JOGJA - Status sebagai tim promosi tak membuat PSIM Jogja kehilangan ambisi dalam peta persaingan di BRI Super League 2025/2026. Namun di tengah posisi yang cukup nyaman di papan atas, manajemen memilih tetap membumi.
Hingga pekan ke-21 BRI Super League 2025/2026, PSIM bertengger di peringkat ketujuh klasemen sementara dengan koleksi 32 poin. Torehan itu membuat Laskar Mataram menjadi salah satu tim promosi paling kompetitif musim ini.
Meski begitu, Manajer Tim PSIM Razzi Taruna menegaskan, timnya masih dalam proses belajar untuk benar-benar bisa bersaing dengan klub-klub papan atas. "Bukan berarti kita enggak boleh bermimpi, boleh. Saya pun sama, ingin bisa lebih tinggi. Tapi kita juga harus ingat, kita ini tim promosi, kita masih belajar," ujarnya, Jumat (20/2).
Menurutnya, sejak awal musim manajemen memang memasang target realistis, yakni bertahan di kasta tertinggi dengan nyaman. Karena itu, komposisi skuad dibangun dengan perpaduan pemain berpengalaman Liga 1 dan talenta yang sudah memahami karakter tim.
"Target kita dari awal bertahan dengan nyaman. Makanya kita ambil pemain-pemain yang sudah punya pengalaman di Liga 1 supaya ada jaminan kualitas," katanya.
Razzi juga menegaskan, PSIM dibangun dengan fondasi yang jelas, terutama dalam hal filosofi permainan. Ia mengaku manajemen sangat selektif dalam memilih pelatih, karena ingin tim memiliki identitas kuat dan tidak bergantung pada intervensi manajemen dalam urusan teknis.
"Saya bukan tipe manajer yang intervensi teknis. Pelatih kepala itu fondasi utama. Kita ingin tim ini punya identitas dan karakter," tegasnya.
Saat ini PSIM memang berada dalam posisi yang relatif aman di papan klasemen. Namun Razzi mengingatkan, kompetisi masih panjang dan apa pun bisa terjadi di putaran kedua ini.
"Sekarang alhamdulillah kita ada di posisi yang baik. Tapi ini bukan akhir. Jangan lengah," ucapnya.
Di sisi lain, manajer kelahiran Jakarta itu pun meminta suporter untuk tetap realistis meski optimisme terus tumbuh. Dengan 32 poin di tangan dan momentum yang cukup positif, PSIM memang membuka peluang untuk mencatatkan musim debut yang impresif.
Namun bagi manajemen, konsistensi dan proses jangka panjang tetap menjadi prioritas utama dibanding euforia sesaat. "Kita boleh berharap lebih tinggi. Kita juga ingin lebih baik dari sekarang. Tapi pelan-pelan, kita belajar untuk bisa bersaing dengan tim-tim papan atas," tandas Razzi. (iza/laz)