RADAR JOGJA - Pakar sosiologi menilai fenomena side hustle sebagai bentuk kegiatan yang positif bagi anak-anak muda. “Karena seharusnya mahasiswa memang tidak kuliah pulang tapi punya aktivitas lain, salah satunya pekerjaan sampingan,” ujar Sosiolog UGM Nurul Aini kepada Radar Jogja Jumat (26/9).
Nurul menyebut, pekerjaan sampingan bisa menjadi salah satu upaya mahasiswa untuk membangun portofolio. Sebab ketika sudah memasuki dunia kerja, pengalaman semasa kuliah menjadi salah satu faktor penting.
Selain itu, kegiatan side hustle juga bisa menjadi sarana bagi mahasiswa untuk melatih diri. Baik itu dalam hal kemampuan menyesuaikan diri di dunia kerja nyata hingga mengasah bakat terpendam.
Nurul menilai, mahasiswa yang menjalani pekerjaan sampingan juga memiliki banyak alasan. Namun cenderung lebih personal. Misalnya untuk membiayai kuliah.
Kemudian, bisa juga hanya untuk mencukupi gaya hidup. Bukan hanya sekadar untuk nongkrong, tapi bisa untuk membayar kos eksklusif. “Tapi ini tetap tren yang positif,” tegasnya.
Namun, Nurul menggarisbawahi, pekerjaan sampingan tidak boleh mengganggu kuliah sebagai kewajiban utama mahasiswa. Sebab ketika lulus, peluang karir bagi mahasiswa jelas lebih luas dibandingkan pekerjaan sampingan yang dijalani.
Oleh karena itu, dia mengingatkan bahwa manajemen waktu menjadi hal yang sangat penting. Sehingga jangan sampai pekerjaan sampingan menjadi kendala bagi mahasiswa untuk hadir di perkuliahan.
“Tetap kuliah yang utama, dan selalu percaya setelah lulus peluang karir lebih terbuka,” pesannya. (inu/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita