KULON PROGO - Upaya konservasi satwa dilindungi terkendala abrasi pantai.
Pesisir selatan Bumi Binangun abrasi berdampak pada penemuan sarang penyu yang cenderung menurun.
Ketua Konservasi Penyu Bugel Nuryanto menjelaskan, dampak abrasi pantai terlihat di Pantai Bugel Kapanewon Panjatan.
Bibir pantai terus mengalami pengikisan, akibatnya, garis pantai semakin mundur.
"Abrasi cukup berdampak ke upaya konservasi yang kami lakukan," ucap Nuryanto, Senin (6/10/2025).
Nuryanto menjelaskan, pantai selatan Kulon Progo merupakan ekosistem penyu lekang.
Penyu jenis ini, biasanya berkembangbiak dengan bertelur, pada Maret hingga Agustus.
Biasanya puncak bertelur berada di Bulan Juni-Juli yang merupakan musim kemarau.
Penyu memiliki cara berkembangbiak cukup unik, dengan membuat sarang di pesisir pantai.
Hal inilah, yang menyebabkan abrasi pantai menjadi penghalang langkah konservasi.
Lantaran, abrasi pantai menyebabkan bibir pantai tak lagi landai. Membuat penyu kesulitan mencapai bibir pantai.
Di samping itu, gelombang yang kian menjamah bibir pantai juga berpotensi merusak sarang penyu.
Akibatnya, telur yang biasanya terkubur di dalam pasir terekspos dunia luar.
Mengakibatkan kegagalan penetasan.
"Tahun ini baru menemukan 25 sarang, tahun lalu bisa sampai 30 sarang lebih," ujarnya.
Secara spesifik, dampak abrasi membuat temuan sarang penyu mengalami penurunan.
Lantaran, sarang penyu habis tersapu dengan gelombang laut.
Temuan terakhir kali menunjukkan, sarang penyu hanya meninggalkan segelintir telur akibat tersapu ombak.
Idealnya dalam satu sarang, penyu dapat bertelur 80-100 butir.
Akibatnya upaya penetasan telur dapat terganggu di kondisi ini.
Diprediksi penetasan penyu tahun ini, tak akan sebayak tahun sebelumnya.
Lantaran, temuan jumlah sarang cenderung sedikit dan tidak utuh.
Kejadian serupa ternyat juga dirasakan kelompok Konservasi Penyu di Pantai Trisik.
Ketua Konservasi Penyu Abadi Trisik Edi Yulianto menyatakan abrasi pantai membuat penurunan jumlah temuan sarang penyu.
"Abrasi pantai juga menyebabkan bangunan konservasi rusak," ujarnya.
Di yahun 2024 lalu, bangunan konservasi penyu milik kelompoknya rusak parah akibat abrasi.
Abrasi pantai mampu mengikis bagian dasar bangunan.
Hingga berakibat robihnya bangunan konservasi. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva