Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tak Terkalahkan dalam 34 Pertandingan, Maroko Layak Menjadi Kandidat Juara Piala Dunia?

Bahana. • Minggu, 5 Juli 2026 | 14:36 WIB
Selebrasi para pemain Maroko dalam kemenangan 4-2 atas Haiti di Piala Dunia 2026 pada Rabu (25/06/2026).
Selebrasi para pemain Maroko dalam kemenangan 4-2 atas Haiti di Piala Dunia 2026 pada Rabu (25/06/2026).

Maroko kembali menjalani laga mengesankan di Piala Dunia, meskipun kemenangan terbaru mereka atas Kanada lebih mengandalkan kekuatan daripada keindahan permainan.

Tim asal Afrika Utara itu tidak tampil memukau saat mengalahkan salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026, Kanada, dengan skor 3-0 pada babak 16 besar di Houston.

Maroko menang meskipun hanya melepaskan lima tembakan ke arah gawang—jumlah paling sedikit yang pernah dicatat oleh tim pemenang dalam pertandingan fase gugur Piala Dunia.

Selain itu, babak pertama laga tersebut menjadi yang pertama dalam sejarah Piala Dunia di mana jumlah kartu kuning lebih banyak daripada jumlah tembakan.

Namun Maroko berhasil melewati ujian tersebut. Seperti ungkapan yang sering digunakan dalam sepak bola, ciri tim hebat adalah mampu menang meski tidak bermain indah.

Kini, Maroko memang pantas disebut sebagai tim hebat dan salah satu kandidat serius untuk menjuarai Piala Dunia.

Mereka bukan hanya belum terkalahkan sepanjang turnamen ini, tetapi juga dalam, 34 pertandingan terakhir di semua kompetisi.

Memang, catatan tersebut memiliki sedikit tanda bintang karena mencakup final Piala Afrika 2026 melawan Senegal—kemenangan yang kemudian diberikan kepada Maroko secara retrospektif dan masih menjadi sengketa di pengadilan. Namun demikian, rekor itu tetap sangat mengesankan.

Terakhir kali tim nasional Maroko menelan kekalahan adalah saat kalah 1-0 dari Kenya pada Agustus 2025 di Kejuaraan Negara-Negara Afrika (CHAN), turnamen yang hanya diikuti pemain dari liga domestik Afrika.

Setelah melewati 15 menit pertama pertandingan di Texas, Maroko tidak pernah benar-benar terlihat akan kalah.

Kanada sempat memperoleh dua peluang emas melalui Jonathan David dan Tani Oluwaseyi, tetapi keduanya berhasil digagalkan kiper Maroko, Bono. Sementara itu, untuk pertandingan kedua secara beruntun, Singa Atlas tidak menyentuh bola di kotak penalti lawan selama 15 menit pertama.

Namun begitu Maroko mulai menemukan ritme permainan, mereka langsung mengambil kendali penuh. Seperti yang dikatakan pelatih Kanada, Jesse Marsch, seusai pertandingan:

"Mereka sempat sedikit tertekan, tetapi mereka tidak pernah benar-benar runtuh."

Apakah Maroko Benar-Benar Kandidat Juara?

Dalam pertemuan dua tim yang sama-sama sedang menikmati generasi emas pemain berbakat, justru Maroko yang tampil paling bersinar.

Bagi Kanada, Alphonso Davies yang sedang cedera hanya bisa menyaksikan dari bangku cadangan ketika Maroko berhasil mematikan distribusi bola berbahaya Stephen Eustaquio dan membuat penyerang andalan Jonathan David hampir tak berkutik sepanjang laga.

Di sisi lain, kapten Maroko Achraf Hakimi—yang dianggap sebagai salah satu bek kanan terbaik di dunia—terus menjadi ancaman, baik saat menguasai bola maupun saat memberikan tekanan kepada para pemain Kanada.

Sementara itu, gelandang kreatif Brahim Diaz mencatat dua assist. Kini ia telah mengoleksi empat assist di Piala Dunia, terbanyak dibandingkan pemain Afrika mana pun sepanjang sejarah turnamen.

 

Pelatih Maroko, Mohamed Ouahbi, mengatakan, babak pertama berlangsung sangat intens. "Ada beberapa penyesuaian yang harus kami lakukan saat turun minum. Kami tidak pernah benar-benar aman dari tekanan lawan," ujarnya.

