KULON PROGO - Organisasi Amatir Radio Indonesia (Orari) DIY menggelar lomba lacak sinyal, sebagai upaya melatih anggota siap dalam skenario bencana.
Terlebih, bisa terampil dalam menemukan sinyal pengganggu agar komunikasi radio tetap terjaga.
Ketua Orari DIY Ambar Parama Putra mengatakan, metode pelacakan sinyal radio sering dilakukan saat bencana.
Saat terjadi bencana, komunikasi radio menjadi sarana efektif komunkasi. Lantaran, sinyal gadget akan sulit tersambung dengan konidi listrik padam.
Namun, sinyal radio kerap mengalami gangguan sinyal akibat ulah oknum tak bertanggung jawab.
"Secara sederhana melacak sinyal pengganggu, ini sangat berfungsi di kehidupan nyata," katanya, saat ditemui di Markas BPBD Kulon Progo sebagai titik start lomba lacak sinyal, Minggu (14/12/2025).
Lomba lacak sinyal merupakan bagian program kerja Orari DIY yang bertujuan melatih anggota Orari untuk terampil dalam menemukan sinyal pengganggu.
Sehingga, saat terjadi kasus bencana komunikasi radio tetap terjaga.
"Antuasianya luar biasa, sebelumnya kami batasi 50 peserta ternyata menjadi 125 peserta," ujarnya.
Peserta lomba lacak sinyal tak hanya lingkup lokal. Justru kebanyakan peserta merupakan masyarakat luar Kulon Progo.
Baca Juga: Tinjau Lokasi Rel Terdampak Banjir, Sekda Jateng: Butuh Penanganan Jangka Panjang
Kebanyakan berasal dari wilayah Jabodetabek, Jawa Barat, hingga Jawa Timur.
Secara teknis, lomba mengarahkan peserta mencari titik sinyal pengganggu yang telah disebar panitia.
Total terdapat lima titik sinyal pengganggu. Jika peserta menemukan sinyal pengganggu, maka segera melaporkan ke markas dan dicatat sebagai nilai.
Perhitungan kejuaraan mengutamakan jumlah perolehan titik dan kecepatan pelacakan.
Sementara itu, peserta asal Jawa Barat Redi Candra mengaku antusias dengan kegiatan lomba.
Bahkan dirinya rela datang ke Kulon Progo hanya untuk mengikuti kegiatan yang jarang ditemui itu.
"Acara seperti ini cukup seru, latihan sekaligus meluangkan waktu untuk hobi," ungkapnya.
Baca Juga: Antisipasi Peningkatan Kendaraan Saat Nataru, Tujuh Kantong Parkir Disediakan di Sekitar Malioboro
Redi menjelaskan, keseruan mencari jejak sinyal ada pada pengenalan medan.
Bermodal alat pencari sinyal, peserta sepertinya akan mengarahkan antena ke titik yang diduga tempat persembunyian sinyal pengganggu.
Dalam pencarian sinyal, radius dibatasi dua kilometer dari markas. Sehingga, selain melatih intuisi, pencarian sinyal juga melatih stamina.
Lantaran, dengan jarak radius dua kilometer, peserta dapat berjalan diperkirakan mencapai lima kilometer dalam tiga jam. (gas/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita