menjadikan inspirasi untuk memainkan perca batik. Sehingga mampu menghasilkan lukisan mozaik yang menarik.
"Tekniknya saya dapat di saat membuat aneka bentuk lipatan kain untuk dekorasi pernikahan. Karena selain bertani, saya juga sering diminta mendekor pernikahan di kampong-kampung sekitar sini," ujar Muhdi.
Kain-kain sisa ini ditempel di papan ukuran tertentu. Kain kemudian dibentuk sedemikian rupa sesuai yang diharapkan. Bisa saja kain dibentuk seperti gambar pohon ataupun gunung.
Gambar pohon ini pun terlihat riil dengan tonjolan-tonjolan lipatan kain tersebut. Sementara untuk bagian lain, Muhdi memanfaatkan warna dengan cat.
Uniknya, hasil karya seni ini digarap oleh warga yang bekerja sebagai petani. Teknik melukis pun dilakukan dengan melipat atau mewiru kain dan ditempelkan menggunakan paku atau jarum. Pelibatan petani ini agar bisa menambah penghasilan mereka.
Hasil karya Muhdi ditempel di dinding ruang depan rumah. Sejumlah lukisan berbagai ukuran dengan objek pemandangan alam, dibuat secara kreatif dengan bahan utama perca batik.
Muhdi mengaku hasil karyanya masih diperdebatkan oleh sejumlah kalangan, karena tergolong kerajinan atau seni lukis. "Banyak yang menanyakan ini kerajinan atau lukisan. Tapi saya menyebutnya sebagai lukisan," jelasnya.
Dalam satu hari, Muhdi mengaku bisa menghasilkan satu karya mozaik batik untuk ukuran yang tidak terlalu besar. Bahkan, selama enam bulan terakhir ia telah menghasilkan sekitar 60 lukisan mozaik batik. Di antara karyanya juga laku dibeli wisatawan.
Sejak mampu menghasilkan karya indah, ia pergi ke tempat penjahit pakaian membawa karung untuk mengumpulkan perca batik. Hingga saat ini, Muhdi memiliki lima pelanggan jahitan pakaian tempatnya mendapatkan perca batik. "Harga karya mozaik batik bervariasi, tergantung ukuran. Ada yang Rp 35 ribu, ada juga yang Rp 250 ribu," jelasnya. (laz) Editor : Administrator