KULON PROGO - Isu anak putus sekolah di Bumi Binangun menjadi pokok pembahasan Kongres Anak ke-16.
Lantaran, hasil temuan menunjukkan hak anak untuk memperoleh pendidikan belum benar terfasilitasi.
Ketua Forum Anak Kulon Progo Muchtar Panji Wijaya menyampaikan, pihaknya telah mendapat informasi banyaknya anak putus sekolah.
Hal itu, memantik rasa keprihatinan mereka. Membuat isu itu menjadi pembahasan dalam kongres yang digelar setiap setahun sekali.
"Ini kami merumuskan terkait isu-isu anak, salah satunya di tahun ini terdapat temuan anak putus sekolah," ucap Panji, Senin (12/5/2025).
Panji menyampaikan, anak putus sekolah telah tercatat di dinas terkait.
Kebanyakan anak mengalami putus sekolah setelah lulus SMP.
Catatan ini menjadikan wajib belajar 12 tahun belum berjalan baik di Kulon Progo.
Selain menyoroti perihal anak putus sekolah, Kongres Anak Kulon Progo juga menyoroti wilayah kawasan tanpa asap rokok.
Temuan pihaknya, menunjukkan banyak kawasan yang tak diperuntukan untuk merokok justru ditemukan puntung rokok.
"Di Alwa kami menemukan, khususnya area bermain banyak puntung yang ditemukan," ucapnya.
Hasil perumusan masalah dalam kongres akan disampaikan ke pemerintah kabupaten.
Sebab, pemkab memiliki fungsi memfasilitasi suara anak.
Dalam kasus ini, beberapa regulasi berhasil dicetuskan setelah kongres anak berlangsung. Salah satu regulasi berupa dispensasi nikah.
Selain itu, hasil kongres juga akan diserap Forum Anak Daerah (FAD) DIY.
Setelah penyerapan aspirasi, FAD akan berfokus menelurkan 20 suara anak di daerah. Suara tersebut akan diperjuangkan di taraf nasional.
Sebelumnya, perihal anak putus sekolah di Kulon Progo sempat menjadi sorotan.
Kepala Balai Dikmen Kulon Progo Heru Santosa menyampaikan, kasus putus sekolah di Bumi Binangun telah dicatat dalam data Pusdatin.
Terdapat 319 anak putus sekolah di sepanjang tahun 2024.
"Data ini masih perlu pencocokan ke lapangan," ucapnya.
Kendati telah menyimpulkan adanya ratusan anak yang putus sekolah, pihaknya perlu verifikasi lapangan.
Verifikasi dijadwalkan di tahun ini, dengan menyasar langsung anak putus sekolah.
Tujuannya, untuk mengidentifikasi masalah yang dialami anak putus sekolah. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva