Hal ini sebagai tanggapan terhadap konsumisme yang berlebihan dan tekanan finansial yang dirasakan oleh banyak orang.
Gaya hidup hemat tidak hanya tentang mengekang pengeluaran.
Tetapi juga melibatkan kesadaran akan nilai sebenarnya dari setiap pengeluaran dan upaya untuk mencapai keseimbangan finansial.
Frugal living merujuk pada praktik hidup hemat yang memfokuskan pada pengelolaan uang dengan bijak.
Ini melibatkan kesadaran akan setiap aspek pengeluaran, mempertimbangkan apakah suatu pembelian benar-benar diperlukan dan memberikan nilai sebanding.
Frugal living bukanlah tentang mengekang diri secara ekstrem.
Tetapi tentang menemukan cara-cara cerdas untuk menghemat uang tanpa mengorbankan kenyamanan atau kualitas hidup.
Dengan menerapkan gaya hidup hemat, seseorang akan bisa mengurangi tekanan finansial dan mencapai kestabilan ekonomi dalam jangka panjang.
Maka, seseorang akan mudah untuk menyisihkan sebagian uangnya dan dialokasikan untuk menabung, berinvestasi, atau melunasi sejumlah utang.
Frugal living tak selalu bermakna mengorbankan kenyamanan atau kualitas hidup.
Sebaliknya, konsep ini akan membantu seseorang fokus pada hal yang benar-benar penting.
Seperti hubungan, kesehatan, dan kebahagiaan pribadi.
Seseorang yang menerapkan konsep frugal living akan memilih memasak makanan sehat daripada membeli makanan di luar.
Membeli produk lokal yang memiliki kualitas bagus tanpa harus bergengsi dengan mengejar merek.
Tidak memusingkan fashion atau gadget yang terus mengalami pembaharuan.
Seseorang yang menerapkan konsep ini akan terus menikmati hidup berkualitas dengan standar yang mereka tetapkan tanpa harus goyah dengan pendapat orang lain, demi tercapainya tujuan keuangan jangka panjang yang telah ditetapkan.
Beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan dalam menerapkan Frugal Living antara lain :
Pastikan memiliki tujuan finansial (financial goals) yang jelas dan masuk akal
Tujuan keuangan tentunya sesuatu yang dibutuhkan, yang dapat meningkatkan kualitas hidup kita.
Merumuskan financial goals yang jelas dan masuk akal akan membantu kita untuk dapat mencapainya, agar semua upaya yang dilakukan tidak sia-sia.
Tujuan keuangan bisa saja mengumpulkan dana pernikahan, membeli rumah, tabungan pendidikan anak, merencanakan pensiun dini, mengamankan dana darurat yang cukup, atau memiliki dana pensiun yang cukup.
Selalu analisis kebutuhan Vs keinginan sebelum membelanjakan uang
Hasil analisis terhadap perilaku konsumen menunjukkan bahwa pengeluaran untuk gaya hidup jauh lebih besar daripada pengeluaran membeli barang yang dibutuhkan.
Selalu ketahui mana kebutuhan mana keinginan, serta memilah mana hak yang harus didahulukan.
Baca Juga: Mahasiswa Lancang Kuning Pekanbaru Berbagi Cerita Ikut PMM di UNPAR
Hindari utang konsumtif
Hentikan pembelian barang yang sekiranya tidak terlalu dibutuhkan, apalagi membeli barang yang konsumtif dengan sistem kredit.
Maka akan lebih besar nilai beli daripada nilai guna.
Jangan mudah terpengaruh oleh trend
Tren adalah strategi marketing untuk meningkatkan permintaan konsumen.
Menghindari siklus konsumerisme dan tidak melakukan impulsif buying adalah perilaku yang harus dijaga dalam frugal living.
Berhentilah memikirkan ekspektasi orang lain atas diri kita.
Terapkan mindset bahwa hidup masih ada hari esok
Dengan menerapkan mindset tersebut, akan sangat mungkin untuk membantu mengurangi keinginan membeli barang yang hanya menjadi keinginan sesaat.
Masih ada generasi yang harus diperjuangkan, masih ada masa depan yang harus ditata dan membutuhkan pengaturan financial yang tepat. (Zulfa/Radar Jogja)
Baca Juga: Wajib Dicoba ! Ini Dia Resep Udang Krispi Saus Tiram yang Cocok Jadi Menu Santap Akhir Bulan
Editor : Meitika Candra Lantiva