KULON PROGO - Krisis siswa yang dihadapi SMP Negeri 4 Pengasih tak membuat semangat pengajar dan siswa kendur.
Pasalnya, pihak sekolah tetap menggelar masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) meski siswa baru yang mendaftar hanya empat anak.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMPN 4 Pengasih Supriyadi mengatakan, jumlah pendaftar dalam SPMB 2026 hanya ada lima calon siswa.
Namun, satu siswa tidak melakukan daftar ulang hingga batas waktu yang ditetapkan.
"Walau hanya empat siswa, kami tetap menggelar MPLS semaksimal mungkin," ucap Supriyadi, saat ditemui Radar Jogja, Senin (13/7/2026).
Jumlah siswa yang sedikit ini, membuat sekolah memutar otak agar MPLS dapat berlangsung meriah dan sesuai esensi pengenalan lingkungan baru.
Hari pertama MPLS, siswa baru dikumpulkan bersama semua warga sekolah.
Dalam hal ini, siswa kelas 8 dan 9 ikut serta.
Keikutsertaan mereka dalam rangka mengenalkan seluruh siswa.
Siswa kelas 8 dan 9 turut menggunakan name tag yang dibuat secara sederhana.
Tujuannya, agar siswa baru tak kesulitan menyapa kakak kelas
Siswa baru turut mendapat name tag buatan sekolah.
Selama lima hari kedepan, kegiatan siswa baru masih seputar pengenalan sekolah dan diselingi fun game bersama siswa kelas lain.
Menurut Supriyadi, ada beberapa faktor, sehingga jumlah siswa yang diterima SMPN 4 Pengasih menurun drastis dibanding tahun lalu.
Penyebab utamanya, ialah penurunan jumlah lulusan sekolah dasar dari tahun ke tahun.
Penurunan jumlah lulusan disebabkan faktor demografi masyarakat.
Terjadi penurunan angka kelahiran, membuat sekolah dasar di Perbukitan Menoreh tak banyak menerima siswa.
Hal ini dibuktikan dengan beberapa SD yang hanya memiliki rata-rata belasan siswa di setiap kelasnya.
Sementara itu, orangtua siswa, Sutilah, mengaku tak masalah apabila anaknya bersekolah di SMPN 4 Wates, walau sedang menghadapi krisis siswa.
Menurutnya, SMPN 4 Pengasih tetap memberikan layanan pendidikan terbaik entah dengan kondisi apapun.
"Tidak masalah, anak saya juga mau kesini," ungkapnya.
Terlepas dengan kondisi sekolah, Sutilah mempertimbangkan jarak rumah ke sekolah.
Keluarga memang sengaja mendaftarkan anaknya ke SMPN 4 Pengasih yang hanya berjarak 100 meter dari rumah.
Pertimbangan jarak ini tak bisa ditemukan di SMP lain.
Pasalnya jarak SMP lain terdekat, mencapai 3 kilometer.
Siswa harus berjalan kaki atau naik sepeda untuk mencapai sekolah.
Tak hanya jarak, kondisi geografis perbukitan turut menjadi pertimbangan penting dia dalam menyekolahkan anaknya. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva