Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Biennale 18 Babak Pertama di Padukuhan Boro II Resmi Dibuka, Diawali Dengan Kirab Merti Dusun Hingga Berjalan Mengelilingi Dusun

Anom Bagaskoro • Minggu, 21 September 2025 | 23:05 WIB

PEMBUKAAN: Masyarakat Padukuhan Boro II mengikuti kirab mengelilingi wilayah
PEMBUKAAN: Masyarakat Padukuhan Boro II mengikuti kirab mengelilingi wilayah
Mengekspresikan karya tak melulu dilakukan oleh individu. Namu gotong royong juga bisa menjadi sarana membentu sebuah karya seni.

Seperti yang dilakukan di Padukuhan Boro II, Kalurahan Karangsewu, Kapanewon Galur.

Karya seni di sepanjang jalan padukuhan merupakan hasil kolaborasi seniman dan masyarakat dalam kegiatan Biennale Jogja 18 2025.

ANOM BAGASKORO, Kulon Progo

Biennale Jogja 18 tahun ini, dibuka di sebuah padukuhan di wilayah selatan Kulon Progo. Bertempat di Padukuhan Boro II, kegiatan mengangkat tema besar "Kawruh: Tanah Lelaku".

Diambilnya tema ini, sesuai dengan tujuan kegiatan yang mengikutsertakan masyarakat untuk mengambil pengetahuan yang berakar dari kearifan lokal. Padukuhan Boro II nantinya akan menjatempat kegiatan dari 19-24 September 2025.

Dukuh Boro II Andi Sindana menyampaikan, alasan wilayahnya berkeinginan menjadi tuan rumah kegiatan.

Menurutnya, Padukuhan Boro memiliki keunikan geografis, sepertih lahan pertanian hingga infrastruktur penunjang.

Namun, keunggulan geografi dan infratsruktur ini berpotensi menjadikan masyarakat kehilangan identitasnya.

"Masyarakat kami kebanykan petani dan buruh, mereka hanya melihat keunggulan dan gemerlap daerah lain," ucap Andi, saat ditemui Radar Jogja, Minggu (21/9).

Keberadaan JJLS dan YIA yang membelah kampung mereka berpotensi melunturkan kearifan lokal dalam masyarakat.

Lantaran, banyak masyaralat justru tertarik dengan daerah lain. Jika terus dibiarkan, potensi padukuhan akan luntur.

Padahal potensi lokal sangat menarik untuk dilihat, terutama warga luar daerah.

Untuk mengenalkan kembali potensi ke masyarakat dan orang luar, pihaknya bekerjasama dengan Yayasan Biennale.

Potensi wilayah yang diangkat berupa sumber daya pertanian dengan komoditas kelapa.

Sebagai daerah kawasan pertanian, Padukuhan Boro memiliki potensi pertanian kelapa.

Komoditas kelapa disulap menjadi beragam karya seni. Paling mencolok adalah, karya seni hasil kolaborasi masyarakat dan seniman dari beragam latar belakang.

Karya itu berupa gapura yang dibentuk dari sabut kelapa, pelepah dauh kelapa, dan janur.

Instalasi karya seni ini, akan mrnyambut pengunjung saat datang ke biennale babak pertama.

"Kalau seremoni ini, berupa merti dusun dengan kirab warga," ucapnya.

Andi menjelaskan, seremoni pembukaan Biennale Babak 1 digelar dengan kegiatan merti dusun.

Sejumlah tiga gunungan diperebutkan dalam kirab. Mengangkat potensi lokal, gunungan juga membawa produk olahan kelapa berupa wingko hasil produksi masyarakat.

Kirab dilakukan dengan berjalan kaki sejauh dua kilometer. Rutenya merupakan gang-gang padukuhan yang dipenuhi pemukiman warga.

Rute ini, juga menjadi puluhan karya seni dari beragam seniman baik dalam ataupun luar negeri.

Sehingga, pengunjung yang hendak melihat karya seni dapat menikmati karya dengan berjalan kaki keliling padukuhan.

Sementara itu, salah satu Seniman asal Kulon Progo Teguh Paino bersyukur dapat ikut serta dalam Biennale 18. Lantaran, kegiatan itu merupakan wujud serta seniman dalam mengangkat potensi lokal daerah.

"Hasil karya seni dari seniman Kulon Progo kebanyakan berupa kolaborasi dengan masyarakat," ucapnya.

Teguh menjelaskan, karya seni gapura dari bahan serba pohon kelapa menjadi contoh hasil kolaborasi.

Sebanyak 20 gapura, berasal dari sabut kelapa, batok kelapa dan pelepahnya akan menyambut pengunjung.

Seniman Kulon Progo juga menangkap keaslian wilayah Boro II dengan mengerjakan instalasi seni berupa Kitiran.

Labtaran, wilayah tersebut memiliki banyak angin yang bisa dimanfaatkan sebagai karya seni. (gas)

Editor : Bahana.
#Kulon Progo #merti dusun #Biennale