RADAR JOGJA - Guru di Bumi Binangun tak pernah habis dalam memberikan inovasi.
Di tengah pemerintah pusat yang menggalakkan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, pendidik di Kulon Progo justru telah meluncurkan buku dengan fokus serupa.
Bahkan buku tersebut mengusung lokalitas dan budaya daerah.
Perwakilan Penulis Buku Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat Muhammad Arifien Zuhri menyampaikan, pembuatan buku berawal dari tantangan Bupati Kulon Progo.
Baca Juga: PHRI Kulon Progo Was-Was Penurunan Okupansi Hotel dan Restoran Saat Harga Tiket Tinggi
Saat itu, guru bertemu dengan bupati dalam kegiatan audiensi.
"Saat itu, ada tantangan untuk meningkat literasi anak-anak," ucap Zuhri, Jumat (10/4/2026).
Zuhri menyampaikan, tantangan itu muncul saat pemerintah pusat mengeluarkan program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.
Melihat tantangan, potensi, dan kebijakan, enam guru dari latar belakang pendidikan mereka menyusun buku dari nol.
Tak hanya sekedar menulis buku biasa, guru mempertimbangkan lokalitas daerah yang akan masuk dalam materi.
Pihaknya harus melakukan penelitian serta kajian agar materi sesuai dengan fokus buku.
Utamanya, tujuan menciptakan karakter dan menerapkan tujuh kebiasaan baik bagi pelajar.
Setelah melalui proses panjang, buku akhirnya diterbitkan.
Terdapat empat macam jenis buku dengan judul yang sama.
Di antaranya, Fase A hingga D.
Adanya fase pada buku disesuaikan dengan pembaca yang ditargetkan untuk jenjang pendidikan SD hingga SMP.
Pada buku untuk jenjang SD materi menguatkan pada pendidikan anak sekolah dasar.
Tentu gragis serta tulisan disesuaikan dengan kategori umur.
Tujuannya, agar anak tak mudah bosan dengan bahan bacaan.
Lantaran, fokus utaakeberadaan buku adalah meningkat minat literasi.
"Lokalitasnya berupa budaya, kebiasaan, hingga makanan Kulon Progo," ungkapnya.
Tak hanya bahan bacaan biasa yang diserap dari program pemerintah pusat.
Pembaca diajak mendalami bacaan yang menunjukkan kegiatan seoranh anak sejak bangun hingga tidur.
Kemasan cerita diadaptasi dengan mengangkat unsur lokalitas.
Seperti cerita siswa dari Perbukitan Menoreh yang setiap pagunya harus berjalan ke sekolah.
Cerita tersebut memantik siswa agar lebih memahami konsep olahraga di keseharian sebagai upaya Tujuh Kebiasaan anak Indonesia Hebat.
Penulis berharap bahan bacaan dapat dimanfaatkan sekolah serta siswa.
Tentu bahan bacaan diharapkan dapat membentuk karakter siswa sejak dini.
Lantaran, fenomena sosial sekarang kebanyakan anak muda justru menghabiskan wamtu di hal-hal negatif. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva