KULON PROGO - Kementerian Pertanian (Kementan) RI telah menerapkan kebijakan harga acuan peternak (HAP) untuk komoditas telur ayam negeri.
Walau memiliki harga acuan, harga telur tetap terjun bebas di bawah HAP.
Hal ini diduga akibat harga dikontrol oleh pasar yang telah dipenuhi peternak bermodal besar.
Salah satu peternak asal Lendah Sukamto menjelaskan, harga telur dari peternak masih dikisaran Rp 19 ribu hingga Rp 20 ribu.
Baca Juga: Polemik Kadispar DIY Memanas, Pemprov Pilih Konsultasi ke BKN
Kondisi ini tak sesuai dengan kebijakan HAP yang memberikan standar harga komoditas telur sebesar Rp 26.500.
Semenjak kebijakan HAP berlaku, tak ada perubahan signifikan terkait harga telur yang menguntungkan peternak.
"Sempat naik menjadi Rp 23 ribu per kilogram, tapi hanya sehari," ucap Sukamto, Selasa (11/8/2026).
Sukamto menjelaskan, standarisasi harga telur sempat disambut baik oleh peternak.
Namun, hanya berlaku sehari pasca penerapannya 15 Juli 2026 lalu.
Baca Juga: Siklus Tahunan, Gelombang Tinggi Merata di Seluruh Pesisir Kulon Progo
Lantaran, harga telur sempat mengalami kenaikan dari Rp 20 ribu menjadi Rp 23 ribu dalam sehari.
Tetapi setelah naik, harga telur kembali merosot di kisaran Rp 20 ribu.
Harga ini terus berlanjut hingga Agustus 2026.
Kebijakan HAP komoditas telur memang dianggap sebagai jaring pengaman dari pemerintah.
Namun, kenyataan di lapangan berbeda. Peternak tetap mengikuti harga yang dikontrol pasar.
Harga pasar menunjukkan kemerosotan cukup tajam pada komoditas telur.
Baca Juga: Gubernur Jateng Dorong Penanganan Sampah Tak Hanya Jadi Tugas Pemerintah
Apabila peternak tetap menjual dengan HAP, dipastikan produksi telur tak mampu terjual atau diserap pasar.
"Info dari beberapa grup peternak ada yang menghubungkan dengan produksi telur dari Sumatera," ucapnya.
Sukamto menjelaskan, jejaring peternak mendapat informasi, pasar telur di Pulau Jawa mulai dihantam produksi dari Pulau Sumatera.
Banyak telur dari peternak di Sumatera membanjiri pasar di Pulau Jawa.
Alhasil, jumlah peredaran telur meningkat. Padahal serapan masyarakat cenderung stabil.
Baca Juga: Pengaruh Angin Timuran, BMKG Yogyakarta Prediksi Gelombang Tinggi Bisa Terjadi Hingga Awal September
Kebanyakan peternak di Sumatera memiliki modal yang cukup besar, ditambah lahan yang memadai untuk budidaya.
Sehingga, saat harga telur mengalami penurunan, peternak tetap bisa bertahan.
Hal ini berbeda dengan peternak di DIY, yang usahanya masuk kategori mikro.
Peternak usaha mikro juga tertekan dengan harga pakan yang tinggi.
Hal ini dipengaruhi kebijakan impor pakan dari luar negeri.
Pemerintah menerapkan pembatasan impor pakan, yang membuat harga pakan meningkat.
Baca Juga: Otak Kedua Manusia Ada di Perut? Hubungan Erat Antara Kesehatan Usus dan Suasana Hati
Sementara itu, Kepala Bidang Produksi dan Pengembangan Usaha Peternakan Dispertapa Kulon Progo Bambang Dwi membenarkan harga telur di Bumi Binangun masih dibawah harga acuan.
Pasalnya, harga telur tetap dipengaruhi oleh harga pasar.
Apabila harga pasar mengalami kenaikan, harga telur ikut naik.
Sedangkan kondisi di lapangan, pasokan telur melimpah membuat harga turun.
Melimpahnya produksi telur juga terlihat di Kulon Progo.
Kebanyakan peternak di Bumi Binangun menjual telur ke luar daerah.
Lantaran, produksi telur melimpah, sedangkan serapan lokal kecil.
Baca Juga: Gelombang Tinggi Hampir 4 Meter Hantam Pesisir Gunungkidul, Belasan Perahu Rusak
"Peternak pasti mengikuti harga pasar, kalau mengikuti HAP pasti tidak laku," ungkapnya.
Bambang menjelaskan, kebijakan HAP telur memang telah disosialisasikan ke peternak, pengepul, hingga pedagang.
Namun, prakteknya harga telur tetap mengikuti pasar.
Jika peternak tak mengikuti harga pasar, produksi telur tak akan terserap atau dibeli pengepul.
Padahal peternak telah menanggung biaya operasional pakan yang tinggi.
Kondisi itu, membuat sejumlah peternak di Bumi Binangun turut berpartisipasi dalam aksi damai peternak ayam petelur di Malioboro, Senin (10/8/2026) lalu. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva