Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pemimpin Jadilah Gatotkaca, Jangan Jadi Sengkuni

Editor News • Rabu, 2 April 2014 | 15:11 WIB
Photo
Photo
DWI AGUS, Bantul
Hawa dingin menusuk tulang malam itu. Malam itu pentas wayang yang rutin tiga bulanan kembali digelar. Pentas kali ini menampilkan Paguyuban Dalang Muda Sukra Kasih dengan lakon Kaca Nagara.
Malam itu menampilkan dalang muda Ki Bayu Aji Nugroho dari Gamping, Sleman dengan mengangkat kisah kelahiran Gatotkaca hingga menjadi raja di Pringgadani. Lakon ini secara khusus mengangkat tema patriotisme dan kepemimpinan sosok Gatotkaca.
Meski masih terbilang muda, namun Ki Bayu mampu membawakan lakon dengan apik. Sabetan yang dilakukannya pun terlihat mantap untuk setiap tokoh wayang yang dipegangnya. Belum lagi saat Ki Bayu melakukan antawicara penokohan wayang. Setiap wayang seakan hidup dan benar-benar memainkan perannya masing-masing.
"Awal kelahirannya putra dari Bima dan Arimbi ini selalu mendapatkan cemoohan dan terlahir dalam bentuk yang tidak diinginkan. Memiliki nama lahir Tetuka, bayi ini memiliki fisik yang berbeda 180 derajat dari sang ayah Bima," kata Ki Bayu sebelum pementasan.
Sementara itu di meja tamu terlihat beberapa orang menggunakan surjan lengkap. Beberapa terlihat sigap, sedangkan yang lainnya sibuk menyapa tamu dan penonton yang datang. Salah satu pria yang terlihat adalah Ketua Paguyuban Dalang Muda Sukra Kasih, Ki Gondo Suharno.
Pria ini terlihat sibuk menyapa setiap penonton yang datang. Bahkan dirinya pun tak sungkan untuk membaur menjadi satu dengan penonton diatas lincak yang telah disediakan. Saat Radar Jogja menghampiri pria yang akrab disapa Ki Gondo ini, terlihat senyum ramah mengembang."Monggo mas disambi makan kacang atau pisang rebus ngobrolnya," sapanya.
Dalang yang masih terlihat muda inipun secara gambalng menjelaskan konsep pementasan wayang kali ini. Ki Gondo mengungkapkan Indonesia saat ini membutuhkan sosok pemimpin tegas, peduli dan tidak egois. Lakon Kaca Nagara inipun dipilih untuk menggambarkan hal ini.
Pementasan inipun sebenarnya terbilang unik karena menggabungkan dua lakon cerita. Cerita ini adalah sejarah kelahiran Gatotkaca dan juga saat Gatotkaca memperjuangkan tahtanya sebagai Raja Pringgadani. Kedua lakon ini diramu secara apik untuk menghasilkan lakon yang lebih hidup.
Ki Gondo sengaja menggabungkan dua lakon ini untuk menyesuaikan tema yang diangkat. Secara khusus pementasan wayang ini digelar dalam rangka menyambut pesta rakyat yang jatuh tanggal 9 April mendatang. Melalui wayang, Ki Gondo bersama Paguyuban Dalang Muda Sukra Kasih mengajak warga untuk cermat dalam memilih wakil rakyat.
Sejak Gatotkaca lahir dan menjadi raja di Pringgadani megalami banyak tempaan dan itu menumbuhkan patrotisme di jiwa dan lebih kental dari tokoh lain. "Melalui wayang ini kita ingin bercerita bahwa Indonesia butuh pemimpin dan wakil yang mau berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit sakit dahulu bersenang-senang kemudian," kata Ki Gondo berpantun.
Melalui kacamata dalang, Ki Gondo berharap setiap calon pemimpin dan wakil rakyat bisa berkaca pada tokoh pewayangan. Di mana bisa mengambil hikmah dan pengetahuan dari sifat setiap tokoh pewayangan. Apalagi menurutnya setiap tokoh memiliki filosofi yang kuat.
Ki Gondo mencontohkan Sengkuni yang merupakan tokoh licik dan licin. Tokoh ini kerap digambarkan sebagai tokoh yang senang menghasut dan memecah belah. Selain itu tokoh inipun tidak ragu mengambil kesempatan dan keuntungan atas permasalahan yang terjadi.
