JOGJA - Modifikasi joran paling populer di kalangan pemancing dikenal dengan sebutan kolongan WD. Model ini bukan sekadar aksesoris. Melainkan perpaduan visual menarik, fungsi praktis, serta cerita adaptasi budaya memancing antardaerah.
Penjual joran custom Deny Satriawan menyebut, istilah WD sendiri merupakan adaptasi dari daerah barat. Merujuk pada wilayah seperti Purbalingga dan Banyumas. Di daerah asalnya, kolongan ini lebih dikenal dengan sebutan eternium. Namun di Jogjakarta, identik dengan nama WD atau wonge dewe.
Baca Juga: Tradisi Masangin: Mitos Hajat Akan Terkabul Melewati Pohon Beringin Kembar di Alun-Alun Kidul Jogja
Menurutnya, ada perbedaan mencolok yang terlihat pada material yang digunakan. Kolongan WD khas Purbalingga memiliki ketebalan bahan sekitar 2 milimeter. Sementara di Jogjakarta, memiliki bahan yang digunakan cenderung lebih tipis. Rata-rata hanya 1 milimeter. Membuat joran menjadi lebih ringan.
Deny juga menjelaskan jika model kolongan WD inu dikenal memiliki daya tarik utama pada aspek visual. Banyak pemancing yang mulai beralih karena tampilan joran yang menjadi lebih menarik setelah dimodifikasi. "Tapi itu kembali lagi pada selera pribadi pemancing," kata pemilik brand About Tegek ini Jumat (17/10).
Secara fungsional, kelebihan kolongan WD dibandingkan kolongan lain adalah bobotnya lebih ringan. Jenis ini juga lebih gampang untuk dimodifikasi. Sehingga bisa meningkatkan daya tarik visual dan membuat nilai jual joran naik. "Di komunitas pemancing, joran dengan kolongan WD harga jualnya lebih stabil," ungkapnya.
Umumnya, biaya modifikasi dimulai dari sekitar Rp 150.000 hingga mencapai Rp 400.000 untuk material yang paling mahal. Menyesuaikan bahan baku kolongan yang digunakan. “Aluminium paling murah. Lalu stainless, kuningan, dan titanium yang saat ini menjadi material yang paling mahal dan eksklusif,” rincinya.
Baca Juga: Buntut Keracunan di Tiga Sekolah Mlati, 1.800 dari 4.000 Porsi MBG Dibuang
Deny juga menjelaskan, sebenarnya tren kolongan WD ini mulai viral pada tahun lalu. Cocok untuk memancing dengan teknik kambangan (pelampung) dan kumpul (mengumpulkan ikan). (ayu/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita