KULON PROGO - Berdaya, itulah kata yang terus diusahakan oleh Sanggar Sri Panglaras. Kata ini cukup luas artiannya jika dilihat dari semangat sanggar yang ingin memberdayakan para penyandang disabilitas. Kelompok yang kerap kali dianggap memiliki keterbatasan itu justru mendapat apresiasi tinggi berkat usaha sanggar ini.
Rampak gerakan dengan perpaduan alat musik menyambut kedatangan Radar Jogja di ruang latihan Sanggar Sri Panglaras, Padukuhan Pripih, Kalurahan Hargomulyo, Kapanewon Kokap, Selasa (10/13). Gerakan kompak dan dapat menarik pandangan mata penonton, tanpa menghiraukan latar belakang mereka.
Koran ini sempat kaget saat mendapat informasi beberapa penari merupakan kaum difabel, tunarungu. Penasaran dengan informasi itu, kemudian bertanya ke beberapa orang yang telah mengetahui seluk beluk sanggar. Ternyata memang benar, beberapa penari merupakan difabel yang memiliki hambatan fisik dan sensorik.
Di balik kesuksesan sanggar ini, terdapat pasangan suami istri Surajiyo, 60, dan Sri Wuryanti, 58. "Kami memiliki kelompok penari difabel dengan tujuan memberdayakan," ungkap Surajiyo saat ditemui Selasa (10/12).
Kesuksesan mereka dalam memberdayakan penyandang disabilitas berawal saat pendirian sanggar tahun 2000. Sebenarnya sanggar telah didirikan di tahun 1991 dengan nama Sanggar Sri Panglaras. Di tahun 90-an, angguk mulai banyak ditinggalkan kaum muda, karena terdegradasi oleh zaman.
Tak ingin berpangku tangan, sanggar berinovasi dengan membuat tari angguk yang dimainkan perempuan. Dulunya tari angguk secara khusus dimainkan kaum adam. Sehingga inovasi ini menggemparkan duni kebudayaan dan mulai banyak diapresiasi masyarakat.
Mulai dikenal masyarakat, perlahan sanggar mulai memainkan beragam komoditas tarian dengan variasi penari dari berbagai umur. Sayangnya, langkah sanggar terhenti di tahun 1998 akibat krisis moneter (krismon). Akibat itu, sanggar dibubarkan dan menghilang dari permukaan.
Melihat kondisi ini, Surajiyo bersama istri membangkitkan kembali kejayaan dengan membangun Sanggar Sri Panglaras, yang tak lepas dari cikal bakal sanggar sebelumnya. "Kami mulai mengembangkan inovasi, baik variasi umur dan sajian tarian," ujarnya.
Berkat keuletan pasutri ini, lambat laun nama sanggar mereka mulai dikenal. Tak puas dengan capaian itu, keduanya lantas menggagas kelompok penari difabel. Latar belakang pembentukannya atas dasar rasa keprihatinan banyaknya kaum difabel yang tidak diakui masyarakat. Melalui kegiatan seni dan budaya, pasutri ini yakin mampu memberdayakan kaum difabel.
Tentu dalam mewujudkan visi itu, jalan pasutri ini tak semulus biasanya. Langkah mereka diawali dengan membuka kursus tari bagi anak berkebutuhan khusus (ABK). Tanpa mematok harga, kursus memperbolehkan anak berkebutuhan khusus untuk mempelajari seni budaya.
Di kala itu, masih banyak orang tua ABK yang kesulitan mencari tempat menyalurkan minat dan bakat anak mereka. Sehingga, sanggar itu langsung diminati. Terlebih tak ada patokan harga khusus semakin tak memberatkan orangtua.
Kepedulian mereka dengan kaum difabel terus berlanjut. Pasutri ini bahkan rela menjemput anak berkebutuhan khusus yang berdomisili di Magelang ataupun Purworejo untuk sekadar berlatih atau pentas.
Tak sampai situ, dalam melatih ABK juga membutuhkan penanganan berbeda. Surajiyo menyampaikan, setiap ABK memerlukan penyesuaian dengan metode pembelajaran. Seperti tunarungu, ABK biasanya diajak peka dengan resonansi dan getaran suara dari alat musik. Dengan tujuan tarian dapat rampak dari awal hingga akhir. "Sekarang sudah ada puluhan kaum difabel, ada yang jadi penari ataupun penabuh gamelan," tuturnya.
Berkat dedikasinya untuk memberdayakan kaum difabel, Sanggar Sri Panglaras mulai dikenal berbagai pihak. Hingga saat ini visi pemberdayaan tidak ditinggalkan. Bahkan di tahun ini tercatat 30-an pemain dari penyandang disabilitas ikut serta dalam sanggar. (laz)
Editor : Heru Pratomo