Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Latih Anggota Jaga Komunikasi Radio, Orari DIY Gelar Lomba Lacak Sinyal untuk Skenario Bencana

Anom Bagaskoro • Senin, 15 Desember 2025 | 02:15 WIB

 

ANTUSIAS: Peserta lomba mencoba memindai wilayah dengan alat scan sinyal radio.
ANTUSIAS: Peserta lomba mencoba memindai wilayah dengan alat scan sinyal radio.

KULON PROGO - Organisasi Amatir Radio Indonesia (Orari) DIY menggelar lomba lacak sinyal, sebagai upaya melatih anggota siap dalam skenario bencana.

Terlebih, bisa terampil dalam menemukan sinyal pengganggu agar komunikasi radio tetap terjaga.

Ketua Orari DIY Ambar Parama Putra mengatakan, metode pelacakan sinyal radio sering dilakukan saat bencana.

Saat terjadi bencana, komunikasi radio menjadi sarana efektif komunkasi. Lantaran, sinyal gadget akan sulit tersambung dengan konidi listrik padam.

Namun, sinyal radio kerap mengalami gangguan sinyal akibat ulah oknum tak bertanggung jawab.

"Secara sederhana melacak sinyal pengganggu, ini sangat berfungsi di kehidupan nyata," katanya, saat ditemui di Markas BPBD Kulon Progo sebagai titik start lomba lacak sinyal, Minggu (14/12/2025).

 Baca Juga: Antisipasi Peningkatan Kendaraan saat Nataru di Kota Jogja, Tujuh Kantong Parkir Disediakan di Sekitar Malioboro

Lomba lacak sinyal merupakan bagian program kerja Orari DIY yang bertujuan melatih anggota Orari untuk terampil dalam menemukan sinyal pengganggu.

Sehingga, saat terjadi kasus bencana komunikasi radio tetap terjaga.

"Antuasianya luar biasa, sebelumnya kami batasi 50 peserta ternyata menjadi 125 peserta," ujarnya.

Peserta lomba lacak sinyal tak hanya lingkup lokal. Justru kebanyakan peserta merupakan masyarakat luar Kulon Progo.

Baca Juga: Tinjau Lokasi Rel Terdampak Banjir, Sekda Jateng: Butuh Penanganan Jangka Panjang

Kebanyakan berasal dari wilayah Jabodetabek, Jawa Barat, hingga Jawa Timur.

Secara teknis, lomba mengarahkan peserta mencari titik sinyal pengganggu yang telah disebar panitia.

Total terdapat lima titik sinyal pengganggu. Jika peserta menemukan sinyal pengganggu, maka segera melaporkan ke markas dan dicatat sebagai nilai.

Perhitungan kejuaraan mengutamakan jumlah perolehan titik dan kecepatan pelacakan. 

 Baca Juga: Mengunjungi Lava Bantal Berbah, Situs Langka di Indonesia: Jadi Magnet Edukasi Tawarkan Pesona Bebatuan Purba

Sementara itu, peserta asal Jawa Barat Redi Candra mengaku antusias dengan kegiatan lomba.

Bahkan dirinya rela datang ke Kulon Progo hanya untuk mengikuti kegiatan yang jarang ditemui itu.

"Acara seperti ini cukup seru, latihan sekaligus meluangkan waktu untuk hobi," ungkapnya.

 Baca Juga: Antisipasi Peningkatan Kendaraan Saat Nataru, Tujuh Kantong Parkir Disediakan di Sekitar Malioboro

Redi menjelaskan, keseruan mencari jejak sinyal ada pada pengenalan medan.

Bermodal alat pencari sinyal, peserta sepertinya akan mengarahkan antena ke titik yang diduga tempat persembunyian sinyal pengganggu.

Dalam pencarian sinyal, radius dibatasi dua kilometer dari markas. Sehingga, selain melatih intuisi, pencarian sinyal juga melatih stamina.

Lantaran, dengan jarak radius dua kilometer, peserta dapat berjalan diperkirakan mencapai lima kilometer dalam tiga jam. (gas/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#lacak sinyal #BPBD Kulon Progo #Orari DIY #latih anggota #Skenario Bencana