"Jangan jadi Sengkuni di Indonesia, tapi jadilah seperti Gatotkaca jika terpilih nanti. Indonesia memiliki keberagaman pluralisme yang sangat kaya. Ini adalah pemersatu dan potensi kekuatan, namun juga akan menjadi bom waktu jika memiliki pemimpin dan wakil rakyat yang salah," kata Ki Gondo.
Meski begitu tokoh seperti Sengkuni diakui oleh Ki Gondo tetap memainkan peran yang penting. Misalkan dalam sebuah lakon tokoh ini penting untuk membuat pemimpin waspada. Sisi lainnya adalah sebagai ajang instropkesi bagi pemimpin atas kebijakan yang dilakoninya.
Tempaan bagi pemimpin pun sangatlah penting agar tidak terlena dengan kenyamanan. Inilah yang menurut Ki Gondo kerap dialami para pemimpin di Indonesia. Ketika terlalu nyaman atas kedudukannya membuat menjadi terlena sehingga melupakan kewajiban yang sesungguhnya.
"Gatotkaca adalah tokoh yang sederhana namun kerap diserang oleh lawan-lawannya. Diapun mengusung konsep kesejahteraan bagi rakyatnya, tidak semudah mempergunjingkannya. Lakon inipun memaksa kita untuk berkaca pada diri sendiri, pemimpin seperti apa yang kita butuhkan," kata Ki Gondo.
Paguyuban Dalang Muda Sukra Kasih sendiri merupakan paguyuban yang mewadahi generasi muda pecinta wayang. Anggotanya sendiri terdiri dari civitas pelajar dan mahasiswa jurusan seni di Jogjakarta. Selain dalang, dalam paguyuban ini juga mewadahi karawitan dan sinden muda.
Paguyuban ini sendiri masih terbilang muda karena berdiri baru tanggal 11 Maret 2011 lalu. Meski masih muda namun dalam melestarikan dan mementaskan kesenian wayang, paguyuban ini sangat konsisten. Salah satunya adalah pentas rutin 3 bulan sekali di Tembi Rumah Budaya.
"Rencananya juga mulai bulan April diboyong untuk pentas rutin di PKKH UGM setiap malam Sabtu minggu keempat. Pentas ini akan digelar sebanyak 10 kali hingga bulan Januari 2015. Khusus untuk PKKH UGM akan mengusung cerita Ramayana," kata Ki Gondo.
Pentas rutin ini diakui Ki Gondo bisa menjadi hawa segar iklim pewayangan di Jogjakarta. Belum lagi kebijakan dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan yang memasukan wayang ke dalam kurikulum 2013. Kebijakan ini bisa menjadi tonggak baru dunia kesenian dan kebudayaan di Indonesia.
Ki Gondo kebijakan ini penting diterapkan karena wayang memiliki nilai lebih tidak hanya sekadar warisan budaya. Wayang pun bisa menjadi pendidikan karakter dengan menampilkan nilai-nilai budi pekerti, dan tata karma. Selain itu wayang pun syarat akan pesan unggah-ungguh, kesopanan, norma dan mengajarkan manusia untuk punya rasa malu.
Meski dikemas secara tradisi dan tidak mengedepankan kemajuan teknologi, wayang menurut Ki Gondo memiliki nilai tontonan, tuntunan, dann tatanan yang besar. Tidak hanya sekadar menjadi hiburan namun memiliki nilai penting. Seperti sifat tokoh pewayangan dan juga lakon yang bisa menjadi khasanah kehidupan.
Hal penting lainnya yang perlu dilakukan dalam dunia Wayang menurut Ki Gondo adalah regenerasi penonton wayang. Meski regenrasi pelaku telah terjadi namun dari sisi penonton belum terjadi maka usaha ini akan menjadi percuma. Penonton sangatlah penting karena syarat penting sebuah seni pertunjukan adalah adanya penonton. "Sudah menjadi tugas kita semua tidak hanya paguyuban seni dan budaya saja, tapi kesadaran warga juga penting," pesan Ki Gondo.(*/din)
Dicari Pemimpin yang Tegas, Peduli, dan Tidak Egois Editor : Editor News