Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kombinasikan Kopi dan Susu Kambing, BUMKal Pagerharjo Buat Bisnis Integrated Farm dan Ekonomi Sirkuler

Anom Bagaskoro • Minggu, 31 Mei 2026 | 05:06 WIB
Bupati Kulon Progo didampingi Direktur Bumdes Pagerharjo melihat kandang domba terintegritas.
Bupati Kulon Progo didampingi Direktur Bumdes Pagerharjo melihat kandang domba terintegritas.

 


Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) Pagerharjo, Kapanewon Samigaluh memiliki inovasi bisnis di bidang perkebunan dan peternakan. Mereka memanfaatkan potensi desa dan menerapkan sistem integrated farm serta ekonomi sirkuler. Berkat sistem ini, BUMKal mampu menyerap pekerja dan memproduksi beragam produk hingga tembus pasar swalayan.

Direktur BUMKal Binangun Raharjo Pagerharjo Sri Hardani menjelaskan, pendirian badan usaha telah diawali sejak 2004 lalu. Dari tahun ke tahun, BUMKal mualai mengembangkan berbagai bisnis.

Termasuk di tiga tahun terakhir, BUMKal menggarap usaha bidang peternakan dan perkebunan. "Di bidang peternakan dan pertanian kami memiliki unit usaha ketahan pangan, mulai dari pengolahan kopi hingga peternakan kambing," ucap Sri, Jumat (22/5).

Baca Juga: PSS Sleman Belum Pastikan Perpanjangan Empat Pemain Asing, Pieter Huistra Berikan Perhatian Khusus ke Gustavo Tocantins 

Sri menjelaskan, munculnya unit ketahanan pangan didorong melalui kebijakan pemerintah pusat. Akan tetapi, pihaknya tetap mengutamakan potensi yang dimiliki kalurahan. Wilayah Pagerharjo merupakan dataran tinggi dengan udara dingin. Hanya beberapa komoditas yang dapat dioptimalkan untuk mendongkrak aktivitas bisnis.

Unit bisnis diawali dengan mengelola hasil petani lokal berupa biji kopi. Pagerharjo merupakan wilayah penghasil kopi terbaik di Bumi Binangun. Namun potensi itu belum dikelola dengan baik, karena produktivitasnya rendah. Akhirnya, BUMKal menggandeng kelompok tani untuk mengembangkan perkebunan kopi secara masif. Hasilnya produktivitas kopi meningkat drastis.

Tak sampai situ, BUMKal mengupayakan hilirisasi produk kopi. Kopi dari petai tak lagi dijual dalam bentuk hasil panen. Tetapi diolah menjadi kopi siap senduh. Bahkan kopi karya BUMKal mulai menembus pasar swalayan dengan penjualan konsisten di setiap bulannya.

Baca Juga: Pemkot Jogja Usulkan Penataan Bantaran Code Jadi Percontohan Nasional, Butuh Rp 56 Miliar Bangun Jalan Inspeksi Sejauh Empat Kilometer

"Kami juga mengembangkan peternakan kambing atau domba perah," ungkapnya.

Melihat potensi pertanian yang menguntungkan, BUMKal mulai merambah bisnis peternakan. Usaha itu dipilih dengan pertimbangan kebutuhan pupuk untuk tanaman kopi. Pupuk kopi paling mudah diserap tanaman adalah kohe kambing. Alhasil berdirilah peternakan kambing dan domba perah. Pihaknya menggandeng kelompok ternak untuk mengumpulkan susu dan kotoran domba.

Susu diolah menjadi produk susu cair dan produk bubuk. Dua variasi produk ini mulai dikenal masyarakat luas, karena memiliki banyak varia rasa.

Baca Juga: Perkuat Layanan Kesehatan Berbasis Inovasi, Pilih RSUD Prambanan Saja

 Selain susu, kotoran dari kambing atau domba diolah menjadi pupuk untuk tanaman kopi. Penerapan bisnis ini mempertimbangkan ekonomi sirkuler yang meminimalisir limbah terbuang percuma.

Selain itu, BUMKal juga menerapkan integrated farm dalam konsep peternakan dan pertanian. BUMKal turut mengembangkan agroeduwisata yang memanfaatkan potensi dari peternakan dan pertanian. Sehingga, pemasukan BUMKal tak hanya berasal dari dua sumber. (gas/pra)

Editor : Heru Pratomo
#BUMKal pagerharjo #kopi dan susu #bisnis integrated #Kulon Progo #peternakan