KULON PROGO - Fenomena kemarau panjang dengan istilah El Nino Godzilla akan dirasakan hingga wilayah Bumi Binangun.
Beberapa sektor dipastikan terdampak, mulai dari pertanian hingga ketersediaan air bersih.
Menyikapi ini, Pemkab Kulon Progo mengupayakan antisipasi.
Bupati Kulon Progo Agung Setyawan membenarkan, ancaman kemarau panjang. Lantaran, prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjukkan potensi El-Nino Godzilla yang diprediksi terjadi pada April 2026.
Pihaknya telah memetakan beberapa sektor yang akan terdampak atas fenomena itu.
"Kami harus menyikapi dengan bijak, karena dampaknya akan luas," ucap Agung, Kamis (28/3/2026).
Agung menjelaskan, dampak kemarau panjang akan banyak dirasakan pada sektor pertanian.
Terutama di Bumi Binangun, sebagian masyarakat menggantungkan hidup di pertanian pangan yang membutuhkan air cukup banyak.
Apabila kemarau panjang terjadi, area persawahan tak akan mendapat jatah air karena debit saluran irigasi mengalami penurunan.
Jika tak ada antisipasi sejak dini, maka kesejahteraan petani dan kebutuhan pangan lokal akan terancam.
Salah satu antisipasinya dengan menggalakkan sosialisasi ke petani untuk menyesuaikan bibit tanaman yang lebih tahan kemarau.
Hal ini juga dilakukan untuk mencegah gagal panen, apabila kemarau panjang benar-benar terjadi.
"Sosialisasi ke petani dari penyuluh, penekanan ke bibit dan metode pertanian khusus" ujarnya.
Selain sektor pertanian, krisis air bersih dimungkinkan terjadi.
Lantaran, beberapa wilayah di Bumi Binangun belum mendapatkan jalur PDAM ataupun Pamsimas.
Daerah perbukitan seperti Kokap dan Samigaluh rawan dengan kekeringan, yang menyebabkan beberapa titik sumber air warga mengering.
Untuk mengatasi itu, pihaknya menyiapkan droping air bersih dengan leading sector BPBD Kulon Progo.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertapa) Kulon Progo Trenggono Trimulyo menjelaskan, El-Nino berpotensi berdampak ke sektor pertanian.
Akan tetapi, tidak akan ada perubahan pola tanam akibat kemarau panjang di 2026.
"Masih cukup waktunya, dua kali tanam padi satu kali palawija," ujarnya.
Pihaknya telah memetakan lahan persawahan di Kulon Progo tak perlu menyesuaikan pola tanam untuk menghadapi kemarau panjang.
Walau bakal terjadi penurunan debit air pada irigasi, pihaknya telah menghitung kebutuhan air dapat tercukupi.
Hanya saja petani perlu tertib dan tak melewatkan jadwal tanam sesuai pengaturan irigasi. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva