Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Realisasi Tertunda, Pembangunan Bendung Tinalah Kembali Dibahas DPRD Kulon Progo

Anom Bagaskoro • Selasa, 4 Maret 2025 | 21:42 WIB
HATI-HATI: Warga sekitar menyebrang dengan berjalan kaki melewati derasnya Sungai Tinalah. 
HATI-HATI: Warga sekitar menyebrang dengan berjalan kaki melewati derasnya Sungai Tinalah. 

KULON PROGO - Wacana pembangunan Bendung Tinalah kembali dibahas di kursi legeslatif.

Pembangunan bendung ini hampir terealisasi di tahun 2016 silam.

Namun, berujung kegagalan akibat konflik sosial yang ada.

Wakil Ketua DPRD Kulon Progo Suharto menyampaikan, wacana pembangunan Bendung Tinalah memang kembali bergulir di kursi dewan.

Lantaran, kajian di pihak legeslatif menghasilkan pentingnya infrastruktur bendungan.

"Saat kemarau, banyak lahan produktif yang tak bisa ditanami," ucap Suharto, Selasa (4/3/2025).

Politisi PKB ini menyampaikan, saat kemarau banyak lahan pertanian yang tak bisa diolah.

Lantaran, suplai air irigasi tak mencukupi untuk pengairan selama setahun penuh.

Padahal lahan pertanian itu, tergolong potensial seperti wilayah Kapanewon Pengasih, Nanggulan, dan Samigaluh.

Saat ini kondisi debit air yang diperoleh dari saluran induk Kalibawang dinilai belum mencukupi.

Lantaran, saat kemarau debit air cenderung mengalami penurunan.

Membuat beberapa wilayah yang seharusnya dapat panen hingga 3 kali, hanya bisa 2 kali panen.

"Memang pembangunan bendung sempat ditolak oleh masyarakat," ucapnya.

Suharto menjelaskan, di tahun 2016 Bendung Tinalah telah mencapai kajian dan menginjak pelaksanaan.

Sayangnya, saat itu masyarakat sekitar menolak.

Lantaran, masyarakat menyangka bendung akan mengakibatkan penggusuran besar-besaran.

Bayangan masyarakat saat itu, bendungan akan mirip seperti Waduk Sermo yang menghabiskan lahan beberapa padukuhan.

Membuat mata pencaharian dan tempat tinggal masyarakat terpaksa digusur.

Hal itulah yang memantik penolakan.

"Sekarang sudah banyak masyarakat yang tahu, bendung itu sifatnya untuk mengalihkan air," ucapnya.

Pembangunan bendung dilakukan untuk mengalihkan sebagian aliran air Sungai Tinalah untuk mencukupi kebutuhan air pertanian.

Bukan seperti gambaran waduk yang menampung air sebanyak mungkin.

Senada dengan Suharto, Kepala Bidang Sumber Daya Air DPUPKP Kulon Progo Hadi Priyanto membenarkan kurangnya kebuthan air untuk irigasi.

Saat ini saluran primer Kalibawang hanya mampu mengalirkan 5 kubik air per detik.

"Idealnya 8 kubik, untuk menyuplai kebutuhan air dan masa tanam," ujarnya.

Hadi menyampaikan, lahan pertanian di Kulon Progo masih banyak menerapkan dua kali tanam.

Sebab, suplai air irigasi belum mampu menjangkau seluruh area.

Terutama area hilir, seperti jangkaran, dan dataran rendah seperti Kapanewon Pengasih. (gas)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#realisasi #Kulon Progo #DPRD Kulon Progo #tertunda #DPUPKP Kulon Progo #Pembangunan Bendung Tinalah #Samigaluh