RADAR JOGJA - Pakar kebencanaan Indonesia mengingatkan pemerintah dan masyarakat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) agar waspada dan bersiap menghadapi potensi gempa megathrust.
Dalam seminar peringatan 20 tahun Gempa Yogyakarta di Jakarta, Dewan Pembina Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Prof Dwikorita Karnawati mengatakan bahwa wilayah selatan Jawa, termasuk Yogyakarta, saat ini berada pada fase 30 tahun terakhir dari siklus ulang 200 tahun, sebagaimana studi pakar dari Institut Teknologi Bandung (ITB) atau ITB University.
Wacana megathrust menyeruak hingga menjadi topik hangat masyarakat khususnya mereka yang tinggal dekat pesisir pantai.
Baca Juga: Perwakilan Direksi Kembali Tidak Hadir, Mediasi Pesangon PT MTG Gagal
Salah satunya dikhawatirkan Sugeng Ahmadi, warga Kalurahan Karangsewu, Kapanewon Galur, Kulon Progo.
"Tentu khawatir, jarak rumah dengan bibir pantai cuma 600 meter. Termasuk lahan pertanian hanya berjarak 100 meter dari pantai," ucap Sugeng, saat ditemui Radar Jogja di lahan pertaniannya, Jumat (24/4/2026).
Sugeng menyampaikan, hampir setiap tahun, isu megathrust selalu muncul.
Jika Pulau Jawa khususnya DIY merupakan wilayah terdampak megathrust, maka satu-satunya yang dapat dilakukan dengan meningkatkan kewaspadaan dan selalu mencari update informasi.
"Saya mengulik sendiri informasi. Informasi yang dikumpulkannya, menunjukkan megathrust tak hanya meluluhlantahkan bangunan rumah tinggal. Tetapi menimbulkan bencana tsunami," ungkapnya.
Baca Juga: Info Ala Honda Istimewa, Honda Vario 125 Street Hadir dengan Gaya Berani
Daripada dibayangi rasa ketakutan berlebihan, ia memilih pasrah dan tetap menjalankan aktivitas seperti biasa.
Menganggap wacana Megathrust sekadar pengingat.
Walau terlihat pasrah dengan isu itu, Sugeng tak mau berpangku tangan.
Ia menjadi masyarakat yang rutin mengikuti simulasi kebencanaan.
Setiap tahunnya, minimal sekali keluarganya mengikuti simulasi kebencanaan tsunami dan gempa bumi.
Seperti tahun 2025 lalu, simulasi kebencanaan diselenggarakan lembaga Internasional.
Baca Juga: Wow! Gurita Raksasa Mirip Kraken Ditemukan di Lautan Cretaceous, Peneliti Sebut Gurita Zaman Purba
Menurutnya, simulasi cukup penting dalam mengurangi resiko dampak kebencanaan.
Lantaran, dari simulasi gambaran bencana akan dilihat.
Dengan gambaran yang sedikit, ia dapat memastikan langkah penanganan saat bencana terjadi.
Seperti menyelamatkan diri dari hantaman bangunan roboh hingga golden time penyelamatan tsunami.
"Masyarakat pesisir juga sadar sudah banyak yang menanam cemara udang dan pandan laut," ungkapnya.
Sugeng menjelaskan, masyarakat pesisir Pantai Trisik dan sekitarnya telah membuat gerakan kolektif.
Masyarakat melakukan penanaman pohon cemara udang dan pandan laut.
Penanaman dilakukan untuk meredam kekuatan gelombang tsunami.
Walau sudah menjalankan mitigasi kolektif, warga sepertinya tetap khawatir.
Di daerahnya, infrastruktur penunjang mitigasi tak tersedia.
Bahkan jembatan Pantai Trisik masih dalam proses rehap.
Di samping itu, wilayahnya dikepung sungai.
Alhasil saat evakuasi, jalur diatas sungai menjadi bom waktu. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva