Laga antara PSIM Jogja melawan Persib Bandung pada Senin (4/5) lalu tidak hanya menyisakan hasil pertandingan, tetapi juga memunculkan perhatian dan cerita terhadap aspek keamanan.
Dalam laga yang berlangsung dengan tensi tinggi di Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) tersebut, dan berkesudahan dengan skor 1-0 untuk kemenangan tuan rumah Persib Bandung, skuad PSIM harus meninggalkan stadion menggunakan kendaraan taktis lapis baja atau barakuda milik kepolisian sebagai langkah pengamanan.
Peristiwa ini menjadi sorotan karena jarang terjadi dalam pertandingan sepak bola nasional. Situasi di sekitar stadion dilaporkan tidak sepenuhnya kondusif, dan aparat keamanan mengambil keputusan untuk mengevakuasi pemain dan ofisial guna menghindari potensi risiko. Dalam video yang beredar tampak pemain PSIM mengabadikan pengalaman saat hendak naik hingga di dalam barakuda.
Dalam sesi wawancara pada Sabtu (9/5), pelatih PSIM Jogja Jean Paul van Gastel mengungkapkan, momen tersebut menjadi pengalaman yang belum pernah ia alami sepanjang kariernya di dunia sepak bola. Padahal dia malang melintang karirnya sebagai pemain di Eropa hingga jadi pelatih, yang sempat singgah di Tiongkok.
"Saya sudah berusia 54 tahun dan merasa sudah melihat banyak hal dalam karier saya sebagai pemain dan pelatih, tetapi naik mobil antipeluru itu pengalaman yang benar-benar baru," ujar mantan asisten Ronal Koemen dan Giovani van Bronckhorst itu.
Ia menyadari pertandingan tersebut memang berlangsung dengan tempo yang panas, dan keputusan untuk mengamankan semua pemain dan ofisial adalah langkah yang tepat. "Kami dievakuasi menggunakan kendaraan tersebut oleh pihak kepolisian untuk membawa kami keluar dengan aman," ungkap mantan gelandang Feyenoord Roterdam itu.
Van Gastel menjelaskan, indikasi gangguan keamanan sudah terlihat sejak sebelum pertandingan dimulai. Ia menyebut adanya pelemparan petasan ke arah pemain saat sesi pemanasan, yang kemudian menjadi salah satu pertimbangan aparat untuk meningkatkan pengamanan. "Ada petasan yang dilempar ke arah pemain saat pemanasan. Setelah itu, pertandingan juga sempat dijeda di babak kedua," terangnya.
Meski menghadapi situasi yang tidak biasa, pelatih asal Belanda tersebut menilai kondisi tetap terkendali dari sisi internal tim. "Secara pribadi saya tidak merasa tegang. Ini pengalaman baru, bahkan bisa dibilang unik," tambahnya.
Sementara itu, dari sisi pemain, pengalaman serupa juga dirasakan oleh Raka Cahyana. Ia mengakui bahwa penggunaan kendaraan taktis bukan hal yang sepenuhnya asing, meskipun tetap meninggalkan kesan tersendiri.
"Sebenarnya bukan yang pertama kali, sebelumnya saya pernah mengalami hal serupa. Saat saya main di Persija dan main di Bandung juga, tapi tetap jadi pengalaman yang seru," kata Raka.
Sementara itu, bek asing PSIM Franco Ramos Mingo, menggambarkan situasi tersebut sebagai sesuatu yang di luar ekspektasinya, terutama karena ini merupakan musim pertamanya bermain di Indonesia. Situasi yang belum pernah ditemui sebelumnya saat bermain di Liga Bulgaria.
"Itu gila. Saya tidak menyangka hal seperti itu, tapi mereka bilang itu untuk keamanan. Dan saya baik-baik saja, tidak masalah," bebernya. (pra)
Editor : Heru Pratomo