SLEMAN - Tren penggunaan khimar bandana atau khiban kian menguat dalam beberapa waktu terakhir. Semula khiban hanya sekadar bagian dari dinamika fesyen muslimah, kini justru mulai bergeser menjadi kebutuhan dan gaya hidup.
Terutama di kalangan perempuan muda yang aktif di komunitas kajian dan media sosial.
Pengguna khiban asal Condongcatur, Sleman, Selmadena Aquilla menceritakan perjalanannya mengenal khiban tidak terjadi secara instan. Ia memulai dari proses berhijrah dalam berpakaian, dari yang semula tidak mengenakan busana syar'i hingga beralih secara bertahap.
Baca Juga: Gagal Temui Seluruh Fraksi DPRD DIY, Mahasiswa Ancam Eskalasi Massa Lebih Besar Pekan Depan
"Awalnya dari hijab segi empat, lalu tren bergeser ke french khimar yang dipengaruhi gaya perempuan Timur Tengah. Setelah itu, barulah khimar mulai dikenal luas," ujarnya melalui sambungan telepon, Kamis (21/5/2026) malam.
Perkembangan tren tersebut tidak berhenti pada satu model. Khimar kini hadir dalam berbagai variasi, seperti khiban segi empat hingga pashmina bandana (pashban). Pilihan ini memberi fleksibilitas bagi pengguna untuk menyesuaikan dengan aktivitas sehari-hari.
Menurut Selma, lonjakan popularitas khiban turut dipicu oleh peran influencer dan kreator konten di media sosial. Promosi masif membuat produk ini semakin dikenal dan diterima masyarakat luas.
Baca Juga: Disdikpora DIY Kumpulkan Data dan Klarifikasi Terkait Dugaan Kasus Bullying di SMAN 2 Bantul
"Sebagai pengguna sekaligus seller, saya senang karena khimar sekarang diterima secara masif dan positif, meskipun tetap ada pro dan kontra," katanya.
Di lingkungan sekitarnya, penggunaan khimar bahkan telah menjadi semacam standar baru. Dia menyebut, di kalangan teman-teman kajiannya, penggunaan hijab segi empat mulai ditinggalkan dan digantikan oleh french khimar, khiban, atau pashban.
Dari sisi desain, khiban memiliki karakteristik khas berupa tali bandana yang diikat di belakang leher. Berbeda dengan french khimar yang memiliki dua fungsi sekaligus, termasuk opsi cadar, khiban lebih sederhana dan fokus pada penutup kepala dan dada.
Baca Juga: Ratusan ASN Pemkot Jogja Dibekali Keterampilan agar Tetap Produktif saat Masuki Masa Pensiun, 'Jangan Jadi Beban Keluarga'
Selain faktor tren, kenyamanan menjadi alasan utama banyak perempuan beralih ke khiban. Selma mengakui, pada awal penggunaan, ia sempat merasa gerah dan terganggu dalam mobilitas. Namun, seiring waktu, rasa tersebut berubah menjadi kenyamanan.
"Sekarang justru merasa tidak nyaman kalau tidak pakai khimar," lontarnya.
Pengalaman tersebut menunjukkan adanya pergeseran fungsi khiban, dari sekadar fesyen statement menjadi kebutuhan sehari-hari. Terlebih bagi mereka yang aktif dan membutuhkan busana praktis, khiban dinilai sat-set dan mudah digunakan.
Baca Juga: Catat! Pasar Kangen TBY 2026 Segera Hadir dengan Total 294 Tenant: Ini Jadwalnya
Dari sisi gaya, khiban juga fleksibel dipadukan dengan berbagai outfit. Seperti abaya, rok dengan atasan oversized, hingga kombinasi outer atau vest untuk tampilan yang lebih edgy.
Meski demikian, lanjut Selma, perjalanan tren khiban tidak lepas dari stigma. Pada awal kemunculannya, sebagian masyarakat menilai model ini terlalu ekstrem atau tidak sesuai standar tertentu. Namun, seiring meningkatnya eksposur di media sosial, pandangan tersebut mulai berubah.
"Awalnya ada yang skeptis, tapi setelah sering melihat dan mencoba, akhirnya jadi lebih terbuka," terangnya.
Baca Juga: Dua Siswa Lulus dengan Nilai Memuaskan, SD Negeri Brosot Kulon Progo Raih Prestasi Terbaik Tiga Thun Berturut-turut
Dari sisi industri, perkembangan khiban juga terlihat pada inovasi bahan. Jika sebelumnya didominasi material seperti ceruti, kini produsen mulai menghadirkan bahan baru seperti anti-UV dan voal yang lebih nyaman untuk iklim tropis.
Dia menilai, meluasnya variasi produk menandakan bahwa khiban tidak lagi menjadi pasar yang segmented, melainkan telah masuk ke pasar yang lebih luas. Kehadiran influencer dan selebgram turut mempercepat adopsi tren ini di berbagai kalangan.
Meski tengah berada di puncak popularitas, Selma memprediksi tren khiban memiliki siklus seperti fesyen pada umumnya. Namun, bagi sebagian pengguna, termasuk dirinya, khiban bukan sekadar mengikuti tren. Ada nilai religius di dalamnya.
"Selama memenuhi syariat dan membuat nyaman, saya akan tetap pakai," ungkapnya. (aya/wia)