KULON PROGO - Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Banyuroto bakal difungsikan sebagai Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST).
Bukan hanya menampung sampah, tetapi mengelola sampah.
"Sebab, TPA Banyuroto sudah memiliki insenerator untuk memusnahkan sampah menjadi residu," ungkap Kepala Bidang Pengelolaan dan Pengembangan Persampahan dan Pertamanan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kulon Progo Ade Wahyudiyanto, saat ditemui Radar Jogja, Kamis (25/9/2025).
Selain itu juga sudah memenuhi persyaratan menjadi TPST. Karena berdiri di lahan yang cukup luas dan harus di atas lahan 2 Hektare (Ha).
Yang mana TPA Banyuroto berdiri di lahan seluas 2,5 Ha.
Dengan begitu, sampah yang dibuang ke TPA menjadi lebih sedikit.
Sehingga mampu memperpanjang umur landfill TPA Banyuroto.
Sampah yang biasanya hanya ditimbun, melalui incenerator, sampah dapat dimusnahkan.
"Kami telah mengkaji pendirian TPST di tengah perkotaan Kulon Progo," ujarnya.
Adapun alur pengolahan sampah yakni, rumah tangga (mengolah dan memilah), bank sampah (mengolah dan memilah), TPST (mengolah dan memusnahkan), TPA tempat akhir menumpuk residu.
Namun bilamana TPST Banyuroto telah beroperasi, namun belum mampu menjawab masalah timbulan sampah, pihaknya siap mengkaji ulang.
Salah satunya dengan membuat TPST tambahan di pusat perkotaan.
Saat disinggung terkait biaya operasionalnya, instansinya masih menunggu kajian lebih lanjut.
Sebab, adanya incenerator, tentuya akan menambah beban operasional yang cenderung tinggi.
Sebagaimana diungkapkan Kepala UPTD Persampahan dan Pertamanan DLH Kulon Progo Budi Purwanta, beban operasional bisa naik lantaran secara teknis insinerator mampu membakar sampah satu ton per jam.
Sehingga wajar jika operasionalnya cenderung tinggi.
Adapun komponen pembiayaan meliputi, bahan bakar pembakaran, listrik untuk alat, dan upah pekerja pemilah.
Ditambah bahan bakar untuk membakar sampah di dalam tungku menggunakan solar non subsidi.
Untuk pembiayaan listrik meliputi mengoperasian conveyor, dryer pengering sampah, dan alat pengatur polusi udara.
"Kalau untuk menyerap seluruh sampah, perhari habis Rp 30 juta," ungkapnya.
Kendati begitu, insinerator belum beroperasi optimal.
Sebab anggaran operasional masih menjadi kendala.
Selain itu, pembakaran sampah masih terbatas lantaran TPA Banyuroto baru ada satu insinerator yang hanya bisa membakar 24 ton sampah per hari. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva