Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Gagal Nyetadion Bareng, Momen Haru Suporter PSIM dan Persija Nyanyikan Anthem Bersama di Jogja

Fahmi Fahriza • Rabu, 22 April 2026 | 19:29 WIB
Keseruan Nobar PSIM vs Persija di Embung Giwangan Jogja
Keseruan Nobar PSIM vs Persija di Embung Giwangan Jogja

 

 

Gerimis turun tipis di Taman Budaya Embung Giwangan, Jogjakarta, Rabu (22/4) sore. Di hadapan layar besar yang berdiri di tengah ruang terbuka, ribuan orang tetap bertahan. Sebagian mengenakan jas hujan, sebagian lagi membiarkan diri mereka basah.

Sorak-sorai sesekali pecah, mengalahkan suara rintik yang jatuh ke tanah. Tidak ada tribun, tidak pula ada pagar pembatas. Tapi pada sore itu, tempat ini bekerja seperti stadion.

Laga PSIM Jogja kontra Persija Jakarta di pekan 29 kompetisi BRI Super League 2025/2026 memang batal dimainkan di kota Jogja. Laga tersebut dipindahkan ke Bali dan digelar tanpa penonton, pertandingan itu kehilangan satu hal yang paling esensial: atmosfer suporter.

Baca Juga: Gudang Penyimpanan Jadi Sasaran Operasi Pengawasan Satpol PP Gunungkidul, Berhasil Sita Ribuan Rokok Ilegal Senilai Ratusan Juta

Namun, yang hilang dari stadion, justru tumbuh di tempat lain. Sejak sekitar satu jam jelang kick-off, kawasan Embung Giwangan mulai dipadati suporter dari dua kubu. Biru dan oranye bercampur dalam satu ruang, tanpa sekat yang biasanya memisahkan mereka di tribun.

Ketika peluang tercipta, reaksi datang serentak. Ketika gol lahir, sorakan membumbung dengan lantang berbeda arah, tapi tetap dalam batas yang sama, dan penuh kedewasaan.

Tak ada provokasi. Tak ada gesekan berarti. Yang muncul justru kesadaran kolektif bahwa momen ini terlalu langka untuk dirusak.

Baca Juga: TMMD Reguler 128 Sasar Kalurahan Sidorejo Kulon Progo, Berikut Daftar Perbaikan Fisik dan Nonfisik

Hasil akhir pertandingan 1-1 terasa seperti catatan kecil. Yang lebih penting adalah fakta bahwa mereka tetap hadir, menyalurkan hasratnya memberikan dukungan, dan mempererat jalinan silaturahmi.

Bagi sebagian orang, perjalanan menuju Jogja bahkan sudah dimulai jauh sebelum keputusan pemindahan venue diumumkan.

Anas Malik, suporter Persija asal Kemayoran, termasuk di antaranya. Ia datang bersama rombongan yang mencapai sekitar 200 orang, sebagian besar menggunakan kereta.

"Mungkin karena sudah persiapan dari jauh-jauh hari, sudah cuti kerja, pesan tiket, sampai homestay. Kalau tidak berangkat malah rugi,"  ujarnya.

Baca Juga: Calon Jamaah Haji Kloter 1 YIA Kulon Progo Telah Sampai Madinah, Meski Sempat Delay Gegara Seremonial

Namun di luar soal biaya dan rencana, ada hal lain yang membuat perjalanan ini menurutnya tetap layak dan sepadan untuk dijalani.

"Sekarang temanya bukan away, tapi holiday. Yang penting bisa ketemu, temu kangen sama teman-teman di Jogja," katanya.

Kalimat itu menjelaskan banyak hal. Bahwa pertandingan bisa berpindah, tapi alasan orang datang tidak selalu ikut berubah. Di tengah keterbatasan situasi, pertemuan justru menjadi inti.

Hal yang sama disoroti Presiden Brajamusti Muslich Burhanuddin atau Thole. Ia melihat momen ini sebagai ujian sekaligus peluang untuk menjaga hubungan yang sudah terbangun.

Baca Juga: Aksi Heroik Cahya Supriadi Beri Satu Poin bagi PSIM Jogja saat Menjamu Persija Jakarta di Bali

"Apapun itu, saya berharap jangan sampai kejadian ini membuat hubungan baik antara Brajamusti dan The Jakmania menjadi renggang," ujarnya.

Ia menyebut kehadiran suporter Persija di Jogja sebagai sesuatu yang harus dihargai, bukan diabaikan.

"Teman-teman Jakarta yang sudah hadir di Jogja bisa menikmati pertandingan meski cuma nobar. Yang jelas kita bersama menunjukkan bahwa hubungan Brajamusti dan Jakmania istimewa, harmonis," tegasnya.

Pernyataan tersebut bukan sekadar simbolik. Di lapangan, suasana yang tercipta benar-benar mencerminkan hal tersebut.

Baca Juga: Prediksi Skor Barcelona vs Celta Vigo La Liga Kamis 23 April 2026, Upaya Blaugrana Restorasi Keunggulan di Puncak Klasemen

Gerimis tak menghentikan mereka. Hingga peluit panjang berbunyi, sebagian besar tetap bertahan di tempatnya. Bahkan setelah pertandingan usai, tak ada tanda-tanda kerumunan akan segera bubar.

"Kita anggap saudara-saudara dari Jakarta ini sebagai keluarga. Jogja adalah rumah kedua bagi Jakmania," ujar Thole.

Sesuatu yang magis dan lebih besar dari sepakbola terjadi pasca pertandingan. Lagu Persija Menyatukan Kita Semua, dan lagu Aku Yakin Dengan Kamu diputar bergantian, dinyanyikan serentak tanpa komando. Dua anthem itu bergema bergantian, tanpa saling menenggelamkan.

Di tempat yang tidak dirancang sebagai stadion, mereka telah menciptakan sesuatu yang lebih sulit dipindahkan, yakni rasa kebersamaan yang tidak bergantung pada lokasi pertandingan. (iza)

Editor : Heru Pratomo
#persija #PSIM #Brajamusti #jakmania #Embung Giwangan