MBG Prasmanan Disorot Dewan, Dinilai Lebih Banyak Kelemahan Dibanding Ompreng

Anom Bagaskoro • Dipublikasikan Minggu, 11 Oktober 2026 | 12:57 WIB
ANTRE: Siswa SD Muhammadiyah Bantar mengambil makanan MBG sistem prasmanan - ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA
ANTRE: Siswa SD Muhammadiyah Bantar mengambil makanan MBG sistem prasmanan - ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA

RADAR JOGJA – Uji coba distribusi Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan model prasmanan di Kabupaten Kulon Progo mendapat sorotan DPRD. Skema penyajian makanan yang memungkinkan siswa mengambil sendiri menu MBG itu dinilai memiliki lebih banyak kelemahan dibandingkan sistem ompreng tertutup.

Uji coba MBG prasmanan tersebut berlangsung di SD Muhammadiyah Bantar, Kalurahan Banguncipto, Kapanewon Sentolo. Meski makanan dapat disajikan dalam kondisi hangat, DPRD menilai sejumlah persoalan perlu dievaluasi sebelum model tersebut diterapkan secara reguler.

Ketua Komisi 4 DPRD Kulon Progo Edi Priyono mengatakan, dirinya telah menerima informasi mengenai pelaksanaan uji coba MBG prasmanan yang berlangsung selama lima hari terakhir.

"Menurut saya lebih banyak kelemahan dibanding ompreng tertutup," ujar Edi, Minggu (11/10).

Menurutnya, model prasmanan memang memiliki keunggulan dari sisi suhu makanan. Menu yang diterima siswa bisa tetap hangat, berbeda dengan sistem ompreng yang cenderung membuat makanan diterima dalam kondisi dingin.

Baca Juga: Bupati Kulon Progo Digugat Eks Lurah Garongan, Ini Duduk Perkaranya

Namun, dari sisi kepraktisan dan kemampuan melayani penerima dalam jumlah besar, sistem ompreng dinilai lebih unggul. Distribusi menggunakan wadah tertutup dinilai lebih efisien, terutama ketika MBG harus dibagikan kepada ratusan hingga ribuan siswa dalam waktu terbatas.

Edi juga menyoroti mekanisme pengambilan makanan dalam sistem prasmanan. Dalam skema tersebut, siswa mengambil sendiri menu yang tersedia atau sebagian siswa mendapat tugas membagikan makanan kepada teman-temannya.

Proses pemorsian yang dilakukan langsung di sekolah dinilai berpotensi memakan waktu lebih lama. Jika jumlah penerima meningkat, antrean pengambilan makanan dikhawatirkan semakin panjang dan mengurangi waktu belajar siswa.

Saat ini, antrean dalam uji coba tersebut belum terlalu panjang. Namun, kondisi itu dinilai belum cukup menggambarkan tantangan apabila sistem prasmanan diterapkan di sekolah dengan jumlah penerima MBG yang jauh lebih besar.

"Bahkan berpotensi mengganggu pembelajaran, karena waktunya hanya untuk mengambil MBG," ungkapnya.

Selain persoalan waktu, Edi mengingatkan risiko kontaminasi makanan selama proses penyajian dan pengambilan. Makanan yang ditempatkan dalam wadah terbuka dan diakses banyak siswa dinilai membutuhkan pengawasan ketat agar kebersihannya tetap terjaga.

Aspek pemenuhan gizi juga menjadi perhatian. Menurut Edi, sistem prasmanan tidak otomatis menjamin setiap siswa mendapatkan asupan sesuai standar gizi yang ditetapkan. Takaran makanan yang diambil masing-masing siswa bisa berbeda, meskipun tersedia kesempatan untuk menambah porsi.

Karena itu, ia meminta pelaksanaan uji coba dievaluasi secara menyeluruh. Apabila model prasmanan akan dijadikan skema utama distribusi MBG, mekanisme pembagian makanan harus dirancang agar lebih efisien, higienis, dan tetap menjamin kecukupan gizi siswa tanpa mengganggu kegiatan belajar mengajar.

Baca Juga: Membangun Bisnis Estetika dari Nol, Jatuh Bangun Kakak Beradik di Yogyakarta

Sementara itu, Kepala SPPG Polda DIY Suci Rahayu menjelaskan, uji coba MBG model prasmanan berlangsung mulai 5 Oktober hingga 16 Oktober 2026. Selama periode tersebut, pihaknya terus mengevaluasi pelaksanaan distribusi dan penyajian makanan di sekolah.

"Keterlibatan pelajar dalam pembagian MBG untuk melatih kerja sama," jelas Suci.

Ia mengatakan, pelibatan siswa dalam proses pemorsian bukan semata-mata untuk membantu pembagian makanan. Skema tersebut juga dirancang sebagai sarana melatih kerja sama tim dan membangun tanggung jawab melalui sistem piket bergiliran.

Dalam setiap pelaksanaan pembagian MBG, dibutuhkan sekitar lima hingga enam siswa untuk membantu proses pemorsian makanan.

Uji coba ini diharapkan menjadi bahan evaluasi untuk menentukan skema distribusi yang paling sesuai dengan kebutuhan sekolah. Di satu sisi, makanan hangat menjadi keunggulan model prasmanan. Namun, efisiensi waktu, kebersihan, keseragaman porsi, dan kelancaran pembelajaran tetap menjadi aspek yang perlu diperhatikan sebelum penerapan lebih luas.

Editor : Bahana.
MBG Prasmanan SD Muhammadiyah Bantar SPPG Polda DIY DPRD Kulon Progo Makan Bergizi Gratis