Alasan Bitcoin Gagal Breakout, Meski Harga Bitcoin Tunjukkan 3 Sinyal Bullish

Editor News • Dipublikasikan Senin, 13 April 2026 | 17:00 WIB
Ilustrasi mata uang Bitcoin. Merupakan mata uang kripto pertama dan masih paling umum diperdagangkan.
Ilustrasi mata uang Bitcoin. Merupakan mata uang kripto pertama dan masih paling umum diperdagangkan.

Harga Bitcoin kembali menunjukkan sinyal bullish dalam sepekan terakhir, namun belum mampu menembus level resistance penting. Fenomena ini menarik perhatian karena secara teknikal peluang kenaikan cukup besar.

Oleh karena itu, penting untuk memahami kombinasi analisis teknikal dan data on-chain agar dapat melihat apakah Bitcoin akan benar-benar breakout atau justru kembali melemah. Untuk itu, membutuhkan aplikasi dengan fitur yang lengkap.

Salah satu aplikasi yang memiliki fitur lengkap di Indonesia adalah Pintu. Bahkan Pintu dikenal sebagai aplikasi all in one yang menawarkan trading spot dan trading futures crypto, melakukan investasi emas crypto, membeli saham tertokenisasimelalui fitur xStocks, bahkan ETF perak tertokenisasi.

Dengan memanfaatkan kelengkapan fitur maka kamu bisa memantau sinyal kripto hari ini. Hal ini tentunya menjadi hal yang sangat penting ketika kamu melakukan analisa teknikal dan fundamental untuk memprediksi pergerakan harga crypto.

Apalagi jika kamu melakukan trading futures, yang penuh resiko, dibutuhkan aplikasi trading future crypto Indonesia yang bisa meningkat peluang keuntungan. Karena trader ingin mengambil peluang baik saat harga naik maupun turun di tengah ketidakpastian ini.

Sementara itu, saat ini pergerakan Bitcoin dalam beberapa hari terakhir menunjukkan pola yang cukup unik. Meskipun sinyal bullish terus muncul, harga tetap tertahan di zona resistance yang sama. Hal ini membuat banyak trader mulai mempertanyakan kekuatan tren naik yang sedang terjadi.

Tiga Sinyal Bullish yang Terus Berulang

Dalam satu minggu terakhir, Bitcoin mencetak tiga kali sinyal bullish yang sama pada grafik 8 jam, yaitu divergensi pada indikator Relative Strength Index (RSI). Divergensi ini terjadi ketika harga membentuk lower low, sementara RSI justru mencetak higher low.

Kondisi tersebut biasanya menjadi tanda bahwa tekanan jual mulai melemah dan potensi pembalikan arah sedang terbentuk. Oleh karena itu, setiap kali sinyal ini muncul, harga Bitcoin memang sempat mengalami kenaikan.

Pada 31 Maret, divergensi pertama menghasilkan reli sekitar 4,83%. Kemudian pada 3 April, sinyal kedua hanya menghasilkan kenaikan sebesar 1,47%. Sementara itu, sinyal ketiga pada 5 April kembali mendorong harga naik sekitar 4,24%.

Namun demikian, ketiga reli tersebut memiliki satu kesamaan, yaitu semuanya gagal menembus resistance yang sama.

Resistance Kuat di Area US$69.000

Setiap kenaikan yang terjadi selalu tertahan di bawah area sekitar US$69.182. Level ini menjadi semacam “plafon” yang sulit ditembus oleh harga Bitcoin dalam beberapa hari terakhir.

Meskipun pada saat ini harga sempat bergerak sedikit di atas level tersebut, namun belum ada penutupan yang benar-benar kuat untuk mengonfirmasi breakout. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan jual di area tersebut masih cukup besar.

Dengan kata lain, sinyal teknikal memang mendukung kenaikan, tetapi kekuatan pasar belum cukup untuk mendorong harga melewati resistance utama.

Data On-Chain Menunjukkan Pelemahan

Untuk memahami kenapa breakout belum terjadi, kita perlu melihat data on-chain yang mencerminkan perilaku pelaku pasar besar.