"Yang terpenting adalah kami tidak mengubah identitas kami dan tidak mengubah filosofi permainan kami. Banyak ide bermunculan, dan kami memilih yang terbaik."

 "Kami bermain di Piala Dunia, jadi tentu akan ada momen-momen sulit. Yang penting adalah ketika kami tidak berada dalam performa terbaik, kami tetap tangguh. Kami harus selalu mengingat siapa yang kami wakili dan untuk apa kami bermain," jelasnya.

Sejarah Baru bagi Sepak Bola Afrika

Kemenangan ini membawa Maroko lolos ke perempat final Piala Dunia putra untuk kedua kalinya secara beruntun, setelah pencapaian serupa di Qatar 2022.

Kini Maroko telah memenangkan empat pertandingan fase gugur Piala Dunia—dua pada 2022 dan dua pada 2026. Jumlah tersebut sama dengan total kemenangan seluruh negara Afrika lainnya di fase gugur Piala Dunia jika digabungkan.

Satu kemenangan lagi akan menyamai pencapaian luar biasa mereka pada Piala Dunia 2022, ketika menjadi negara Afrika pertama yang berhasil mencapai semifinal.

Karena itu, Maroko memang layak disebut sebagai kandidat juara, meskipun masih ada anggapan bahwa mereka belum benar-benar menghadapi lawan yang mampu menguji kemampuan terbaik mereka.

Mereka tampil impresif saat bermain imbang melawan Brasil di laga pembuka, kemudian meraih kemenangan dengan cara yang sangat berbeda atas Skotlandia dan Haiti—yang pertama melalui perjuangan keras setelah mencetak gol cepat dalam dua menit pertama, sedangkan yang kedua berakhir dengan kemenangan 4-2 dalam pertandingan yang berlangsung terbuka.

Pada babak 32 besar, Maroko sebenarnya tampil lebih baik daripada Belanda, tetapi membutuhkan gol sundulan pada masa tambahan waktu agar terhindar dari eliminasi.

Melawan Kanada, kemenangan akhirnya terasa cukup nyaman, tetapi kualitas permainan mereka belum cukup meyakinkan untuk membungkam para peragunya menjelang kemungkinan menghadapi Prancis di perempat final.

Kesuksesan yang Dibangun Bertahun-Tahun

Meski demikian, tidak diragukan lagi bahwa tim Maroko saat ini memiliki peluang terbesar dalam sejarah untuk menjadi negara Afrika pertama yang menjuarai Piala Dunia.

Keberhasilan mereka bukanlah sesuatu yang terjadi secara instan.

Fondasi utama kesuksesan Maroko adalah investasi jangka panjang yang didukung oleh Raja Mohammed VI.

Akademi sepak bola dan pusat pelatihan senilai sekitar 65 juta dolar AS (sekitar Rp1 triliun), yang sama-sama menyandang nama sang raja dibuka masing-masing pada tahun 2009 dan 2019. Fasilitas tersebut membantu Singa Atlas menjadi tim dengan peringkat tertinggi di Afrika.

Ouahbi mengatakan, semua yang terjadi dalam sepak bola Maroko saat ini adalah berkat Mohammed VI. "Beliau telah berinvestasi sangat besar dalam beberapa tahun terakhir, terutama melalui akademi ini," ujarnya.

Setelah tampil di tiga dari empat Piala Dunia antara 1986 hingga 1998, Maroko sempat absen selama 20 tahun dari putaran final.

Investasi tersebut mengubah nasib mereka sekaligus memungkinkan federasi merekrut pemain-pemain diaspora yang lahir di luar negeri, seperti Achraf Hakimi dan Brahim Diaz, yang keduanya lahir di Spanyol.

Semua itu memberikan Maroko daya saing dan rasa percaya diri yang kini menjadi contoh bagi banyak negara Afrika maupun dunia Arab. Aura mereka pun sangat berbeda dibandingkan empat tahun lalu.

Jika perjalanan mereka di Qatar 2022 dipenuhi rasa tak percaya, maka perjalanan mereka di Amerika Utara kali ini dijalani dengan keyakinan, tujuan yang jelas, dan ambisi besar untuk meraih gelar juara dunia.

Editor : Bahana.
#piala dunia 2026