RADAR JOGJA - Di tengah dinamika kehidupan sehari-hari, makanan kukusan kian diminati oleh generasi muda sebagai alternatif pola konsumsi yang lebih sehat dan praktis.
Kesadaran generasi muda terhadap pentingnya asupan gizi mendorong pergeseran pola makan, dari gorengan berminyak dan makanan cepat saji menuju hidangan kukusan yang sederhana dan bernutrisi.
Metode memasak tanpa minyak berlebih ini dinilai mampu mempertahankan kandungan alami bahan pangan sekaligus menjawab kebutuhan akan makanan praktis tanpa mengabaikan aspek kesehatan.
Selain dianggap lebih sehat, makanan kukusan juga dinilai efisien dari segi waktu dan biaya, sehingga cocok dengan gaya hidup generasi muda yang cenderung dinamis.
Proses pengolahan yang relatif sederhana membuat menu ini mudah disiapkan, baik untuk konsumsi pribadi, bekal aktivitas harian, maupun sebagai peluang usaha kuliner skala kecil yang mulai banyak digeluti anak muda.
Maraknya Pedagang Kukusan di Ruang Publik
Popularitas makanan kukusan tercermin dari semakin mudahnya menu ini ditemui di berbagai ruang publik.
Penjual makanan kukusan kini banyak hadir di kawasan pinggir jalan, Car Free Day (CFD), pasar tradisional, hingga food court modern dan pusat perbelanjaan.
Menu yang ditawarkan pun beragam, mulai dari umbi-umbian seperti singkong, kentang, ubi, dan ketela, hingga sayuran seperti brokoli, wortel, jagung, serta aneka kacang-kacangan dan telur.
Pilihan menu tersebut diminati karena harganya relatif terjangkau dan dianggap lebih aman untuk dikonsumsi secara rutin.
Umbi-umbian dan kacang-kacangan dikenal sebagai sumber serat dan karbohidrat kompleks yang mampu memberikan rasa kenyang lebih lama, sementara telur rebus menjadi sumber protein yang mudah diperoleh dan diolah.
Kombinasi ini menjadikan makanan kukusan sebagai alternatif pangan sederhana yang mampu memenuhi kebutuhan energi harian dengan asupan kalori yang lebih terkendali, khususnya bagi masyarakat yang sedang menjaga berat badan atau menerapkan pola makan tertentu.
Kembali ke Akar Tradisi di Era Modern
Tren makanan kukusan juga dipandang sebagai bentuk kembalinya masyarakat pada pola makan tradisional Indonesia.
Sejak lama, metode mengukus telah menjadi bagian dari kebiasaan memasak di berbagai daerah, terutama dalam pengolahan umbi-umbian dan kacang-kacangan sebagai sumber pangan utama.
Makanan kukusan dahulu dikonsumsi secara luas karena mudah dibuat, mengenyangkan, serta memanfaatkan bahan-bahan lokal yang tersedia.
Dalam konteks masyarakat modern, pola konsumsi tersebut kembali muncul dengan makna yang berbeda.
Jika sebelumnya makanan kukusan identik dengan konsumsi rumah tangga di pedesaan, kini menu serupa justru hadir sebagai simbol kesadaran baru akan kesehatan di tengah kehidupan perkotaan.
Makanan kukusan tidak lagi dipandang sebagai pilihan sederhana saja, melainkan sebagai bagian dari gaya hidup yang mengutamakan keseimbangan antara kepraktisan dan kualitas gizi. (Alya Ruhadatul Nabilah Aisy)
Editor : Meitika Candra Lantiva