Data dari Glassnode menunjukkan bahwa jumlah wallet whale, yaitu pemegang lebih dari 1.000 BTC, mengalami penurunan. Dari sebelumnya sekitar 1.281 entitas, kini turun menjadi 1.266.

Penurunan ini terlihat kecil, namun memiliki dampak besar. Hal ini karena whale biasanya menjadi pendorong utama dalam pergerakan harga besar. Ketika jumlah mereka berkurang, maka tekanan beli juga ikut melemah.

Selain itu, indikator Long-Term Holder Net Position Change juga menunjukkan penurunan signifikan. Dari sekitar 163 ribu BTC pada pertengahan Maret, kini turun menjadi sekitar 87 ribu BTC. Artinya, holder jangka panjang mulai mengurangi eksposur mereka.

Dengan demikian, kepercayaan pasar jangka panjang terlihat mulai melemah, meskipun belum sepenuhnya hilang.

Hambatan dari Klaster Supply

Selain faktor whale dan holder jangka panjang, ada juga hambatan dari sisi distribusi supply. Data UTXO Realized Price Distribution (URPD) menunjukkan adanya klaster supply sebesar sekitar 1,7% di area harga saat ini.

Artinya, banyak investor yang membeli Bitcoin di level tersebut dan kemungkinan besar akan menjual ketika harga kembali ke titik impas. Hal ini menciptakan tekanan jual tambahan yang menghambat kenaikan.

Namun demikian, di atas level tersebut, tepatnya di sekitar US$70.685, klaster supply mulai menipis. Jika harga berhasil menembus area ini, maka peluang kenaikan lebih lanjut menjadi lebih besar karena hambatan supply berkurang.

Level Penting yang Harus Diperhatikan

Dalam jangka pendek, terdapat beberapa level penting yang menjadi acuan pergerakan Bitcoin. Resistance terdekat berada di sekitar US$69.920. Jika harga mampu bertahan di atas level ini selama beberapa jam, maka peluang breakout akan semakin besar.

Setelah itu, target berikutnya berada di area US$71.956. Penutupan di atas level ini akan mengkonfirmasi bahwa Bitcoin berhasil keluar dari fase konsolidasi.

Namun di sisi bawah, support terdekat berada di US$68.660. Jika level ini ditembus, maka harga berpotensi turun ke area US$66.624, yang sebelumnya menjadi zona pertahanan kuat. Jika support tersebut gagal bertahan, maka penurunan bisa berlanjut hingga sekitar US$63.329.

Kenapa Sinyal Bullish Belum Cukup?

Meskipun indikator teknikal menunjukkan sinyal positif, faktor fundamental dan on-chain justru memberikan gambaran yang berbeda.

Divergensi RSI memang menandakan potensi pembalikan, namun tanpa dukungan volume dan akumulasi dari whale, sinyal tersebut tidak cukup kuat untuk mendorong breakout.

Selain itu, tekanan jual dari investor yang ingin keluar di harga impas juga menjadi penghambat utama. Oleh karena itu, kombinasi faktor teknikal dan on-chain harus diperhatikan secara bersamaan.

Dari berbagai analisa diatas, maka dapat disimpulkan harga Bitcoin saat ini berada di titik krusial. Tiga sinyal bullish yang muncul dalam seminggu terakhir menunjukkan potensi kenaikan, namun belum mampu menembus resistance utama.

Di sisi lain, data on-chain menunjukkan adanya pelemahan dari whale dan holder jangka panjang, yang menjadi alasan utama kenapa breakout belum terjadi.

Jika Bitcoin mampu bertahan di atas US$69.920, maka peluang untuk melanjutkan kenaikan akan semakin besar. Namun, jika gagal dan turun dibawah support penting, maka risiko koreksi masih terbuka.

Dengan demikian, trader perlu lebih berhati-hati dan menggabungkan analisis teknikal serta fundamental sebelum mengambil keputusan di kondisi pasar seperti ini.

Editor : Bahana.
bitcoin bullish bitcoin