Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Viral di Berbagai Media Sosial, Benarkah Tas Mewah Dibuat di China? Ini Fakta Sebenarnya

Bahana. • Senin, 21 April 2025 | 23:12 WIB
Sumber foto Hermes
Sumber foto Hermes

RADAR JOGJA - Sebuah video TikTok baru-baru ini viral karena mengklaim bahwa sebagian besar tas mewah ternyata diproduksi di China.

Video yang sempat ditonton lebih dari 10 juta kali itu menyebutkan bahwa 80 persen tas-tas dari merek ternama dibuat hampir sepenuhnya di pabrik-pabrik China, kemudian hanya diberi logo dan dikemas ulang di negara asal merek tersebut.

Tapi, seberapa benarkah klaim ini?

Asal Usul Klaim Viral

Akun TikTok bernama @senbags2 dalam videonya menyatakan bahwa banyak tas mewah hanyalah hasil dari “repackaging” di negara seperti Prancis atau Italia, setelah sebelumnya diproduksi nyaris selesai di China.

Namun, video ini sudah dihapus dari platform TikTok pada Senin lalu.

Faktanya: Mayoritas Tas Mewah Tidak Dibuat di China

Meski industri fesyen mewah sangat luas dan kompleks, klaim bahwa 80 persen tas mewah dibuat di China ternyata tidak sepenuhnya benar, terutama untuk merek-merek besar dan ternama dunia.

Laporan Statista tahun 2023 mencatat ada sekitar 200 hingga 250 merek fesyen dan aksesori yang masuk dalam kategori “mewah”. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 70 hingga 100 yang diakui secara global sebagai merek papan atas, sebagian besar dimiliki oleh konglomerat seperti LVMH dan Kering.

Salah satu nama paling prestisius, Hermès, tidak memproduksi tasnya di China. Tas-tas ikonik seperti Birkin, Kelly, dan Constance dibuat di Prancis, di workshop yang tersebar di wilayah seperti Pantin, Lyon, Normandy, dan Ardennes.

Proses pembuatan satu tas Hermès bisa memakan waktu antara 15 hingga 40 jam, dan para pengrajin bahkan harus menjalani pelatihan hingga 5 tahun untuk bisa membuat model-model ikonik tersebut.

Hermès juga memiliki pabrik penyamakan kulit sendiri untuk memastikan kualitas terjaga dari awal hingga akhir produksi. Tas-tasnya juga diberi kode pengrajin yang di-hot stamp, sebagai tanda keaslian dan jejak produksi.

Bagaimana dengan Prada, Miu Miu, dan Saint Laurent?

Menurut indeks Lyst untuk kuartal keempat 2024, merek paling populer di dunia adalah Prada, Miu Miu, dan Saint Laurent. Ketiga merek ini juga tidak membuat tas mereka di China.

Prada dan Miu Miu, yang berada di bawah Prada Group, memproduksi tasnya di Italia, khususnya di kompleks produksi Valvigna di Tuscany.

Saint Laurent memproduksi di Prancis dan Italia, dan memiliki pabrik khusus barang kulit di distrik pengrajin tas di Tuscany, tempat merek seperti Gucci dan Dior juga berkarya.

Klaim bahwa tas-tas tersebut dibuat di China juga tidak masuk akal jika mengingat aturan pelabelan di AS dan Uni Eropa:

Di Amerika Serikat, untuk bisa diberi label “Made in USA,” sebuah produk harus melalui proses perakitan akhir dan sebagian besar proses produksi di dalam negeri.

Di Uni Eropa, aturan lebih ketat lagi. Prancis dan Italia mewajibkan proses transformasi utama dilakukan di negaranya agar bisa menggunakan label "Made in France" atau "Made in Italy".

Bahkan, merek-merek seperti Hermès seringkali mengikuti sertifikasi Origine France Garantie (OFG), yang mensyaratkan lebih dari 50% biaya produksi berasal dari Prancis, serta karakteristik utama produk dibuat di Prancis.

Penulis: Abel Alma Putri

Editor : Bahana.
#hermes #china