RADAR JOGJA - Jamu, minuman tradisional Indonesja yang telah ada sejak zaman dahulu kini mengalami perubahan dan adaptasi. Menjadi sebuah tren kekinian di tengah gaya hidup sehat yang semakin populer.
Dengan inovasi kreatif, jamu era saat ini hadir dengan kemasan yang menarik dan modern. Jamu kekinian hadir dalam botol plastik yang praktis dan mudah dibawa. Desain kemasan yang menarik juga menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen yang ingin mengonsumsi minuman sehat dengan gaya yang lebih trendi.
"Tren kemasan jamu kekinian memiliki kecenderungan untuk meraih pasar dengan target sasaran kalangan muda, terutama dilihat dari desain kemasan atau ilustrasi yg tidak terlalu mengutamakan nuansa tradisional," kata Pengamat Desain Komunikasi Visual (DKV) Arwin Purnama Jati kepada Radar Jogja Jumat (11/8/23).
Arwin menjelaskan, desain kemasan jamu kekinian cenderung bernuansa modern. Memiliki style yang dekat dengan anak muda, dengan ilustrasi-ilustrasi menarik yang kekinian atau sesuai tren saat ini.
Hal ini mengindikasikan kemasan jamu kekinian beradaptasi dengan pergantian generasi. Yaitu dari generasi lama yang terbiasa mengonsumsi jamu (herbal) kepada generasi muda yang cenderung menyukai minuman kekinian instan dengan kemasan praktis dan menarik. "Sehingga kemasan jamu merasa perlu disesuaikan," ujarnya.
Menurut Dosen Program Studi DKV Universitas Katolik Soegijapranata Semarang itu, kemasan jamu jamu ketika ditinjau dari sisi desain visual cenderung memiliki perbedaan pada elemen-elemen visual yang digunakan. Misalnya, gambar/ilustrasi, warna, simplicity, typeface atau font yang digunakan.
Sedangkan jamu dengan kemasan kekinian terutama menggunakan variasi desain yang cukup beragam. Temanya menyesuaiakan spirit produk jamu tersebut atau sesuai target sasaran tertentu. "Misal, jamu untuk anak akan berupaya menggunakan ikon kartun atau ilustrasi yang lucu dan menyenangkan. Jamu untuk anak muda cenderung menggunakan warna-warna atau desain yang bernuansa modern, stylish, simpel, dengan warna yang bersemangat," jelasnya.
Sementara untuk kalangan dewasa dapat menggunakan desain yang bernuansa elegan. Tren ini disebut sudah muncul atau diawali sekitar 15 tahun lalu. Namun seiring bertumbuhnya UMKM atau industri rumah tangga pada 10 tahun terakhir, membuat produk jamu dengan kemasan baru semakin berkembang. "Ini juga pada akhirnya dapat berpotensi pada industri jamu yang kompetitif. Desain kemasan itu sendiri berperan dalam menentukan positioning produk ke benak masyarakat serta diferensiasi produk dibanding dengan produk serupa," ungkapnya.
Namun, biaya produksi juga juga akan ikut naik. Apalagi jika kemasan diproduksi secara khusus dengan material yang lebih berkualitas. "Tentunya, ini menjadi konsekuensi yang perlu dipertimbangkan pihak produsen jamu. Apakah dengan desain bagus namun berharga mahal, target sasaran tetap tertarik untuk membeli,” tanyanya.
Apalagi, lanjut Arwin, jika target sasarannya adalah generasi muda. Namun, hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa minuman jamu tetap memiliki value tersendiri. “Terlepas dari mahal atau tidaknya produk tersebut," tandasnya. (wia/eno)