KULON PROGO - Sistem palang pintu underpass Yogyakarta International Airport (YIA) rusak. Kerusakan berpotensi mengganggu alur mitigasi kebencanaan, terutama tsunami.
"Yang rusak bukan (early warning system) EWS-nya, tetapi sistem palang penutup," ucap Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Jogjakarta Warjono Selasa (18/3).
Warjono menyampaikan, palang pintu penutup merupakan sistem yang terintegrasi dengan EWS. Ketika terjadi gempa yang berpotensi tsunami, EWS akan mengirimkan sinyal ke palang pintu.
Responsnya berupa penutupan underpass untuk mencegah kendaraan masuk ke dalam. Sedangkan kendaraan yang keluar tetap diperbolehkan menuju akses luar.
Palang pintu diaktifkan untuk mencegah kendaraan terjebak di dalam underpass saat terjadinya tsunami. Sebab jika terjebak di dalam, pengguna jalan tidak bisa menyelamatkan diri. Sehingga, penutupan menjadi tindakan pencegahan. Mengingat panjang underpass YIA mencapai 1,4 kilometer. "Kami telah bersurat, setelah ini akan segera diperbaiki PUPR," ucapnya.
Warjono menjelaskan, kewenangan underpass berada di Kementerian PUPR. Sedangkan, akses penutupan bisa dilakukan oleh BPBD atas dasar sinyal EWS milik BMKG.
Sebenarnya, mekanisme buka tutup palang underpass YIA telah rutin dilakukan oleh BPBD Kulon Progo. Setiap bulannya, di tanggal 26, simulasi rutin dilakukan. Sehingga, masyarakat diharapkan tak khawatir apabila melalui underpass YIA.
Mencuatnya isu tsunami menjelang Lebaran, turut dibenarkan oleh Warjono. Data BMKG menunjukkan adanya potensi tsunami. Akan tetapi, masyarakat diminta tak panik dengan isu tersebut. Lantaran, kepanikan justru merusak alur mitigasi bencana.
Sorotan ke underpass YIA, lanjutnya, muncul karena keberadaannya berada di dekat laut. Selain itu, underpass berada di bawah ketinggian air laut.
Baca Juga: Daya Beli Masyarakat Menurun, Berburu Baju Lebaran Bukan Jadi Budaya Lagi
Operator Peringatan Dini BPBD Kulon Progo Susila menyebut, terdapat mekanisme langsung dan manual untuk buka-tutup palang pintu underpass.
Menurut Susila, mekanisme langsung digunakan saat darurat. Antara peringatan alarm dan sistem penutup, diaktifkan hanya dengan satu tombol. Sedangkan sistem manual, diperlukan beberapa langkah untuk menutup dan mengaktifkan alarm.
Baca Juga: Waspadai Longsor Susulan! Muncul Retakan Muncul di Bukit Clongop Gunungkidul
"Kalau untuk simulasi, kami biasanya menggunakan cara manual," ucap Susila.
Cara manual, disebut lebih sesuai bila untuk simulasi. Karena menyesuaikan dengan kondisi jalan. Saat simulasi, alarm terlebih dahulu diaktifkan, kemudian dilanjutkan pengumuman dari operator. Pengumuman tersebut dilakukan untuk memberitahu pengguna jalan apabila saat itu tengah melaksanakan simulasi. Selanjutnya, operator akan mengaktifkan sistem penutup palang.
"Biasanya simulasi hanya berkisar 10 menit," ucap Susila.
Dia menjelaskan, apabila terjadi bencana pengumuman akan digantikan dengan peringatan. Yakni berisi rekaman suara dengan tiga bahasa. Yaitu bahasa Indonesia, Jawa, dan Inggris. (gas/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita