Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Trail Run Bisa Jadi Pilihan Berolahraga Sambil Eksplorasi Alam, Ini Cerita Maher Syahbani Putra Perwira dan Amir Wildhan Menaklukkan Track Terjal

Jihan Aron Vahera • Sabtu, 21 September 2024 | 14:30 WIB

 

Maher Syahbani Putra Perwira saat berada di puncak gunung usai melakukan trail run
Maher Syahbani Putra Perwira saat berada di puncak gunung usai melakukan trail run

 

JOGJA - Berlari di alam terbuka atau dikenal dengan istilah trail run menjadi pilihan untuk sebagian orang. Sebab berlari di lapangan, jalan perkotaan, maupun di atas treadmill disebut tidak menantang. Namun untuk menakalukkan track terjal trail run, diperlukan fisik dan mental prima.

Hal ini dibenarkan oleh pehobi trail run yaitu Maher Syahbani Putra Perwira, 22. Dia mengaku mulai menggeluti hobi tersebut sejak Desember 2023. Berawal dari 2018 silam saat dia mengikuti mapala di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.

Awalnya, dia mengaku hanya suka camping, dan tektok (pulang-pergi) saat mendaki gunung. Namun karena kegiatan kuliah yang semakin padat, dia mencoba memilih trail run. “Butuh kegiatan dengan waktu yang semakin singkat," kata pria kelahiran 6 Oktober 2001 itu.

Hingga saat ini, dia telah mengikuti sejumlah event. Seperti, Siksorogo Lawu Ultra 2023 kategori jarak 30k (Desember 2023), Coast to Cast Night Trail Ultra 2024 kategori jarak 50k - (Februari 2024), Mantra116 Arjuno Welirang kategori jarak 68k (Juli 2024), UNS Ultra kategori jarak 50k (pakai sandal hampi barefoot) pada Agustus 2024, dan Bromo Marathon (kelas full marathon 42k) pada September 2024. "Rekor jarak yang pernah saya tempuh 68 km Arjuno-Welirang di event Mantra116 2024," bebernya.

Menurutnya, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan untuk trail run. Antara lain, persiapan fisik. Perlu latihan fisik berupa penguatan otot, target jarak, dan elevasi mingguan. “Serta, keterampilan bila keadaan darurat terjadi selama kegiatan trail run seperti tersesat, hipotermia, dan risiko lainnya," urainya.

Kegiatan ini juga memerlukan mental yang prima. Sebab akan banyak momen bagi pelari untuk berjalan sendirian. "Dari segi waktu event trail run bisa lebih dari 24 jam, hal seperti lelah, lapar, dan kantuk akan menjadi tantangan yang cukup sering dihadapi," sebutnya.

Secara tekni, banyak event trail run terutama jarak jauh sampai ultra yang memberlakukan pengecekan mandatory gear. Yaitu peralatan yang harus dibawa dalam running vest selama event. Misalnya, air minum, asupan energi, peta (file GPX), jaket windproof, jas hujan, emergency blanket, headlamp, baterai cadangan, dan peluit emergency. "Adapun perlengkapan yang sangat disarankan seperti trackking pole, buff, dan sarung tangan," beber Maher.

Dia pun ikut memberikan tips bagi pemula. Hal terpenting adalah memiliki basic kegiatan lari hingga trail di alam bebas. Kegiatan ini juga bukan berarti pelaku akan berlari di sepanjang rute. “Karena sejatinya trail run nggak harus selalu lari, power walking juga bisa jadi strategi," ucapnya.

Sementara pehobi trail run yang tergolong pemula adalah Amir Wildhan. Laki-laki kelahiran 16 Oktober 2004 ini baru memulai trail run sejak Januari lalu. Awalnya, dia hanyalah pendaki konvensional. "Setelah mencoba, ternyata trail run lebih seru dan menantang. Karena berlari di alam bebas dan medan yang terjal," tuturnya.

Amir Wildhan saat melakukan trail run di Gunung Rinjani
Amir Wildhan saat melakukan trail run di Gunung Rinjani

Meskipun belum pernah mengikuti event trail run, dia rutin untuk mencoba lintasan di beberapa gunung. Seperti Gunung Ungaran, Semaran; Gunung Anak Dara, Lombok; hingga Gunung Muria, Kudus. "Lebih sering trail run di Muria karena dekat rumah dan memiliki banyak jalur dan puncak yang berbeda-beda," bebernya.

Meski Gunung Muria memiliki ketinggian di bawah 2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl), namun elevasi basecamp mencapai 300-500 mdpl. "Jadi untuk ke puncak kita harus naik kurang lebih 1.000 mdpl (1.000 meter vertikal) tiap puncaknya," ungkapnya.

Sejauh ini, dia berhasil menempuh perjalanan 20 kilometer dalam waktu enam jam. Dengan total elevasi sekitar 2.300 meter vertikal. "Itu saya lakukan di Gunung Muria tepatnya di puncak Natas Angin lintas Puncak 29," rincinya.

Lewat trail run, lanjutnya, tidak hanya fisik yang menjadi lebih kuat. Sebab kegiatan ini juga membantu menghilangkan stres karena keindahan alam yang disaksikan. "Tantangannya melewati track yang curam ketika up hill (naik) karena menguras tenaga dan mental. Yang lain saat lewat track licin ketika downhill (turun) karena mudah terjatuh," imbaunya. (han/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#trail run #Trail Runner #lifestyle