Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Satu Pemain PSS Sleman Belum Bisa Tanding Gara-Gara Ditangani Dokter Gadungan

Rizky Wahyu Arya Hutama • Kamis, 1 Februari 2024 | 03:12 WIB
Presiden Direktur PT Putra Sleman Sembada (PT PSS) Gusti Randa
Presiden Direktur PT Putra Sleman Sembada (PT PSS) Gusti Randa

SLEMAN - Presiden Direktur PT Putra Sleman Sembada (PT PSS) Gusti Randa menyatakan ada satu pemain dari tim Super Elja yakni Saddam Gaffar yang sampai hari ini belum bisa ikut bermain membela tim di kompetisi BRI Liga 1 2023/2024 ini.

Itu gara-gara pemain tersebut ditangani oleh dokter gadungan yakni Elwizan Aminuddin saat mengalami cedera.

"Belum bisa kami mainkan karena mungkin tidak fit. Saddam cedera saat itu kalau tidak salah dia yang merekomendasikan," ujarnya (31/1).

Pada Selasa (30/1) lalu, polisi telah berhasil menangkap dokter gadungan yang pernah bekerja di PSS Sleman yang bernama Elwizan Aminuddin setelah dua tahun buron.

Elwizan dilaporkan terkait kasus pemalsuan ijazah ke Polresta Sleman pada 3 Desember 2021 silam.

Elwizan Aminuddin kabarnya mengundurkan diri secara lisan pada 1 Desember 2021 lalu ke direktur utama PSS Sleman yang saat itu ditangani oleh Andy Wardhana.

Saat itu Elwizan pamit untuk pulang ke Palembang dengan alasan orang tuanya sakit. Namun, ia tak pernah kembali lagi ke PSS Sleman.

Kasus dokter gadungan ini berawal pada tahun 2020 silam. Kala itu PSS Sleman sedang membutuhkan dokter untuk tim.

Kemudian, Elwizan Amiruddin memasukan lamaran ke PSS Sleman dan diterima.

Namun, belakangan modusnya telah terungkap. Bahwa ijazah yang digunakan oleh Elwizan itu adalah ijazah palsu.

Bermodalkan ijazah palsu itu, dokter gadungan Elwizan melamar ke tim-tim sepak bola yang bermain di Liga Indonesia sebagai dokter tim. 

Uniknya, Elwizan Aminudin kabarnya sudah pernah menjadi dokter tim di beberapa klub sepak bola di Liga Indonesia seperti Persita Tangerang, Barito Putra, Bali United, Madura United, dan PSS Sleman.

Bahkan, dokter gadungan itu juga pernah menjadi dokter Timnas Indonesia U-19.

Tak hanya itu, kabarnya selama menjadi dokter di tim PSS Sleman, Elwizan Aminudin mendapatkan gaji Rp 15 juta per bulan.

Bahkan, ia juga pernah mendapatkan gaji termasuk bonus dari Super Elja sebesar Rp 25 juta.

Gusti Randa mengatakan, PSS Sleman bukanlah tim pertama yang mendapatkan dokter gadungan tersebut.

Sebab, menurutnya, Laskar Sembada mendapatkan dokter itu setelah tim-tim Liga Indonesia yang lain mempekerjakannya.

"Kan tahunya kami di PSS Sleman, ketika tersangka itu pulang, terus gak mau balik lagi," ucapnya.

Menurut Gusti Randa, sepak bola adalah olahraga yang rentan terhadap cedera. Bahkan, saat melakukan latihan.

Oleh sebab itu, dokter profesional yang kualifikasinya jelas sangat dibutuhkan di sebuah klub sepak bola.

"Ya, masa bila ada pemain yang mengalami cedera, kan tidak mungkin dibawa ke dukun patah," tegasnya.

Gusti Randa menyebut, hal-hal seperti dokter gadungan ini adalah salah satu hal yang membuat ribut dari sepak bola.

Dia berharap hal-hal seperti itu tidak terjadi lagi di dunia sepak bola.

"Ya, bagimana kami sedang giat-giatnya membangun sepak bola, tapi ada aja masalahnya. Semoga ke depan tidak ada hal seperti ini lagi, semua harus mengikuti regulasi dan lisensi," jelasnya.

Menurut Gusti Randa, PT Liga Indonesia Baru (LIB) telah menyatakan ada beberapa aturan untuk sebuah klub sepak bola. Salah satunya adalah punya dokter.

"Jadi, tetap ada regulasinya," tandasnya. (ayu)

Editor : Amin Surachmad
#Saddam Gaffar #PSS #gusti randa #Liga 1