Sumber Foto : Parentalk.id
RADAR JOGJA - Disadari atau tidak semakin berkembangnya era digital di berbagai pelosok daerah semakin membuat anak didik kita lebih tertarik dengan gadget daripada membaca sebuah buku.
Mereka lebih betah berlama-lama main sosmed, TikTok maupun mabar game online sampai lupa waktu belajar.
Kemudahan akses internet bukannya dimanfaatkan untuk investasi pengembangan diri malah digunakan untuk hal-hal yang sifatnya hiburan.
Memang banyak dari mereka yang sukses jadi YouTuber, selebgram dan content creator tetapi kebanyakan hanya jadi penonton saja tanpa ada niat untuk mengembangkan diri.
Dilansir dari laman blog.kejarcita.id ada fakta mencengangkan terkait dunia literasi anak didik kita.
Pada tahun 2019, Indonesia masih menduduki peringkat 62 dari 72 negara yang terlibat dalam sebuah survei yang dilakukan oleh PISA.
Jika kondisi ini terus dibiarkan maka negara kita akan semakin tertinggal dengan negara maju lainnya.
Sebut saja negara Jepang, di sana budaya membaca sudah menjadi hal yang biasa dari anak-anak sampai orang dewasa, sementara di Indonesia rata-rata anak sekolah hanya membaca buku ketika ada tugas dan setelah itu buku bacaan tersebut tak tersentuh.
Lalu siapa yang bertanggungjawab untuk mengentaskan kondisi yang memprihatinkan ini? Tentu saja semua pihak baik pemerintah, orang tua maupun tenaga pendidik di sekolah.
Dalam pelajaran Bahasa Indonesia sendiri terkadang masih ditemukan berbagai permasalahan terkait literasi siswa, padahal kunci utama dari pelajaran ini adalah memahami teks bacaan.
Jika ditelisik lebih jauh akan terlihat faktor penyebab siswa kurang minat literasi di antaranya adalah banyaknya teks yang harus dibaca dan dipahami, ada banyak istilah baru yang sulit dipahami siswa.
Kemudian siswa mudah mengantuk dan jenuh ketika membuka buku bacaan, lingkungan pergaulan siswa yang tidak menyukai literasi, kurangnya sumber bacaan yang menarik, dan juga media pembelajaran dari guru yang tidak membuat siswa tertarik untuk membaca maupun menulis sesuatu.
Ada beberapa tips yang bisa dilakukan guru agar menarik minat siswa dalam dunia literasi di antaranya yaitu:
1. Guru harus mampu meyakinkan siswa betapa pentingnya literasi bagi kehidupan.
Dengan membaca maka akan menambah wawasan dan mengerti banyak hal, dengan menulis maka tulisan kita bisa menginspirasi banyak orang untuk berubah menjadi lebih baik.
Karena itulah seorang guru harus terampil melakukan pendekatan kepada siswa dan memberikan motivasi yang menarik terkait literasi.
2. Biasakan siswa untuk membaca sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai.
Rentang waktunya bisa 5-10 menit sesuaikan dengan bacaan yang disajikan.
Jika mereka sudah terbiasa dan mulai menyukai kebiasaan membaca, tanpa disuruh pun mereka akan tetap membaca hingga mereka sadar bahwa membaca adalah suatu kebutuhan bukan keterpaksaan.
3. Optimalkan peran perpustakaan sekolah dengan melakukan kunjungan ke perpustakaan untuk mencari bahan bacaan terkait dengan pembelajaran.
Jika buku yang tersedia belum memadai, siswa bisa bergantian dengan temannya.
4. Membuat karya tulis bersama lalu diterbitkan. Cara ini sepertinya ampuh untuk meningkatkan literasi siswa.
Selain bangga, pengalaman menerbitkan buku ini tak akan pernah dilupakan hingga mereka dewasa.
Guru bisa mengajak seluruh siswa untuk menulis sebuah puisi, cerpen, artikel dan karya tulis lain kemudian dibukukan.
Bagi siswa yang ingin memiliki buku tersebut, mereka bisa mengganti biaya cetak buku dengan bonus sertifikat menulis.
Akan lebih menarik lagi jika kegiatan menulis ini dilombakan, jadi siswa akan lebih tertantang untuk memberikan tulisan terbaiknya.
5. Guru bisa membentuk komunitas baca yang kegiatan utamanya adalah membaca dan menulis dengan target jumlah buku ditentukan tiap minggunya.
Tiap anggota kelompok harus saling mengingatkan dan menjaga kekompakan agar bisa mencapai target baca.
Jika hal ini bisa dilakukan secara konsisten maka dalam satu bulan siswa bisa membaca berbagai macam genre buku yang tentunya bermanfaat untuk pengembangan dirinya.
Demikian artikel terkait kurangnya literasi dalam pelajaran Bahasa Indonesia dan tips untuk meningkatkan literasi siswa.
Guru yang hebat tidak akan membiarkan anak didiknya terhambat. Ia akan memacu dan memotivasi mereka untuk terus tumbuh serta mengembangkan diri.
Budayakan literasi dan jadilah generasi hebat untuk negeri ini. (Tifara Annisa/Radar Jogja)
Baca Juga: Bermain di Hadapan Supporter Sendiri, Nottingham Forest Berhasil Atasi Perlawanan Aston Villa
Editor : Meitika Candra Lantiva