RADAR JOGJA - Tubuh sudah lelah, lampu kamar sudah dimatikan, tetapi pikiran justru semakin ramai.
Kita mengulang percakapan seharian, memikirkan pekerjaan besok, atau tiba-tiba teringat kesalahan bertahun-tahun lalu.
Overthinking sebelum tidur adalah hal yang cukup umum.
Kondisi ini bisa muncul karena malam menjadi satu-satunya waktu ketika tubuh berhenti sibuk, sementara pikiran belum benar-benar ikut beristirahat.
Sepanjang hari, perhatian kita dipenuhi pekerjaan, percakapan, media sosial, dan berbagai aktivitas.
Baca Juga: Jelang Liverpool vs Man City, Erling Haaland Serukan Persatuan Usai Vonis Bersalah The Citizens
Begitu berbaring, semua distraksi itu hilang. Pikiran yang sebelumnya tertunda akhirnya muncul satu per satu.
Masalah yang belum selesai juga cenderung terus teringat.
Tugas yang belum beres, keputusan yang belum dibuat, atau persoalan yang belum menemukan jawaban bisa membuat otak terus mencari solusi, bahkan ketika tubuh sudah membutuhkan tidur.
Ketika mengalami stres, tubuh berada dalam kondisi waspada.
Detak jantung meningkat, otot menegang, dan pikiran terus mencari kemungkinan masalah.
Kondisi ini dikenal sebagai hyperarousal. Tubuh yang masih siaga tentu lebih sulit masuk ke kondisi rileks yang dibutuhkan untuk tidur.
Baca Juga: Enzo Maresca Percaya dengan Manchester City Sepenuhnya
Selain itu, saat tidak sedang fokus pada aktivitas tertentu, otak memasuki kondisi yang berkaitan dengan melamun, mengingat masa lalu, dan membayangkan masa depan.
Pada orang yang rentan cemas, proses ini dapat berubah menjadi ruminasi memikirkan hal yang sama berulang kali tanpa menemukan solusi.
Sehingga hal ini mempengaruhi waktu tidur.
Proses berpikir merenungkan peristiwa, masalah maupun perasaan negatif yang menyelimuti dan berlangsung berulang-ulang, akan mempengaruhi pola tidur.
Dilain sisi ada perasaan khawatir akan mengantuk di keesokan harinya.
Kekhawatiran tersebut membuat tubuh semakin tegang.
Akibatnya, semakin keras kita memaksa diri untuk tidur, semakin sulit pula rasa kantuk datang.
Baca Juga: Tampilan Mesin Pencarian Google, Peringati Pekan Antariksa Dunia 2026 dengan Tajuk Revolusi Roket
Beberapa kebiasaan sebelum tidur dapat membuat kondisi ini semakin sulit dikendalikan, antara lain:
• Terlalu lama scrolling media sosial atau membaca berita.
• Menggunakan layar hingga menjelang tidur.
• Mengonsumsi kafein pada sore atau malam hari.
• Memiliki jadwal tidur yang tidak teratur.
• Menjadikan tempat tidur sebagai tempat bekerja atau memikirkan masalah.
Cara Mengurangi Overthinking Sebelum Tidur
Ada beberapa langkah sederhana yang bisa dicoba:
1. Tulis apa yang mengganggu pikiran. Catat tugas atau persoalan yang perlu ditangani besok agar tidak terus berputar di kepala.
2. Buat rutinitas malam. Kurangi penggunaan ponsel sekitar 30–60 menit sebelum tidur dan lakukan aktivitas yang menenangkan, seperti membaca atau peregangan ringan.
3. Atur napas. Tarik dan buang napas secara perlahan untuk membantu tubuh mengurangi ketegangan.
4. Jangan memaksa pikiran berhenti. Biarkan pikiran muncul tanpa harus diikuti atau dihakimi.
Baca Juga: Tragedi Kos Pinang Ranti: Mahasiswi 19 Tahun Ditemukan Tewas Terikat
5. Bangun jika terlalu lama terjaga.
Jika sudah sekitar 20 menit tetapi belum mengantuk, lakukan aktivitas tenang dengan cahaya redup dan kembali ke tempat tidur ketika rasa kantuk muncul.
6. Jaga jadwal tidur.
Tidur dan bangun pada waktu yang relatif sama setiap hari dapat membantu membentuk pola tidur yang lebih konsisten.
Overthinking sesekali bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan.
Namun, jika sulit tidur berlangsung selama berminggu-minggu, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau disertai kecemasan, kesedihan berkepanjangan, dan kelelahan berat, sebaiknya konsultasikan dengan dokter, psikolog, atau psikiater.
Baca Juga: Bos Hino Jepang Sapa Siswa Jogja, Tularkan Filosofi Monozukuri di Era Vokasi Modern
Overthinking sebelum tidur bukan berarti ada yang salah dengan diri kita.
Ketika suasana menjadi sunyi, otak memang mendapat lebih banyak ruang untuk memproses berbagai hal yang tertunda.
Yang penting, jangan biarkan kebiasaan itu terus mengorbankan waktu istirahat.
Dengan mengurangi stimulasi sebelum tidur, menata rutinitas malam, dan belajar tidak mengikuti setiap pikiran yang muncul, kepala perlahan bisa ikut tenang ketika tubuh mulai beristirahat.
Editor : Meitika Candra Lantiva